Isu Kerusakan Lingkungan, Sampah, dan Air Jadi Tantangan Berat Bagi Pemerintah
Selasa, 6 November 2018 | 16:32 WIB

WWS 3_11_2018 Isu Kerusakan Lingkungan

Ada dua isu strategis yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019-2023 Provinsi Jawa Tengah. Keduanya, yakni tentang keruskan lingkungan dan persampahan, serta politik air.

hal tersebut disampaikan Kepala DLHK Jawa Tengah, Sugeng Priyanto, tentang isu pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Tengah dalam Temu Ilmiah Nasional VII IPLBI di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata Semarang, Jumat (2/11).

“Kedua isu tersebut telah menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan harus dijawab tidak sekedar janji, melaikan bukti. Meskipun diakuinya, kedua itu sangat berat dan butuh proses pemahaman dari berbagai kalangan,” terangnya.

Sugeng mencontohkan, ada cukup banyak isu lingkungan yang dilontarkan masyarakat di Jawa Tengah. Seperti Semen Indonesia di Rembang, Save Slamet di Baturraden Banyumas, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang.

“Kami tidak masalah dan selalu menerima setiap masukan, kritikan dari pihak manapun. Bagi kami, itu adalah bentuk kepedulian sekelompok ataupun beberapa kelompok masyarakat terhadap lingkungan, dimana sebenarnya mayoritas dari kelompok itu masuk kategori tidak atau belum tahu yang senyata-nyatanya,” tukasnya.

Dia menggambarkan, bentuk kesalahan atau ketidaktahuan masyarakat terhadap langkah yang dilakukan pemerintah. Seperti di Baturraden, Kabupaten Banyumas, berkaitan Pembangkit Listrik Tenaga Panas BUmi (PLTPB) yang dilaksanakan PT Sejahtera Alam Energi (PT SAE).

“Apa yang dilakukan saat ini, sebenarnya baru pada taraf eksplorasi. Belum operasional. Adapun pemilihan sistem tersebut, PLTPB tersebut adalah hal yang sudah dinilai paling murah serta paling ramah terhadap lingkungan yang ada di sekitar tempat pelaksanaan proyeknya. ini baru sebatas eksplorasi, sudah ada yang konta,” tandas Sugeng.

Partisipasi Aktif
Pada forum tersebut, kata Sugeng Pemprov Jawa Tengah pun berharap, ada partisipasi aktif dari para peneliti di seluruh daerah untuk dapat berkontribusi terhadap pembangunan di Jawa Tengah. Menurutnya, hasil penelitian mereka sangat diperlukan dan menjadi bagian strategis demi keberlangsungan jangka panjang.

“Prisip, dari kajian-kajian hasil penelitian para akademisi ataupun peneliti, bisa kami pergunakan sebagai bahan masukan maupun evaluasi dalam merancang pembangunan berkelanjutan. Dari hasil penelitianitu, juga dapat digunakan guna membantu edukasi maupun sosialisasi kepada masyarakat,” tutupnya.

Sementara, dalam Temu Ilmiah Nasional ke 7 IPLBI yang diselenggarakan di Unika Soegijapranata Semarang, ada 4 institusi yang berpartisipasi, yakni Prodi Arsitektur Unika Soegijapranata Semarang sebagai tuan rumah.

Sekaligus bermitra dengan Jurusan Arsitektur Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jurusan Arsitektur Universitas Pandanaran (Unpand), serta didukung Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jawa Tengah,” kata Presiden IPLBI Cynthia Erlita Virgin Wuisang.

►Wawasan 3 Nopember 2018, hal. 11

Kategori: