Srawung Menuju Peradaban Kasih
Jumat, 23 November 2018 | 8:23 WIB

SM 22_11_2018 Srawung Menuju Peradaban Kasih
Oleh Aloys Budi Pumomo Pr

“lndikator terwujudnya peradaban kasih tampak dalam tiga matra, yakni kesejahteraan, kemartabatan, dan keberimanan yang kian mendalam melalui keterbukaan dan partisipasi sinergis dengan siapa pun.”

PADA 21-23 November ini tengah diselengarakan Interreligius Student Camp (ISC) IV Asosiasi Perguruan Tmggi Katolik (APTIK) 2018 yang kepanitiaannya dilayani Unika Soegijapranata Semarang. Sedikitnya, ISC IV diikuti oleh 125 peserta dari 20 perguruan tinggi se-Indonesia yang menjadi anggota APTIK. Melihat komposisi anggota APTIK, maka ISC IV akan sangat strategis dari sisi negara kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Wakil Rektor III Unika Soegijapranata Dr V Kristina Ananingsih menjadi penanggung jawab untuk peristiwa ini. Ketika Bu Tina memintaku memberi usulan tema dan konsep dasar, saya mengusulkan tema yang menjadi judul tulisan ini: "Srawung Menuju Peradaban Kasih". Berikut konsep dasar yang saya haturkan kepada Bu Tina.

Gagasan dasar srawung menuju peradaban kasih saya tempatkan dalam konteks Gereja Katolik KeuskupanAgung Semarang (KAS) yang mencanangkan Rencana Induk KAS (RICAS) 2016-2035 dengan buah utama terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan tiap orang. Peradaban kasih seperti ini tak akan pernah bisa diwujudkan tanpa sinergi di tengah keberagaman yang multikultural. Sinergi itu dalam bahasa Jawa sehari-hari disebut srawung.

Terminologi srawung mengandung makna sebagai proses perjumpaan banyak pihak dalam semangat inklusif, inovatif, dan transfonnatif. Artinya,srawung itu terjadi dalam sikap saling merangkul melalui keterbukaan (inklusif), terus-menerus dalam suasana pembaruan (inovatif), dan memiliki daya ubah yang positif (transformatif). Srawung yang seperti itulah yang diharapkan mampu menjadi jalan untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

Indikator terwujudnya peradaban kasih tampak dalam tiga matra, yakni kesejahteraan, kemartabatan, dan keberimanan yang kian mendalam melalui keterbukaan dan partisipasi sinergis dengan siapa pun. Kerja sama intereligius dan multikultural diupayakan dalam berbagai kesempatan, ruang kebersamaan, dan oleh siapa pun, termasuk mahasiswa. Civitas akademica perlu memberi ruang bagi terlaksananya srawung menuju peradaban kasih tersebut.

Itulah konteks dasar ISC IV. Dengan paradigma srawung menuju peradaban kasih itulah, ISC IV pun diselenggarakan dengan metode belajar bersama dalam praksis melalui berbagi pemahaman dan pengalaman tentang srawung interreligius, mengalami kebersamaan intereligius dalam live in di Ponpes Al Isiah Tembalang, Semarang dan mengolah pemaharnan serta pengalaman itu sebagai bekal perjalanan selanjutnya berbingkai refleksi personal ataupun komunal.

Berbasis pada metode itu maka peserta ISC IV harus sudah memenuhi representasi intereligius dari sisi agama dan religiositas ataupun budaya dan etnisitas. Begitulah srawung menuju peradaban kasih dapat dicapai, minimal melalui proses dinamis yang partisipatif sinergis dalam kerukunan dan kebersamaan yang harmonis dan damai dari sisi kepesertaan.

Srawung Sufi
ISC IV juga akan ditandai dengan praksis srawung sufi. Peserta dan panitia akan berkunjung ke Ponpes Al-Islah Tembalang, khususnya ke komunitas penari sufi asuhan Kiai Budi Harjono. Pada sat itu, kita tidak hanya melakukan talkshow di tingkat pemahaman dengan para tokoh lintas agama, melainkan juga akan mengalani dan belajar tentang tarian sufi sebagai tarian cinta. Itulah yang saya sebut srawung sufi.

Srawung sufi terjadi tak hanya dengan melihat dan menikmati tarian sufi, melainkan juga mendalami dan belajar hakikat tari sufi yang menjadi jalan menuju perjumpaan penuh kasih dalam keberagaman. Syukur bahkan bila para peserta pun bisa mencicipi tarian sufi dengan menarikannya sendiri.

Dengan cara sederhana ini, semoga srawung menuju peradaban kasih kian terwujud. Peradaban kasih diinisiasi dari kalangan dunia akademik, bersinergi dengan para pelaku budaya dan semi menari cinta, lalu menghadirkan hidup bersama yang rukun, damai, sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaarmya. Semoga semua menopang bangunan kokoh rumah bersama NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan UUD 1945 dari kampus.

 
—Aloys Budi Purnomo Pr, Kepala Reksa Pastoral Kampus Unika Soegijapranata, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.

Kategori: ,