Kembalinya Hakikat Kolom Era Modern
Selasa, 4 Desember 2018 | 9:46 WIB

SM 2_12_2018 Kembalinya Hakikat Kolom Era Modern

Oleh: Robert Rianto Widjaja

 

Kolom sebagai salah satu elemen bangunan di dalam arsitektur, memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi utama kolom adalah sebagai penopang beban yang dalam kinerjanya adalah menyalurkan beban di bagian atas menuju penumpu beban di bawahnya (fondasi).

Sejak manusia primitif sampai saat, ini elemen kolom pada bangunan selalu ada dan tak terpisahkan dari fisik karya arsitektur. Peranan kolom dalm arsitektur mengalami pasang surut, sehingga sangat menarik untuk dicermati. Belum dapat dipastikan, kapan manusia mulai menciptakan perbedaan ruang dan mulai berarsitektur.

Belum dapat dipastikan juga kapan manusia mulai mengenal kolom sebagai bagian dari elemen huniannya. Snyder (1991) membahas bahwa banyak tanda yang memberikan informasi tentang hunian awal manusia.

Pada tahun 2500 SM telah diketemukan serangkaian bangunan kayu yang memiliki garis tengah selebar 130 kaki yang ditunjang oleh oleh barisan pilar konsentris, membentuk sebuah kerucut. Pada jaman tersebut manusia sudah mengenal pilar( dapat diartikan :kolom) sebagai bagian dari karya bersama mereka.

Memasuki era pra modern (6 SM) di Eropa muncul kebudayaan Yunani yang begitu menonjol. Pada masanya mulai di dapat data tentang kebudayaan manusia yang mulai berpikir. Arsitektur mulai muncul dan dipikirkan (sekalipun pada waktu itu belum ada istilah ilmu arsitektur).

Pada masa kejayaan Yunani peranan kolom mendapat tempat yang sangat penting dan terhormat. Kolomyang tadinya hanya dikenal sebagai elemen bangunan yang berperan fungsional, maka dalam era kejayaan ini, kolom memiliki peranan yang lebih dari itu.Kolom mulai memiliki peran sebagai elemen estetika dan makna (disamping juga fungsional). Vitruvius, di dalam bukunya The Ten Books on Architecture, menulis tentang kolom sebagai bagian penting dari bentukan bangunan arsitektur.

Dan lebih jauh lagi, Vitruvius menyampaikan keterukuran baku bagi kolom (doric, ionic dan Corinthian), sekaligus menentukan tipologi bangunan (temple) berdasarkan jumlah kolom dan jarak kolom. Kolom sebagai elemen bangunan mulai berperanan sebagai elemen pembentuk ruang dengan kualitas dan makna tertentu.

Lahirnya agama Nasrani di awal abad Masehi menyebabkan perubahan cara pandang tentang kehidupan yang tadinya bersifat kosmosentris menjadi teosentris. Hal ini merubah banyak aspek kehidupan masyarakat Eropa dan mengantarnya memasuki masa abad pertengahan/abad gelap (4M-14M).

Kurun waktu 1000 tahun dengan pengabdian penuh kepada Tuhan, telah memberikan perubahan pada bentukan fisik arsitektur yang berkembang pada saat itu.

Bangunan berkolom mulai diinterpretasikan berbeda. Semua bentukan fisik, karya dan pekerjaan pada abad pertengahan diarahkan untukmemuliakan Tuhan. Kolom pun memiliki makna untuk memuliakan Tuhan.

Peranan kolom menjadi bertambah seiring dengan banyaknya bangunan gereja yang dibangun pada masa tersebut. Kolom sebagai elemen bangunanberlomba-lomba menjadi semakin tinggi dan mencapai kesan transendennya ketika bersenyawa dengan cahaya illahi (diafan) dalam bangunan gereja yang bergaya gothic.

Teknologi pada waktu itu belum memadai untuk jangkauan ketinggian yang diharapkan, konstruksi kolom pun mengalami perubahan dan menemukan morfologinya yang baru dengan munculnya Flying buttresses.

Puncak Apresiasi
Makna kolom terus berkembang pada abad pertengahan dan mencapai puncak apresiasinya ketika figure manusia ìdisatukanî dalam fungsi kolom. Kolom dipersonifikasikan sebagai manusia yang dalam tujuannya mencapai kesempurnaan.

Kolom mengalami perubahan morfologinya menjadi sangat romantik dan detail. Kolom dan Modernity Abad Pertengahan diakhiri oleh sebuah revolusi besar di Eropa yaitu Renaissance (14M).

Modernity mulai lahir pada masa ini dan menjadi awal munculnya berbagai aliran pemikiran dan karya seni di Eropa.Pola pikir teosentris mulai bergeser dan dikalahkan oleh rasionalitas dan idealism. Cara pandang yang berlaku adalah antroposentris (manusia sebagai pusat).

Seiring dengan pemikiran yang maju dengan pesat, maka berbagai penemuan penting dihasilkan setelah Renaisa\sance. Termasuk di dalamnya adalah teknologi bahan baja dan kaca yang selanjutnya di masa depan menjadi pemacu munculnya berbagai bentuk modern bagi arsitektur. Peran kolom pun berubah dan menemukan morfologinya yang baru.

Kolom seakan dikembalikan pada peranannya yang awal ketika manusia memulai kehidupan bermukimnya. Memasuki era abad 18 (abad pencerahan), para pemikir besar muncul dan memberi warna pada kehidupan yang semakin maju dan modern.

Banyak tantangan struktur dalam arsitektur terpecahkan dan dieksperimenkan secara gemilang. Kolom mengalami morfologinya yang sangat terpengaruh oleh perkembangan teknologi. Kolom ditantang untuk menjalankan fungsinya secara ekstrem.

Munculnya cantilever yang sangat panjang dan menyatunya kolom dengan bentuk bangunan menjadi contoh atraksi bagi kemajuan teknologi. Kolom juga menjadi eksperimen bagi keindahan struktur yang mengagumkan. Di era modern sejak abad 18 sampai abad 20.

Di mana kecemerlangan pemikiran, baik pemikiran di bidang teknologi maupun seni bertumbuh dengan pesat, arsitektur berlomba lomba mencari bentuk baru di tengahtengah simpang siur tanggapan terhadap modernitas (terutama teknologi).

Kolom sebagai bagian dari bangunan mengikuti perkembangan tersebut dan mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan sebelumnya. Kemajuan diberbagai bidang telah mempengaruhi gagasan bentuk dan kreatifitas berarsitektur.

Demi gagasan bentuk, tampilan kolom dapat ditiadakan sekalipun fungsinya tetap ada. Sebagian besar rumah tinggal tidak lagi ingin menampilkan kolom dari dindingnya, kolom dibuat menyatu dengan dindingnya. Hal serupa terjadi juga pada balok- balok beton yang mulai ditiadakan dan digantikan dengan plat.

 

Robert Rianto Widjaja, Staf pengajarArsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata, Wakil Ketua bidang Sinfar IAI Jateng

Suara Merdeka 2 Desember 2018 hal. 14, https://www.suaramerdeka.com/smcetak

Kategori: , ,