Kenalkan Grafologi Melalui Seminar
Senin, 19 November 2018 | 15:01 WIB

Siswanto SPsi MSi Psikolog memaparkan materinya tentang Grafologi di hadapan peserta seminar, Jumat (16/11/2018) di Teater Thomas Aquinas Unika

Laboratorium Psikologi Unika Soegijapranata mengadakan seminar dan workshop bertema “Graphology: to reveal your subconscious side”. Hadir sebagai narasumber dalam seminar dan workshop ini ialah Siswanto S Psi MSi Psikolog. Dalam acara ini, terdapat dua  alur acara. Alur yang pertama ialah pendaftar yang hanya mengikuti seminar. Kemudian alur yang kedua ialah pendaftar yang mengikuti seminar dan workshop.

Sesi seminar diadakan pada hari Jumat (16/11) bertempat di Teater Thomas Aquinas Unika dan diikuti oleh berbagai kalangan yang berlatarbelakang psikologi, mulai dari mahasiswa hingga psikolog. Antusiasme peserta yang besar untuk belajar grafologi ini memang menjadi tujuan utama dari acara ini. “Grafologi itu alat tes psikologi yang mudah dengan tingkat akurasi yang tinggi. Apalagi grafologi sangat mudah, hanya berdasarkan tulisan tangan. Terutama ini menjadi alat untuk melengkapi tes psikologi sehingga dalam penafsirannya lebih baik,” ungkap Benedicta Audrey, ketua panitia acara ini. Audrey pun mengungkapkan bahwa grafologi sendiri kurang terkenal di kalangan psikolog belakangan ini, maka acara ini selain menjadi ajang pembelajaran namun juga menjadi branding grafologi untuk semakin banyak dikenal oleh psikolog maupun calon psikolog.

Siswanto dalam penyampaian materi, menjelaskan terlebih dahulu konsep awal grafologi. “Grafologi berasal dari bahasa Yunani, graphien dan logos. Graphien berarti tulisan dan logos berarti pengetahuan, sehingga grafologi diartikan sebagai ilmu tulisan tangan.”

Grafologi sendiri menganalisis karya grafis dengan tujuan mengetahui kepribadian seseorang. “Perlu diingat ya, yang dianalisis tulisannya (bentuknya, red) bukan makna yang ada di balik tulisan tersebut,” tegas Siswanto. Kemudian Siswanto menjelaskan konsep-konsep penting dalam grafologi. “Ada 3 konsep, yaitu mekanisme proyeksi, asumsi kepribadian, dan antropomorphis,” sebut Siswanto. Mekanisme proyeksi adalah ‘jalan keluar’ lain yang digunakan oleh seorang pribadi untuk mengeluarkan apa yang terpendam dalam ketidaksadaraannya. Kemudian asumsi kepribadian adalah tes untuk melihat bagaimana kepribadian seseorang lewat perilakunya terhadap stimulus. Antropomorphis adalah bagaimana manusia berusaha memahami lingkungan dengan cara manusiawi (dihubungkan dengan diri manusia, red).

Setelah menyampaikan konsep, Siswanto memberikan contoh-contoh tulisan beserta maknanya. Bagi Siswanto, bentuk antropomorphis merupakan konsep inti dalam grafologi. “Konsep antropomorphis menjadi penting di sini. Dengan membayangkan tulisan secara antropomorphis, membayangkan tulisan menjadi seperti manusia, kita dapat menafsirkan kepribadian dengan lebih tepat,” tuturnya. Dari situ, peserta diberikan beberapa latihan oleh Siswanto hingga cukup mahir dalam melihat kepribadian melalui tulisan tangan. (ffi)

Kategori: ,