Pembangunan Jangga DoIok Kebangkitan Arsitektur Nusantara
Kamis, 11 Oktober 2018 | 10:37 WIB

SM 7_10_2018 Pembanungan Jangga Dolok Kebangkitan Arsitektur Nusantara
Oleh CH Koesmartadi

Kawasan Danau Toba terbentuk akibat letusan gunung Toba di Sumatra Utara pada 73.000-75.000 tahun yang lalu itu merupakan letusan super vulcano (gunung berapi super).

Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan letusan yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2,800km2 dengan 800 km2 batuan ignimbrite dan 2.000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin kearah barat selama dua minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi dari Cina hingga Afrika Selatan. Letusan terjadi selama satu minggu dan lontaran debunya mencapai sepuluh km diatas permukaan laut.

Kejadian itu telah menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan kehidupan disana. Menurut beberapa bukti DNA seperti yang terlihat saat ini hamparan kawasan danau Toba dengan pulau Samosir yang kaya akan sumber daya alam bagi pariwisata dan budaya.

Masih dalam ingatan beberapa bulan yang lalu kecelakaan tenggelarnnya kapal penyeberangan di danau Toba yang banyak menelan korban manusia, tentunya menjadi bahan renungan bagi kita semua bagi kesiapan pengembangan kawasan pariwisata tersebut.

Hal lain yang menarik perhatian adalah kekayaan budaya kawasan Toba Samosir dimana banyak berdiri rumah adat yang sangat memberi rasa keunikan bagi orang yang melihatnya terutama tuns yang sedang berkunjung. Permukiman Batak Toba memiliki berbagai ragam bentuk rumah adat.

Salah satu di sebuah desa di Desa Jangga Dolok Batak Toba, terdapat beberapa rumah adat yang memiliki umur cukup panjang hingga mencapai 300 tahunan. Jangga Dolok merupakan sebuah desa yang beradi di lembah bukit Dolok Si Manukmanuk kecarnatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir Sumatra utara.

Kondisi permukiman rumah adat yang ada disekitar Toba kondisinya memprihatinkan karena selain umur bangunan, para penghuni rumah adat semakin jarang menempatinya karena mahalnya perawatan dan akhimya mereka meninggalkan rumah adat tersebut. Penghuni yang masih menempati rumah rumah tersebut terdiri atas penghuni tua yang sekedar menempatinya. Namun bagi penghuni yang masih muda mereka menambah ruang ruang dengan desain kekinian dan terletak di belakang rumah adat tersebut. Memang diakui terutama bagi keluarga muda kebutuhan peralatan rumah tangga memaksa mereka membeli dan menempatkan baik ruang dibelakang rumah adat maupun pada lantai panggung tersebut. Peralatan yang diletakkan diatas lantai rumah Bolon menimbulkan masalah baru karena lantai kayu untuk ditempati secara lesehan.

Tahun 1970 desa ini resmi menjadi desa wisata dengan pesona rumah adat Batak Toba atau yang biasa disebut Jabu Bolon. Namun sayang, terjadinya kebakaran tahun 2016 di desa dusun Lumban Binanga telah menghanguskan keempat rumah adat yang telah benunur 200 tahun. Peristiwa ini menjadi kabar yang memprihatinkan mengingat semakin langkanya para ahli atau seorang pande yang bias membangun ulang rumah jabu Bolon. Peristiwa ini diperparah dengan keyakinan masyarakat setempat yang menjauhkan sisa teruntuhan bangunan yang terbakar karena bisa menghadirkan bala atau bencana. Namun dengan begitu menjadi titik balik perjuangan masyarakat Jangga Dolok untuk membangun kembali spiritual dan tradisi adat nenek moyang.

Kesulitan
Dipelopori oleh Yayasan Rumah Asuh dipimpin oleh Yori Antar yang bekerjasama dengan dua mahasiswa Gregorius Adsi Prakosa dan Victor Christison mahasiswa Arsitektur Fakultas Arsitektur dan desain Unika dan satu mahasiswa dari ITS saudara Abby di tahun 2016 dimulailah pembangunan kembali satu rumah alat salah satu dari empat yang terbakar. Sedangkan dapat berjalan lancar pembeayaan semuanya disumbang oleh pengusaha Nasional air minum mineral kemasan Ibu Tirto sehingga pekerjaan pembangunan kembali menjadi lancar. Selain itu yang menjadi semangat dalam pembangunan ini adalah rasa semangat gotong royong membangun kembali Rumah adat baru sama seperti rumah yang terbakar sebelumnya. Pembangunan rumah adat dilapangan dikoordinasikan oleh keluarga Manurung yang memulai dengan survei lapangan guna mendapatkan data konstmksi hingga koordinasi pembangunan yang berjalan lancar. Tidak kurang lima puluh orang yang tergabung dalam Batak House Restoration terdiri dari beberapa disiplin ilmu turut serta mengawal pembangunan rumah adat tersebut seperti Arsitek, planologi, sipil, antropologi, arkeologi, sosiologi bergtotong royong mensukseskan pembangunan rumah adat tesebut. Cara yang ditempuh sangat beragam, ada yang langsung kerja di lapangan, ada yang mensupport melalui media social, ada yang membantu mencari dana, hingga dilibatkannya mahasiswa guna ikut menangani pembangunan tersebut.

Secara arsitektural rumah adat Batak Toba memiliki keunikan yang bias dimengerti sebagai "kejeniusan". Atap menjulang keatas secara arsitektur memiliki sifat sebagai bantalan panas, mempercepat pengaliran air hujan dan menjamin awetnya atap ijuk, atap mirip pelana tersebut disebut sebagai atap struktur plat yang bekerja sendiri pada kedua plat atap yang diduga memiliki kesamaan prinsip struktur atap empyak di Jawa. Keunikan pada batang bukulan tersebut bias disejajarkan dengan kontruksi presstresed pada beton bertulang, yaitu dengan menarik bukulan kebawah dengan tali sebelum pembebanan atap, sehingga diharapkan saat benar-benar terjadi pembebanan, maka bukulan sudah tidak bereaksi melentur akibat beban atap. Keunikan juga terjadi pada buaton balok bulat seperti fungsi murplat, lazimnya sebuah konstruksi bangunan biasanya urur/ usuk tidak menumpu pada buaton, namun menumpu pada lisplang dan dikalungkan melingkari buaton.

Ada nya langkah mengkonservasi Rumah Adat Batak Toba Jabo Bolon secara gotong royong melibatkan lapisan masyarakat adalah sebuah tindakan mengarah pada masa kebangkitan arsitektur nusantara.

 
Ch Koesmartadi, Peneliti, peminat arsitektur Nusantara Dosen Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata Semarang.

►Suara Merdeka 7 Oktober 2018, hal. 14

Kategori: ,