PT Kritisi Kantin dan Permasalahan Keamanan Pangan
Senin, 29 Oktober 2018 | 15:43 WIB

WWS 29_10_2018 Pengelolaan Kantin

Kantin menjadi pusat penyediaan jasa makanan di institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus. Pengelolaan yang baik dan pemenuhan aspek sanitasi dan higienitas,harus diperhatikan dan dijaga, namun acap kali hal ini sering terlupakan hingga menimbulkan risiko pada keamanan Pangan.

HaI tersebut mendorong tim dosen prodi Teknologi Pangan Unika Soegiiapranata, yang terdiri dari Inneke Hantoro, B Soedarini dan RD Winarno, melakukan Program Pengabdian Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Kegiatan tersebut mendapat bantuan hibah Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti 2018.

"Keberadaan mikroorganisme patogen, jumlah mikroba yang melebihi batas, dan Penggunaan bahan-bahan berbahaya seperti formalin, boraks serta pewarna yang dilarang, masih sering ditemukan pada sejumlah makanan. Mikroba patogen seperti E coli kerap ditemukan baik pada makanan, minuman, es batu, dan Peralatan makan yang digunakan. Hal ini tentu berisiko pada terjadinya kasus keracunan pangan, dengan korban yang tidak sedikit jumlahnya," papar Inneke Hantoro bersama tim, di kampus Unika Bendan Dhuwur, Semarang, Jumat (26/10)

Diterangkan, dari data Dinkes Jateng 2016, menunjukkan terjadinya kasus luar biasa (KLB) keracunan makanan, dengan korban sebanyak 289 orang dari kelompok usia anak sekolah, dan 480.1,24 kasus diare sepanjang tahun 2015. Penderila diare terbanyak adalah kelompok anak usia di bawah 15 tahun. "Dinkes serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah bekerja sama, untuk melakukan pengawasa pada kantin-kantin di institusi pendidikan, termasuk pangan jajahan anak sekolah (PJAS), Namun hal ini belum dapat menjamin keamanan pangan makanan dan minuman, yang beredar di institusi pendidikan sepenuhnya," terangnya.

Dari penelitian yang dilakukan, ada ernpat persolan pokok yang menyebabkan terjadinya praktek-praktek penyediaan makanan tidak aman di institusi pendidikan, yaitu pengelolaan kantin yang belum terkontrol oleh pihak sekolah atau kampus, minimnya fasilitas sarana dan prasarana yang disedikan oleh pihak pengelola, literasi tentang keamanan pangan yang tidak memadai dari para penjual dan konsumen serta perilaku dan kebiasaan penjual – konsumen yang tidak saniter.

"Sistem yang disiapkan oleh pengelola institusi, merupakan kunci awal untuk menjamin mutu dan keamanan dari makanan serta minuman, yang dijual di sekolah atau kampus. Kesadaran pengelola untuk mengembangkan sistem kantin yang sehat, sangat diperlukan untuk menghindari risiko KLB. Termasuk seleksi pedagang dan jenis makanan, yang dijual di kantin. Selain itu, evaluasi rutin terhadap kualitas makanan dan minuman yang dijual juga perlu dilakukan " tandasnya.

Literasi keamanan pangan saja tidak cukup, apabila tidak disertai dengan perilaku dan kebiasaan saniter. Kebiasaan, cuci tangan sebelum memegang dan mengolah makanan, menjaga penampilan yang bersih dan rapi, menjaga kebersihan peralatan dan lingkungan produksi, serta kebiasaan membuang sampah pada tempatnya merupakan kebiasaan baik yang perlu dibangun. "Tidak hanya oleh penjual, namun juga oleh konstimen. Tanpa kesadaran dan tanggung jawab semua pihak terkait, penjaminan keamanan pangan di kantin sekolah dan kampus tidak akan  optimal,"pungkas lnneke.

â–ºWawasan 29 Oktober 2018 hal. 3

Kategori: