Kuatkan Pancasila Melalui Ruang Interaksi Generasi Milenial
Senin, 19 November 2018 | 9:04 WIB

image

Pancasila sebagai landasan filosofis berbangsa dan bernegara Indonesia, sudah mulai diragukan oleh generasi milenial. Munculnya bibit radikalisme berbasis agama dan rasisme di Indonesia, satu di antara gejala yang muncul.

Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan Benediktus Danang Setianto menyatakan, dibutuhkan adanya sebuah ruang interaksi generasi milenial. Interaksi yang ada, tidak sekedar melalui buku atau dunia maya tetapi bertemu dan tatap muka dunia nyata.

"Ruang-ruang kebersamaan semacam ini perlu dibangun, kami menggandeng UIN Walisongo dan UKSW Salatiga. Untuk saling memberikan perspektifnya, bukan hanya intelektual tetapi juga karya bersama," kata pria yang akrab disapa Beny, sela-sela Seminar dan Outbound "Memaknai Pancasila dalam Ruang Milenial" di Teater Thomas Aquinas Unika Soegijapranata, Sabtu (17/11).

Mengapa memilih UIN Walisongo dan UKSW Salatiga, karena sekilas melihat pasti ada perbedaan dengan Unika yang menyandang Universitas Katolik. Tetapi berbedanya yang akan ditonjolkan di sini melainkan melihat kesamaan di masing-masing institusi ini.

"Goal-nya mempertahankan NKRI ini sebagai wadah hidup manusia Indonesia yang beragam bukan dari uniformalitasnya. Satu kekuatan besar Indonesia dari keberagamannya," tambahnya.

Sementara Ketua Program Studi Sosiologi Agama UKSW Pdt Dr Tony Tampake melihat, generasi milenial ditandai dua hal, pertama technososialism yaitu bagaimana aktor sosial mengkontruksi realitas sosial melalui media sosial. Kedua fitur masyarakat jejaring, di mana terkoneksi satu sama lain melalui teknologi informasi.

"Bagi kami, acara semacam ini membangun diskursus terlebih hubungan antar umat beragama, hubungan negara dan agama-agama dan hubungan negara, agama dan demokrasi. Terlebih hubungan itu antar lintas agama, itu kan bagus," tuturnya.

Selain, acara ini penting sebagai sarana konsolidasi demokrasi itu yang pertama sedangkan yang kedua untuk membangun diskursus publik lintas keagamaan mengawal demokratisasi dan kekuasaan negara yang kadang tanpa batas.

Sementara Dekan FISIP UIN Walisongo Dr Muhyar Fanani MAg menyatakan, generasi milenial yang lahir pada era 80 sampai dengan 90-an menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi ini pada saat lahir belum mengenal teknologi informasi tetapi kemudian pada perjalanan hidupnya mereka mengenalnya.

"Melalui teknologi informasi ini, mereka belajar banyak hal tetapi tidak melalui guru-guru yang mereka kenal di kelas. Guru-guru ini bergentayangan masuk ke ranah private di kamar-kamar, mengajarkan sesuatu yang mungkin tidak sesui dengan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia tanpa adanya filter," katanya.

Dengan dasar Pancasila yang tidak mantap, landasan filosofis tidak tuntas, tiba-tiba ada iming-iming dari luar yang sepertinya lebih bagus dan mulai meragukan Pancasila serta cara beragama tidak bertoleran atau ala-ala timur tengah. Menurutnya Afganistan yang hanya terdiri dari tiga suku, tidak pernah akur tetapi Indonesia yang mempunyai 1.300 suku tetap akur.

"Tidak selalu apa yang dianggap atau dipikir generasi milenial baik itu baik. Di dunia ini jika berfikir hidup bahwa tidak bertoleran, sukunya paling baik dan unggul, bisa hidup rukun damai," tambahnya. Kegiatan ditutup dengan aktivitas luar ruangan, outbound di mana setiap kelompok terdiri dari mahasiswa tiga universitas yang berbeda tersebut.

https://www.suaramerdeka.com

Kategori: