Lestarikan Ngesti Pandawa dengan Teknologi Digital
Senin, 3 Desember 2018 | 8:45 WIB

image

Kemajuan teknologi tidak selalu menggerus budaya yang telah lama ada, demikian juga generasi muda (alpha) tidak mengetahui adanya pementasan budaya adiluhung yang setiap pekan dilakukan oleh kelompok Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa karena memang tidak memiliki informasi mengenai hal tersebut. Tim peneliti Unika Soegijapranata berusaha mempertahankan warisan budaya, pementasan WO Ngesti Pandawa dengan sentuhan teknologi.

Sebelumnya tim peneliti, sudah melakukan berbagai upaya agar informasi mengenai keberadaan WO Ngesti Pandawa dapat diketahui oleh semua elemen masyarakat, terutama generasi saat ini sebagai penerus pada masa akan datang. Mereka meluncurkan website mengenai pementasan WO Ngesti Pandawa sekaligus aplikasi di smartphone, juga berbagai cara lainnya di internet termasuk menjual tiket secara online sebagai terobosan solusi bagi masyarakat yang belum mengetahui bagaimana cara membeli tiket pertunjukkan tersebut secara offline.

Kali ini tim peneliti berusaha mengaplikasikan hasil studi ke beberapa pementasan kelas dunia yang telah sukses menggaet penonton di Thailand dan juga di Bali. Mereka memasang layar LED besar di belakang panggung dan akan menampilkan gambar animasi sesuai dengan situasi atau latar belakang cerita sehingga lebih menarik untuk disimak karena tidak lagi monoton.

Ketua tim peneliti Prof Ridwan Sanjaya menyatakan, pagelaran kali ini menggunakan dukungan teknologi digital sehingga memberikan pengalaman yang baru bagi penonton dan menjadikan pertunjukan kali ini menjadi berbeda dengan sebelumnya. Gambar animasi yang muncul di belakang panggung dan selalu berganti setiap latar belakang cerita, telah lebih dahulu diset sesuai kebutuhan.

“Kami juga berusaha menghadirkan tata cahaya yang lebih menarik, semuanya dilakukan agar pementasan WO Ngesti Pandawa bisa seperti di Siam Niramit dan di Khon Sala Chalermkrung Thailand atau Devdan di Bali, pementasan kelas dunia,” kata Rektor Unika Soegijapranata itu sebelum pementasan di Gedung Ki Narto Sabdo, Sabtu (1/12) malam.

Pengembangan model pertunjukan kesenian Wayang Orang dengan memanfaatkan teknologi bisa menjadi jawaban dalam pengembangan industry kreatif kesenian pada masa mendatang. Apa yang ditampilkan pada malam itu menurut Ridwan merupakan bagian dari sentuhan jangka pendek yang diharapkan dapat mengubah perspektif masyarakat terhadap pertunjukan Wayang Orang di kota Semarang. Sentuhan jangka pendek seperti penambahan teknologi, tampilan narasi dua bahasa, pencahayaan, sistem suara, dan pengaturan suhu ruang, dapat dilakukan tanpa membutuhkan waktu yang terlalu lama.

Sedangkan sentuhan jangka panjang seperti halnya skenario, ketrampilan tari, dan kualitas pertunjukan merupakan bagian yang harus selalu ditingkatkan sampai mencapai standar yang diinginkan oleh masyarakat. Dengan begitu, pertunjukan Wayang Orang bukan hanya dapat diakses secara mudah oleh generasi saat ini, tetapi juga tampil dengan tata panggung yang memikat, dan didukung oleh kualitas pertunjukan yang memukau penonton.

Pagelaran Wayang Orang dengan lakon Semar Boyong dengan sentuhan teknologi tersebut, diapresiasi oleh Sekretaris Daerah Jawa Tengah Dr Sri Puryono. Ia menyebut pagelaran wayang orang kali ini menjadi istimewa karena dikemas dengan sentuhan teknologi digital, sehingga penampilan panggung menjadi lebih hidup, menarik dan memukau.

Sementara Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, pemerintah berusaha akan membantu mengembangkan dan kelestarian pementasan WO Ngesti Pandawa dari usulan yang disampaikan oleh Unika Soegijapranata dalam waktu tidak terlalu lama. “Ini akan menjadi sebuah standarisasi pertunjukan wayang orang ke depannya. Kami melihat masukan dari Unika Soegijapranata ini sebagai kreatif dan inovatif,” tambahnya.

Pertunjukan WO Ngesti Pandawa di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang juga dihadiri CEO Suara Merdeka Kukrit Suryo Wicaksono.

https://www.suaramerdeka.com

Kategori: