Peluncuran Buku PRB: Upaya Dukung Kota Lama Semarang Menjadi Kota Pusaka Warisan Dunia
Selasa, 13 November 2018 | 9:21 WIB

image

Setelah serangkaian lokakarya yang diadakan diKota Lama baik dalam tingkat lokal, nasional maupun internasional dalam upaya pengurangan resiko bencana (PRB)yang didanai oleh UNESCO dan Malaysia Funds-in-Trust (MFIT) serta bekerja sama dengan Pemkot Semarang dan UNIKA Soegijapranata.

Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang kali ini berkesempatan untuk menerbitkan/meluncurkan Buku Pengembangan Strategi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Kawasan Kota Lama bagi para pemangku kepentingan serta lembaga pemerintahan terkait yang berhubungan langsung dengan Kota Lama, Semarang.

Peluncuran Buku Pengembangan Strategi PRB ini juga merupakan salah satu upaya mendukung Kota Lama Semarang untuk menjadi Kota Pusaka Warisan Dunia tahun 2020.Hasil dari seluruh loka karya yang telah terlaksana menunjukkan mendesaknya upaya sinergis antar masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan dalam PRB. Untuk itu hal sangat vital yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran terhadap manajemen resiko dari bencana, baik pada masyarakat maupun semua tingkat kelembagaan pemerintah.

Berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam acara Kampanye Pelestarian Cagar Budaya 2018 di Oudetrap, Kota Lama, BPK2L menyelengarakan acara diskusi dan tanya jawab bersama antar pemangku kepentingan di Kawasan Kota Lama dan narasumber yang berperan dalam menyusun Buku Pengembangan Strategi PRB, diantaranya UNIKA, BPK2L, dan Pemkot Semarang untuk membahas isi dari Publikasi PRB ini. Publikasi PRB ini memuat langkah-langkah penting cara mengatasi bencana yang mungkin terjadi di sekitar Kawasan Kota Lama, serta pihak-pihak mana saja yang terlibat dan berperan penting dalam upaya pencegahan ini.

Strategi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Kawasan Kota Lama merupakan upaya untuk mengurangi resiko dan dampak bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun manusia. Strategi ini bertujuan meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan yang terlibat dalam PRB serta memberdayakan masyarakat yang tinggal di kawasan Kota Lama melalui rencana pengelolaan kawasan yang lebih baik.

Untuk mencapai tujuan ini, integrasi yang lebih efektif antar pihak terkait PRB diperlukan ke dalam kebijakan pembangunan Kota Semarang yang berkelanjutan serta dalam perencanaan dan pemrograman kegiatan di semua tingkat Pemerintahan. Disamping itu diperlukan juga pengembangan dan penguatan institusi yang bekerja terutama di kawasan Kota Lama, pembangunan mekanisme dan kapasitas di semua tingkat masyarakat yang dapat berkontribusi secara sistematis untuk membangun ketahanan terhadap bahaya.

Walikota Semarang, Bapak Hendrar Prihadi menyatakan: “Atas nama seluruh warga Semarang, saya ingin menekankan bahwa Kota Lama Semarang lebih dari sekadar daerah bersejarah. Dari waktu ke waktu, Kota Lama Semarang telah membentuk identitas dan nilai-nilai inti masyarakat Semarang. Meskipun daerah bersejarah ini telah berulang kali berjuang melawan banjir pasang surut dan pengabaian yang cukup parah, kita sekarang akhirnya dapat dengan bangga menegaskan komitmen kita untuk menyelamatkan pusaka kita sebagai sesuatu yang penting bagi integritas kita bersama”.

Publikasi khusus PRB ini menandai kolaborasi yang konstan dari semua pemangku kepentingan, termasuk dengan teman-teman di Malaysia & Fiji, yang telah berbagi pengalaman-pengalaman yang menginspirasi. Ketika kami belajar bahwa penerapan PRB merupakan arah strategis menuju pelestarian warisan yang berkelanjutan, ini menjadi tujuan utama kami untuk menciptakan kapasitas kelembagaan yang efektif, untuk mengembangkan sistem pemantauan di dalam komunitas lokal, dan bersama-sama secara keseluruhan. Akhir kata, merupakan harapan yang besar bagi kami untuk dapat melestarikan warisan budaya ini untuk generasi sekarang dan yang akan datang.”

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Ibu Ir. Hj. Hevearita G. Rahayu berpesan, “Kota Lama Semarang memang kota sederhana, namun bukanlah kota biasa. Meskipun integritasnya, dalam beberapa kasus, rentan karena pengabaian yang terjadi di masa lalu dan perkembangan perkotaan baru-baru ini, atribut-atributnya mempertahankan sebuah riwayat keaslian hidup yang patut diperhatikan untuk dijaga.

Untuk itu, sangat penting untuk memastikan adanya kegiatan konservasi, mengingat bahwa ancaman utama di Kota Lama disebabkan oleh karena perbuatan manusia, seperti banjir/rob, kebakaran, penurunan tanah, dan vandalisme. Merupakan cita-cita saya bahwa publikasi ini akan bermanfaat bagi Kota Lama Semarang melalui konten informasi yang relevan dan rencana aksi strategis terkait PRB.”

Tidak lupa beliau juga berterima kasih kepada setiap pemangku kepentingan dan para mitra kerja yang terlibat atas upaya mereka dalam membuat publikasi ini mungkin, terutama kepada UNESCO untuk dukungannya yang tanpa henti, Pemerintah Kota Semarang, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, dan Universitas Katolik Soegijapranata.

Hanya dengan sistem manajemen yang terintegrasi melalui tata kelola yang baik dan partisipatif maka perlindungan kota pusaka ini dapat terus berjalan. Meskipun demikian, beliau juga yakin bahwa semua itu tidak lain ialah demi mengejar tujuan bersama masyarakat Semarang untuk menempatkan Kota Lama Semarang pada peta, di mana Kota Lama Semarang mampu berdiri tegak dan tangguh.

http://www.beritasemarang.net

Kategori: