New Southbound Policy Tingkatkan Kerjasama Unika dengan Taiwan
Rabu, 21 November 2018 | 10:11 WIB

Kebijakan Baru ke Arah Selatan atau New Southbound Policy (NSP) yang diluncurkan oleh pemerintah Taiwan pada 5 September 2016, membawa dampak positif, terutama bagi kampus yang sudah bekerjasama dengan perguruan tinggi di Taiwan sebelumnya, termasuk Unika Soegijapranata.  Jumlah mahasiswa Unika Soegijapranata yang mendapatkan kesempatan ke Taiwan dalam rangka pertukaran pelajar dan beasiswa studi lanjut mengalami peningkatan.

Dalam presentasinya di sesi ketiga Simposium Indonesia-Taiwan-Vietnam-Thailand-India (ITVTI) pada (15/11) di Providence University Taiwan, Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr. Ridwan Sanjaya menyampaikan, kerjasama kampusnya dengan perguruan tinggi di Taiwan sudah lama ada dan terbilang cukup aktif.

“Mahasiswa mendapatkan pengalaman selama pertukaran pelajar, serta pengakuan kredit atas mata kuliah yang diambil di sana. Banyak alumni Unika Soegijapranata yang mendapatkan beasiswa studi lanjut di Taiwan karena NSP. Penelitian bersama juga dilakukan oleh Teknologi Pangan dan Sistem Informasi. Bahkan, saat ini Magister Teknologi Pangan dan Magister Manajemen sudah menandatangani MoU untuk program sandwich.” Ungkap Prof.Dr. Ridwan Sanjaya.  

Menurutnya, saat ini generasi muda tidak hanya mencari pengetahuan (knowledge) dan kemampuan (skill) semata, tetapi juga pengalaman baru (new experience). Semangat inilah yang juga diusung  Unika Soegijapranata yang mendorong transformasi dalam diri mahasiswa selama berproses di kampus ini. Alumni yang dinamis, progresif, inspiratif, dan mempunyai wawasan  luas selalu diharapkan menjadi hasilnya.

Bukan hanya mahasiswa, alumni, dan dosen saja yang merasakan dampak dari kebijakan tersebut. Salah satu tenaga kependidikan Unika Soegijapranata juga ikut merasakan kesempatan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan melalui NSP. Beberapa mahasiswa Unika Soegijapranata yang ditemui di sela-sela acara tersebut oleh Prof Dr. Ridwan Sanjaya dan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Retang Wohanggara, menyatakan suka citanya selama berada di Taiwan.

Selain dukungan beasiswa selama di sana, biaya hidup dan biaya dormitory dirasakan cukup terjangkau. Stephani Inggrit alumni program studi Sistem Informasi menyatakan, biaya dormitory sebesar 9000 NTD atau berkisar 4,5 juta rupiah untuk satu semester, dirasakan lebih murah dibandingkan biaya kos di sekitar kampus Bendan Dhuwur.

Katharina Ardanareswari dosen Teknologi Pangan Unika Soegijapranata  yang melanjutkan studi Doktoral di Providence University, juga mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan melalui professor yang menjadi dosen pemimbingnya. Wanita yang akrab disapa Bu Danik ini merasakan dana yang disediakan cukup untuk penelitiannya. Selain itu, banyaknya mahasiswa dan alumni Unika Soegijapranata di sana, membuatnya merasakan selalu dekat dengan tanah air.

http://www.kopertis6.or.id

Kategori: