Passion di Bidang Psikologi Klinis
Jumat, 14 Desember 2018 | 9:45 WIB

“Life is like a box of chocolate, you never know what will you get.” Itulah moto yang dipegang teguh oleh Anita Susanti, wisudawati terbaik prodi Magister Profesi Psikologi periode wisuda Desember 2018, dengan IPK 3,65.  Perempuan kelahiran 7 Agustus 1990 ini mengibaratkan kehidupan bagaikan sebuah kotak cokelat yang random. Kita tidak akan tahu rasa yang akan kita dapat kecuali telah membuka kotak tersebut. “Karena hidup itu tidak bisa ditebak, maka harus selalu bersyukur karena itulah yang paling penting,” ungkap Anita.

Dalam menjalani studi Magister Profesi Psikologi, Anita mengungkapkan bahwa ia tidak mengalami kesulitan sama sekali. Baginya segala studi beserta tugasnya memang sudah menjadi pilihannya, jadi harus dijalani dengan sebaik-baiknya seperti air mengalir. “Tapi kalau ingin berbicara mengenai kesulitan, sebenarnya intervensi dan praktek sih yang agak sulit,” pungkasnya.

Namun bagi perempuan yang memiliki passion di bidang psikologi klinis ini, praktek dan intervensi tidak menjadi halangan dalam menjalani studinya. “Karena aku nyaman aja dengan dinamika praktek: melakukan observasi, diagnosis, dan intervensi. Memang passionku dari dulu di sini, aku ingin membantu lebih banyak orang,” jawab Anita.

Berbicara mengenai tesis, lulusan Universitas Muria Kudus ini mengangkat ‘Dinamika Gangguan Afektif Musiman Pada Wanita Dewasa Muda’ sebagai judul tesisnya. Pemilihan judul tesis tersebut tidak lepas dari dinamika pergaulan yang dialami Anita. “Jadi aku sering bertemu dengan  teman-teman yang mengalami depresi. Selain itu aku juga punya seorang teman dekat yang juga mengalami depresi berat. Melihat hal-hal seperti itu, aku tergerak untuk membantu mereka. Maka aku membuat tesis dengan tema depresi musiman dan subjeknya adalah temanku sendiri,” paparnya.

Menurutnya, depresi menjadi silent killer bagi kehidupan manusia. “Kalau di penyakit biologis, kita mengenal penyakit jantung sebagai silent killer kita. Kalau di gangguan psikologis, depresi adalah silent killer-nya. Ini karena orang depresi tidak bisa langsung terlihat depresi. Kalau bertemu orang lain ya nampak biasa saja. Tapi kalau sudah sendiri lagi, situasi depresinya baru terlihat,” jelas Anita. “Maka dari itu harus dibantu. Sebenarnya tidak hanya depresi, semua gangguan psikologis harus kita bantu,” ungkap Anita. Bagi Anita, cara paling baik untuk membantu seseorang lepas dari depresi adalah perhatian, care.

“Sebenarnya ada banyak cara untuk membantu seseorang keluar dari depresi. Tapi cara yang paling baik ialah dengan memberikan perhatian, care. Dengan memperhatikan seseorang secara lebih, kita membuat orang itu merasa berguna, membuat orang itu merasa dibutuhkan. Dengan itu kita membantu orang tersebut keluar dari depresinya,” tambah Anita. Namun ia tetap memberi catatan bahwa kemauan seseorang untuk bisa keluar dari depresi itulah yang mempengaruhi. Bila seorang individu sudah membulatkan tekad untuk keluar dari permasalahannya itulah, intervensi yang dilakukan akan semakin efektif dan memberikan hasil.

Tidak hanya studi yang baik, Anita juga pernah memiliki beberapa pengalaman bekerja, seperti menjadi asisten psikolog dan pembina di salah satu lembaga negara. Tidak hanya itu, ia pun memiliki berbagai pengalaman observasi, seperti observasi ke Nusakambangan, panti jompo, pusat rehabilitasi pecandu narkotika, serta komunitas LGBT.

Mengenai kepedulian itu sendiri, perempuan kelahiran Pati ini menyatakan ingin membangun sebuah shelter, sebuah tempat yang dapat menampung mereka yang memiliki gangguan psikologis dan kurang beruntung. “Itu mimpi besarku ke depan. Aku ingin membantu orang-orang yang kurang beruntung, yang tidak memiliki kemampuan materil cukup untuk pergi ke psikolog. Aku ingin membantu mereka,” pungkas Anita. Walaupun jalan itu masih panjang, tapi Anita tidak takut terhadap rintangan dan kegagalan yang menantinya. “Sebab bagiku, kegagalan itu akan benar-benar gagal kalau kita berhenti. Tapi bila kita gagal dan tetap melangkah, niscaya kita akan menikmati keberhasilan, buah kegagalan itu,” Anita mengakhiri. (ffi)

Kategori: ,