Terapi Neurofeedback Tingkatkan Konsentrasi Anak
Jumat, 9 November 2018 | 8:53 WIB

SM 8_11_2018 Terapi Neurofeedback Tingkatkan Konsentrasi Anak

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata bekerja sama dengan Radboud University, Belanda melakukan penelitian terkait penanganan anak attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif dengan neurofeedback.

Penelitian melibatkan partisipan anak berkebutuhan khusus dari SD Cita Bangsa dan SD Anargya Semarang serta SD Lentera Hati Kudus dengan alat intervensi neurofeedback untuk meningkatkan konsentrasinya. ”Diawali kuliah untuk menambah pengetahuan tentang ADHD dan neurofeedback, siangnya praktik dengan alat intervensi itu.

Materi kuliah disampaikan oleh akademisi dari Radboud University Belanda, Dr Marijtje Jongsma, sedangkan praktik dipandu oleh mahasiswa S-3 universitasnya, Julian Allgeyer,” kata Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Pengembangan Staf Unika Dr Augustina Sulastri PSi.

Dia hadir didampingi tim Penelitian Neurologi Dr Endang Widyorini MS PSi dalam Seminar Intervensi ADHD dengan Terapi Neurofeedback, di Gedung Antonius, kampus Unika, barubaru ini.

Alat Intervensi

Menurut dia, kerja sama juga melibatkan mahasiswa Psikologi Unika menjadi tim peneliti selama dua minggu untuk memberikan treatment alat intervensi tersebut. Seminar diikuti puluhan orang dari berbagai kalangan, seperti dosen Sanata Dharma Yogyakarta, UNM Malang, Poltekkes Solo, dan pegawai rumah sakit.

Alat intervensi akan dipasangi elektroda untuk mengecek aktivitas di otak dengan tujuan mengetahui tingkat ADHD apakah mengalami gangguan. Sementara itu, Endang yang juga Ketua Prodi Magister Profesi Psikologi Unika mengatakan, populasi ADHD di seluruh dunia cukup banyak.

”Berdasarkan data, tiap 100 orang ada 7-10 anak mengalami gangguan itu. Orang tua patut berhati-hati, apabila mengetahui anaknya ada gelagat seperti itu, langsung saja bawa ke psikolog,” ungkapnya.

Di sisi lain, Marijtje dalam paparannya mengungkap soal plastisitas otak atau neuroplasticity. Jika terjadi hambatan pada otak, dengan pelatihan tertentu dan terapi neurofeedback akan bisa lebih fleksibel.

https://www.suaramerdeka.com/smcetak, Suara Merdeka 8 Nopember 2018 hal. 24

Kategori: ,