Dua Mahasiswa Unika Ikuti Global Goals Mun 2019 di Malaysia
Rabu, 23 Januari 2019 | 8:59 WIB

image

Dua mahasiswa Unika Soegijapranata,  Jonatan Haryono dan Novani Sutikno, mengikuti  konferensi internasional Global Goals Mun (Global Goals Model United Nation) 2019 pada 11 sampai 14 Januari 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam konferensi ini Jonatan dan Novani mengasah kemampuan komunikasi dan keterampilan diplomatik mereka sesuai dengan tema yang ditugaskan kepada mereka yang mengacu pada 17 SDG (Sustainable Development Goals) goals.

Novani mengatakan, dalam acara konferensi yang dinaungi oleh United Nations atau PBB ini, ia mendapat tugas untuk membahas tentang Zero Hunger yang merupakan goal ke-2. Menurutnya, sebelum berangkat ke Malaysia, dia dalam acara kampus sempat terlibat dalam kegiatan zero hunger untuk memperingati hari pangan sedunia.

“Dan kebetulan dalam acara  konferensi Global Goals Mun 2019 ini juga membahas tentang zero hunger. Jadi kesempatan yang baik ini betul-betul saya manfaatkan untuk mengasah keilmuan saya tentang zero hunger dari negara lain,” katanya.

Sedangkan Jonatan yang juga sebagai peserta dalam konferensi internasional Global Goals Mun 2019, menerangkan, awal ketertarikannya mengikuti acara konferensi ini memang menjadi salah satu targetnya selama kuliah di Unika.  Sebab, sebelumnya ada kakak kelas dari Unika yang pernah mengikuti konferensi Global Goals Mun tetapi saat itu penyelenggaraannya di London, Inggris.

“Sementara konferensi yang kemarin terlaksana lokasinya di Kuala Lumpur Malaysia,  Jadi jaraknya tidak terlalu jauh dengan Indonesia. Dalam konferensi ini saya dituntut untuk berpikir lebih luas dan berani untuk mengembangkan kemampuan saya. Sedangkan yang saya bahas dalam konferensi ini adalah zero hunger di negara Afganistan,” imbuhnya.

Dia menerangkan, dengan membahas zero hunger di negara Afganistan, menjadi tantangannya. Sebab, dirinya harus mengetahui dan mempelajari tentang kondisi negara Afganistan yang situasinya sangat kompleks dan luas.

“Dan dengan sendirinya saya juga dituntut untuk belajar psikologi perang, serta mengetahui strategi perang dari milisi Taliban maupun Afganistan yang menggunakan kelaparan ini sebagai senjata mereka dengan korban yang tentu saja adalah warga sipil,” tandasnya.

http://ayosemarang.com

Kategori: