Phubbing Gejala dari Perkembangan Teknologi
Selasa, 27 November 2018 | 7:53 WIB

image

Perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin banyak menciptakan nuansa baru dalam berinteraksi hingga membentuk gejala dan gejolak baru yang semakin hari terkadang berdampak positif dan negatif.

Salah satu gejala negatif yang timbul adalah phubbing yang merupakan tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadget daripada membangun sebuah percakapan.

Taufik Hidayat Kepala Bidang Layanan e Government Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfo) Kota Semarang mengatakan istilah phubbing mulai booming bersamaan dengan maraknya smartphone yang tidak sekedar untuk telepon dan SMS tetapi juga mempunyai banyak aplikasi seperti game, jejaring sosial yang membuat orang betah berlama-lama memegang handphone.

"Dengan adanya internet apa-apa menjadi instan seperti biasanya kopi darat sekarang hanya dengan line, WA sehingga interaksi langsung dengan orang berkurang apalagi untuk generasi milenial," katanya dalam talk show bertema anti phubbing yang diselenggarakan di Unika Soegijapranata, Kamis (22/11).

Peran pemerintah dalam menanggulangi hal itu dengan menggalakkan revolusi mental untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi lebih baik yakni  harus cerdas, kreatif dan produktif dalam berinternet.

"Manfaatkan internet secara baik dalam arti tepat guna aman sesuai etika budaya dan norma berlaku," ucapnya.

Sementara itu Patrick Tim Psikologi Unika Soegijapranata menambahkan phubbing adalah sebuah habit karena realita sekarang orang-orang hidup dengan teknologi bahkan dari bayi sudah dikenalkan teknologi.

Menurutnya phubbing menjadi indikator nomophobia atau no mobile phone phobia ketakutan berlebih seseorang jauh dari ponselnya. Penyebabnya adalah kebiasaan hidup dengan handphone, krisis kesendirian, mencari kesenangan, relaksasi dan menjaga relasi.

"Nomophobia dan perkembangan psikis individu jika semakin sering gadget mendampingi dalam kehidupan maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami ketika tidak memiliki akses terhadap gadget," tuturnya.

Patrick menjelaskan dampak nomophobia dilihat dari intrapersonal adalah cenderung cemas, mudah kesepian,  kurang fokus dan insomnia. Sementara secara interpersonal takut mendaptkan masukan dari orang lain, takut berinteraksi secara langsung dan kurang respect.

"Kembali ke penggunaannya apakah digunakan secara efektif apa tidak karena kita tidak bisa menghindari teknologi tetapi bagaimana bijak dalam penggunanya," jelasnya.

 

https://www.suaramerdeka.com, https://www.suaramerdeka.com/smtv

Kategori: