Kaji Self-Efficacy Pemegang Sabuk Hitam Karate
Jumat, 14 Desember 2018 | 9:42 WIB

Menjadi wisudawan terbaik tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Susana Adi Astuti. Wanita kelahiran Semarang, 29 Juli 1970 ini mengaku tak menyangka dapat menjadi wisudawan terbaik Magister Sains Psikologi pada wisuda periode III dengan IPK 3,91. Susana, begitu ia biasa disapa, menceritakan kisahnya mengapa memilih menekuni bidang Psikologi dan melanjutkan studi di Magister Sains Psikologi Unika Soegijapranata. “Saya tertarik untuk belajar psikologi yang mempelajari perilaku manusia, tetapi karena S1 saya bukan dari psikologi maka saya tidak dapat memilih profesi psikologi. Latar belakang S1 saya dari perikanan Undip. Maka dari itu saya memilih melanjutkan studi S2 di Magister Sains Psikologi yang dapat menerima mahasiswa dari latar belakang berbagai disiplin ilmu. Inilah keunggulan magister sains psikologi dan kebanyakan mahasiswanya juga sudah bekerja, sehingga kuliah sore hari juga menjadi pilihan,” ungkap Susana.

Dalam tesisnya, Susana mengangkat topik mengenai perilaku beladiri karate. Hal ini sejalan dengan kesibukannya saat ini sebagai pengajar dan praktisi beladiri karate sabuk hitam. Tesisnya yang berjudul “Pengaruh Self-efficacy terhadap Perilaku Beladiri Karate Usia Dewasa dengan Self-Determined Motivation sebagai intervening variable” dipilihnya karena keprihatinannya terhadap minat mengajar dari pemegang sabuk hitam karate yang mulai menurun. “Sebagai pemegang sabuk hitam karate, saya merasa prihatin bahwa saat ini jumlah karate-ka (praktisi beladiri karate) sabuk hitam yang mau menjadi pelatih semakin lama semakin menurun, dengan alasan karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, karena tidak ada waktu, atau karena merasa tidak mampu dan tidak percaya diri untuk mengajar. Padahal  sebagai seorang karate-ka sabuk hitam, mereka sebenarnya secara teknis sudah menguasai, tetapi justru tidak percaya diri dan merasa tidak mampu untuk mengajar,” terang Susana.

Untuk itu, Susana meneliti bagaimana rasa percaya diri seseorang berpengaruh terhadap perilaku beladiri karate, khususnya pada praktisi sabuk hitam karate. Hal ini juga dipengaruhi oleh motivasi orang tersebut, yang menjadi variabel perantara dalam penelitian tesisnya.

“Saya memasukkan variabel motivasi sebagai variabel perantara, yang artinya rasa percaya diri yang tinggi tidak menjamin karate-ka sabuk hitam otomatis menjadi pelatih, tanpa adanya motivasi dan tujuan yang jelas. Self-efficacy adalah keyakinan dan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Tujuan yang tidak jelas menyebabkan tidak adanya motivasi untuk melatih,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Kebanyakan karate-ka mempunyai tujuan untuk menjadi atlet dalam kompetisi pertandingan. Padahal aspek dari karate bukan hanya kompetisi, tetapi juga ada aspek kesehatan dan olahraga, serta untuk membentuk karakter melalui filosofi yang dipelajari dari karate. Filosofi inilah yang masih kurang dipelajari dalam karate, sehingga kebanyakan orang masih menganggap bahwa karate hanya untuk pertandingan saja. Padahal kompetisi atau pertandingan terbatas pada usia, sehingga karate-ka sabuk hitam yang sudah berusia dewasa berhenti melatih karate karena keterbatasan fisik dan umur mereka untuk melatih atlet. Padahal perlu diingat juga, bahwa sebenarnya tidak semua murid karate mempunyai tujuan untuk bertanding di kompetisi. Sehingga karate-ka sabuk hitam sebenarnya bisa melatih karate sebagai sarana kesehatan, bahkan untuk beladiri praktis. Dengan mengetahui tujuan yang jelas maka mereka akan termotivasi untuk tetap melatih walau sudah berusia dewasa,” jelas Susana.

Dalam menyelesaikan studinya, kendala tentu saja tak lepas dari perjuangannya. “Menurut saya kendala terbesar yang dihadapi adalah rasa malas dan menunda pekerjaan,” terangnya. Namun, hal itu tak menjadi alasan baginya untuk berhenti. “Sebisa mungkin dalam sehari saya pasti mengerjakan tesis meskipun hanya satu jam, itu lebih baik daripada ditunda terus-menerus dan akhirnya malah menumpuk. Selain itu, komitmen adalah kunci utamanya. Jadi sesibuk apapun kita dan semalas apapun rasanya, jika ada komitmen untuk menyelesaikan tesis, maka kita tentu akan berusaha menyelesaikannya. Komitmen adalah wujud dari rasa tanggung jawab kita, bahwa apa yang sudah kita mulai sebaiknya diselesaikan dengan semaksimal mungkin,” ungkap Susana.  Kendala lain yang dihadapinya adalah ketika menghadapi jalan buntu. “Kalau sudah tidak ada ide lagi, sedapat mungkin kita mencari solusi dengan orang yang tepat. Mungkin bertanya pada dosen, atau mencari buku, atau mengobrol dengan teman yang memang berkompeten,” lanjutnya.

Selama menempuh studi S2 di Magister Sains Psikologi Unika Soegijapranata, semua pengalaman selama kuliah adalah pengalaman yang mengesankan bagi Susana, di mana ia bisa bertemu dengan teman dari berbagai jurusan, berdiskusi, dan mempelajari ilmu yang baru. Kepada teman-teman mahasiswa yang masih berdinamika dalam kuliah, ia berpesan,  “Tetap semangat dan pantang menyerah. Sesulit apapun kendala yang dihadapi, pasti ada jalan keluar dan tentu saja dengan diiringi doa,” pungkasnya. (B.Agth)

Kategori: ,