Unika Tuan Rumah Penyelenggaraan ISC 2018
Kamis, 22 November 2018 | 12:36 WIB

Hari Pertama acara ISC 2018 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Tembalang Semarang, pada Rabu (21/11/2018)

 

Suatu kegiatan bersama telah diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata untuk para mahasiswa dari 20 perguruan tinggi katolik yang  tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) selama tiga hari mulai hari Kamis – Sabtu ( 21/11 – 23/11) yang dikemas dalam bentuk Intercultural Student Camp (ISC) lintas kampus dengan tema “Srawung Menuju Peradaban Kasih”.

Acara ISC 2018 yang diselenggarakan untuk yang keempat kalinya ini, untuk hari pertama diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Tembalang Semarang dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Tembalang Semarang, Kiai Haji Amin Maulana Budi Harjono dan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS)  Romo Aloysius Budi Purnomo Pr.

Dalam pengarahannya Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unika Soegijapranata Dr V  Kristina Ananingsih ST MSc mengemukakan maksud diselenggarakannya kegiatan ISC 2018. “Kegiatan ISC ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, diantaranya adalah membangun kesadaran peserta ISC APTIK 2018 untuk memiliki semangat srawung yang inklusif, inovatif, dan transformative serta menghadirkan pengalaman sinergi dalam keberagaman multikultural bagi peserta ISC APTIK 2018 dan akhirnya adalah mewujudkan peradaban kasih ditengah keberagaman multikultural melalui peserta ISC APTIK 2018.”

Sementara dalam paparannya, Kiai Budi sebagai salah satu narasumber mengemukakan bahwa peradaban kasih merupakan salah satu siasat untuk mewujudkan kebersamaan, saling guyup dan srawung. ”Kalau saya ingat Romo Budi itu saya jauh ingat Ibu Teresa dari Kalkuta yaitu bahwa Ibu Teresa itu melampaui primordial kekatolikannya karena dari Katolik mewujud dalam diri kemudian menjelma cinta dan akhirnya diekspresikan kepada lintas yang Dia atasi. Anda bisa bayangkan yang sakit lepra itu orang Hindu di gendong dan dimandikan serta yang sakit dipanggilkan dokter selanjutnya diobati, terus Muslim yang kena lepra juga diangkut atau dibopongbopong, itu adalah wujud ketulusan dan itu inspirasi bagi saya, sampai saya tulis dalam catatan buku saya serta saya sebut sebagai ‘Ibu cinta’, yang bisa tulus melampaui primordial kita.”

Selanjutnya dalam sesi acara tersebut para peserta juga menyaksikan tarian Sufi yang ditarikan oleh para santri sembari Romo Budi juga menayangkan tentang gambaran persaudaraan kasih yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan bersama. (AAT-AS)

Kategori: ,