Hoaks Jadi Virus bagi Masyarakat
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:00 WIB

SM 26_01_2019 Hoak jadi virus masyarakat

SEMARANG- Polda Jateng telah berkoordinasi dengan pihakpihak terkait, untuk mengantisipasi hoaks atau informasi yang tidak benar. Haoks harus diperangi karena telah menjadi virus bagi masyarakat.

Pernyataan ini diungkapkan Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Agung Prabowo, dalam seminar Anti Hoax Movement yang diselenggarakan di gedung Albertus, kampus Unika Soegijapranata Semarang, Jumat (25/1).

”Koordinasi dengan instansi terkait seperti Kementerian Kominfo dan pihak terkait lainnya telah dilakukan. Kolaborasi ini penting, kami harus bahu-membahu supaya jangan sampai hoaks yang jadi virus masyarakat itu menyebar,” jelas Agung, yang menjadi
narasumber seminar.

Sosialisasi selalu dilakukan, dengan membuat postingan seperti video, foto, atau narasi, supaya masyarakat tidak menyebarkan hoaks. Warganet juga diminta untuk mencermati kabar yang beredar melalui media sosial (medsos).

Jika tidak paham atau tidak tahu tentang kebenarannya, maka sebaiknya tidak perlu dibagikan ke rekan pertemanannya. Masyarakat pun diwanti-wanti agar jangan terkecoh dengan hoaks, sebab banyak informasi yang ujung-ujungnya merupakan bentuk penipuan.

Seminar ini diselenggarakan program studi Komunikasi, Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Unika kerja sama United Board for Christian Higher Education in Asia.

Narasumber lain yang dihadirkan ialah Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jateng Dadang Somantri, Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Farid Zamroni, dan Ketua Kegiatan Service Learning Antihoax Movement Unika, Rika Saraswati MHum PhD.

Menurut Farid, masyarakat jangan mudah percaya pada hoaks. Karena itu setiap kali menerima informasi dari media sosial, perlu dilihat sumber berita atau link-nya. Setelah itu cari informasi itu di laman resmi dari instansi, soal kebenaran kabar berita tersebut.

Sementara itu, Ketua Prodi Komunikasi, FHK Unika Abraham Wahyu Nugroho SI Kom MA, menegaskan seminar ini digelar sebagai bentuk keprihatinan atas kabar hoaks yang berdampak luar biasa.

”Kami prihatin dan berupaya mencari solusi dengan melakukan penelitian ke anak muda. Empat sekolah di adakan pelatihan Service Learning, seperti SMA Sint Louise, SMASanto Mikhael, SMATeresiana, dan sebuah home schooling di Semarang,” tandasnya.

Mahasiswa diberikan materi untuk mengajak siswa SMAbelajar bersama mengetahui apa itu hoaks.

Hasil penelitian, menurutnya, gerakan anti hoaks itu penting bagi mereka. Ia berpikir anak muda memiliki posisi strategis untuk mengubah situasi, terlebih lagi pelaku hoaks itu generasi muda.

Suara Merdeka 26 Janauri 2019 hal. 20

Kategori: