Fakultas Psikologi Unika Undang Dua Pakar Dari Nederland
Kamis, 18 Oktober 2018 | 9:09 WIB

Dr Willem memaparkan materinya dalam acara Seminar dan Diskusi “Mengenali Anak Berkebutuhan Khusus & Anak Gifted” di Ruang Teater, gedung Thomas Aquinas, Unika, Selasa (16/10/2018)

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata mengadakan seminar dan diskusi dengan tema ‘Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus & Anak Gifted’ pada Selasa (16/10). Hadir sebagai pembicara dalam acara ini dua narasumber dari Nederland yaitu Dr Willem de Jong dan Drg Dr Julia van Tiel. Hadir pula sebagai moderator Dr Endang Widyorini  MS, Dosen Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata.

Dr Endang dalam penuturannya menjelaskan latar belakang diadakannya seminar ini. “Karena belum banyak literasi maupun informasi yang memadai mengenai anak berkebutuhan khusus maupun anak gifted di Indonesia. Maka kesempatan ini digunakan untuk memberikan edukasi (mengenai topik tersebut) kepada masyarakat,” tutur Dr Endang. “Dan inilah cara Fakultas Psikologi Unika mewujudkan visi dan misinya,” lanjutnya.

Sementara dalam paparan materinya, Dr Willem menjelaskan mengenai peran orang tua dalam pendampingan anak. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak belum mampu mengekpresikan apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan, hal itu karena keterbatasan ungkapan yang mereka miliki. Oleh karena itu peran orang tua perlu menafsirkan perilaku dari anak mereka. Namun demikian Dr Willem mengingatkan bahwa orang tua harus hati-hati menafsirkan perilaku anak mereka. “Orang tua kerap kali merasa mampu menafsirkan dengan tepat maksud perilaku anaknya. Ini adalah kesalahan fatal yang sering terjadi. Orang tua perlu bertindak sebagai detektif dalam menafsirkan perilaku anak sehingga didapatkan makna yang tepat,” tutur Dr Willem.

Dalam materinya, Dr Willem juga membahas mengenai empat wilayah (domain) yang mempengaruhi perilaku anak dan resiko-resiko yang terkandung di dalam tiap domain. Ia pun menekankan bahwa stres berlebih, dimanja secara berlebihan, dan media (sosial) dapat menggangu perkembangan anak. “Stres sedikit tidak apa-apa, tapi bila berlebihan dapat merusak neuron dalam otak,” sebut Dr Willem. Ia pun melanjutkan, “Dimanja berlebih juga tidak baik. Anak jadi cepat temperamen bila tidak dituruti. Mereka perlu diajari perihal tanggung jawab juga, tidak sekadar dimanja.”

Dr Willem mengakhiri sesi presentasi dengan mengutip penelitian American Psychology Association (APA). “Anak hingga usia 2 tahun jangan dibiarkan melakukan screening (nonton tv, menggunakan gawai, dsb). Ini mengurangi respon anak terhadap orang tua dan menggangu perkembangannya,” tandasnya.

Sedang Dr Drg Julia Maria van Tiel menyajikan materi mengenai diskresi perilaku anak. “Masalah yang sering muncul adalah kesamaan karakteristik ketika mendiagnosa anak berkebutuhan khusus dan anak gifted,” paparnya. Ini disebabkan belum terdapatnya konsesus antara dokter dan psikolog dalam mendiagnosa pola perkembangan anak berkebutuhan khusus dan anak gifted. “Maka dari itu perlu asesmen lebih lanjut dalam mendiagnosa pola perkembangan anak, supaya tidak salah dalam membimbing anak,” tutur Dr Julia.

Seminar dan diskusi diakhiri dengan kata penutup singkat dari Dr Willem . “Belilah bukunya, bukan untuk memperkaya saya sebab saya hanya mendapat sedikit atau bahkan tidak mendapat keuntungan dari buku ini. Namun belilah karena ada ilmu di sana yang dapat Anda terapkan nantinya, sebab informasi mengenai anak berkebutuhan khusus dan anak gifted masih sangat sedikit di Indonesia,” seru Dr Willem disambut tepuk tangan peserta.

Acara yang diadakan di Teater Thomas Aquinas Unika ini diikuti oleh berbagai kalangan dengan animo yang tinggi. Mulai dari mahasiswa, praktisi psikologi, hingga orang tua anak berkebutuhan khusus maupun gifted.(FFI)

Kategori: ,