Pilih Profesi Barista Sambil Kuliah
Selasa, 30 Oktober 2018 | 11:23 WIB

                              FX. Ryo Sandega, Barista Starbucks di kota Semarang

Suatu profesi kadang dimulai dari rasa suka terhadap sesuatu, kemudian belajar lebih dalam dengan sesuatu yang kita sukai tersebut. Tak terkecuali dengan profesi Barista yang sudah ditekuni selama satu tahun oleh salah satu mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unika Soegijapranata, FX. Ryo Sandega.

Ryo, demikian sapaannya telah bekerja sebagai Barista di salah satu coffee shop Starbucks di kota Semarang selama kurang lebih satu tahun. Saat ditanya kenapa memilih Barista sebagai profesi, Ryo mengungkapkan awal tertariknya menjadi Barista. “Sebenarnya saya tertarik untuk menjadi seorang Barista karena hal sederhana, kebetulan dulu saya KKN di Wonosobo dan bertemu dengan petani sekaligus pengolah kopi yang cukup terkenal di daerah itu. Dari cerita dan sharing-sharing kami, munculah rasa keingintahuan lebih dan dari situ saya mulai suka kopi. Dari hal tersebut mulailah saya ada ide untuk terjun ke dunia kopi. Dan kebetulan di tempat saya bekerja sekarang,  Starbucks pun juga mengajak kita untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris sehingga apa yang saya dapatkan di fakultas pun bisa saya gunakan di tempat kerja saya.”

Saat ditanya tentang pekerjaaan dan studi yang masih ditekuninya, Ryo memberikan resepnya supaya antara keduanya tidak saling mengganggu. “Tantangan terberatnya adalah membagi waktu, apalagi kalo ada jadwal bimbingan dengan dosen. Kadang saya memaksa diri untuk mengerjakan skripsi saat pulang bekerja atau pulang subuh, karena ketika saya tidak sedikit memaksa diri ya tidak ada waktu lagi dan jadinya akan molor-molor skripsinya. Alhasil saya hanya keasikan kerja nantinya, maka dari itu kuncinya di pembagian waktu sih, memaksa diri sedikit tidak apa-apa asal tahu bagimana kita juga bisa jaga kesehatan dan tahu kewajiban kita.”

Lebih lanjut Ryo juga mengungkapkan nilai positif, bekerja sambil kuliah. “yang pertama persiapan awal diri untuk merasakan dunia kerja sehingga sudah ada pandangan ke depan seperti apa gambaran dunia kerja, kedua, pendamping aktivitas saya selain mengerjakan skripsi, jadi kurang greget saja kalau cuma sehari-hari hanya skripsi, ke kampus, bimbingan seperti itu berulang-ulang. Yang ketiga ada rasa puas tersendiri ketika kita bisa mendapatkan sesuatu dengan hasil pekerjaan kita, dengan kata lain bisa mengurangi beban orang tua.”

“Selain itu ada hal penting juga yang tak lepas dari seorang Barista yaitu attitude (tingkah laku) dimana kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan customer, berani berbicara di depan banyak orang karena pada dasarnya kita pun juga belajar tentang Hospitality (keramah-tamahan). Jadi Barista itu tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kita pintar bisa mengolah kopi tapi bagaimana juga kita pintar berkomunikasi dan mau belajar hal baru. Selain itu ada hal menarik yang saya dapat di pekerjaan. Bekerja itu jangan hanya absen masuk kemudian absen pulang, setidaknya dalam bekerja kita juga harus belajar hal baru, jadi ketika kita pulang kita mendapatkan suatu pembelajaran, apapun itu karena dengan bekerja kita juga belajar,” ucap Ryo menambahkan. (fas)

Kategori: ,