Pentas Wayang Orang Didukung Teknologi Digital
Senin, 3 Desember 2018 | 9:42 WIB

SM 3_12_2018 Pentas Wayang Orang Didukung Teknologi Digital
BATARA Ismaya atau dikenal sebagai Semar ditugaskan ayahnya, Sang Hyang Wenang, untuk turun ke bumi. Semar memiliki seorang istri bernama Baran Kanastren. Namun, sebagai dewa mereka berdua tidak bisa hidup dalam satu rumah.

Pertunjukan wayang orang dengan lakon "Semar Boyong" ini digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (1/12) malam. Ada yang berbeda dari pentas wayang orang yang ditampilkan Ngesti Pandawa ini. Pergelaran kali ini didukung teknologi digital. Latar panggung dibuat lebih moderen, menggunakan papan digital.

Setting waktu dan tempat dapat seketika diganti-ganti sesuai dengan alur cerita. Lampu proyektor sebagai penggambaran cerita yang menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris pun menyorot di kanan-kiri panggung.

Ide penataan panggung yang diprakarsai Unika Soegijapranata ini memberikan pengalaman baru bagi para penonton. Acara ini awalnya merupakan bagian dari Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi yang didanai sejak tahun lalu oleh Kemenristekdikti. Mereka mencoba mengembangkan model pertunjukan kesenian wayang orang dengan memanfaatkan teknologi.

Perlu Inovasi
Ketua Peneliti sekaligus Rektor Unika Soegijapranata, Prof Ridwan Sanjaya menyampaikan, penggunaan teknologi informasi dalam dua tahun terakhir ini telah membuka akses untuk wisatawan dan jejaring yang lebih luas.

"Dalam survei yang dilakukan di kalangan anak muda oleh peneliti tentang pertunjukan kesenian, didapatkan bahwa pertunjukan wayang orang yang diselenggarakan Ngesti Pandawa punya daya tarik yang kuat. Karena itu, perlu inovasi," ujar Ridwan Sanjaya.

Pentas ini, sambungnya, merupakan bagian dan sentuhan jangka pendek yang diharapkan dapat mengubah perspektif masyarakat terhadap pertunjukan wayang orang. Sentuhan jangka pendek seperti penambahan, teknologi, tampilan narasi dua bahasa, pencahayaan, sistem suara, dan pengaturan suhu ruang.

Pertunjukan yang digelar dalam rangka hari HIV-AIDS sedunia itu dibuka Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Dihadiri CEO Suara Merdeka Network, Kukrit Suryo Wicaksono. Beberapa mahasiswa asing juga terlihat mengisi bangku penonton. Wali Kota Hendrar Prihadi dalam sambutannya mengatakan, pentas kali ini akan menjadi standardisasi pertunjukan wayang orang.

Berdasarkan masukan dari Unika Soegijapranata, wayang orang ini menjadi pertunjukan yang kreatif, inovatif.

â–ºSuara Merdeka 3 Desember 2018 hal. 24

Kategori: