Acuca Student Camp 2018 Mengajarkan Saya Untuk Terus Berlari
Selasa, 23 Oktober 2018 | 17:28 WIB

Foto bersama seluruh peserta ACUCA Student Camp 2018 di Christian University Thailand

Tertantang. Itulah kata yang menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali diberikan kesempatan untuk bisa terbang ke Thailand, dan mengikuti ACUCA Student Camp 2018. Berbagai persiapan saya lakukan sendiri. Mulai dari membeli tiket dan mempersiapkan kebutuhan akomodasi selama di sana. Hal ini juga merupakan kali pertama saya mempersiapkan kepergian ke luar negeri sendiri. Tak lupa, saya juga membaca tentang Negara Thailand dari berbagai sumber. Mulai dari buku sejarah dan internet. Karena Student Camp ACUCA akan dilaksanakan menggunakan Bahasa Inggris, jadi saya juga mempersiapkan kemampuan Bahasa Inggris saya dan membaca beberapa berita dari media internasional agar saya bisa tetap up to date.

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Tiket sudah ditangan, dan persiapan saya sudah lengkap. Perjalanan saya dimulai dengan terbang ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta saya langsung terbang ke Thailand dan mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Sesampainya di Bandara. Hal yang pertama saya lakukan adalah mencari mahasiswa Christian University Thailand. Setelah menemukannya, saya diantar menuju ke dalam bis dan bertemu dengan teman-teman yang lain di dalam bis. Ternyata ada banyak mahasiswa Indonesia yang satu bis dengan saya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju ke Christian University Thailand.

Perjalanan yang memakan waktu dua jam itu saya habiskan dengan melihat sekitar. Pikiran saya pun ikut terbang bersama angin yang membelai pipi saya. Betapa bersyukurnya saya bisa sampai ke kota ini dengan selamat, karena ini adalah kali pertama pergi ke luar negeri sendirian. Betapa bersyukurnya saya mengikuti ACUCA Student Camp 2018 ini.

Saya bersyukur akan bertemu anak-anak pilihan dari berbagai universitas berbagai Negara. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik ketika saya melakukan aktivitas di sini. Saya sangat bersemangat untuk mendapatkan teman baru. Saya akan berkenalan dengan banyak orang.

Sesampainya di Christian University Thailand, saya langsung diantar ke kamar dan ternyata teman sekamar saya sudah menunggu. Ia adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang berasal dari Taipei, Taiwan. Dia baik, saya banyak mengobrol dengannya seputar isu-isu sosial. Tentu saja karena kami sama-sama berasal dari ilmu sosial. Saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan ia mengambil jurusan Ilmu Sosiologi. Betapa menyenangkan setiap hari saya berdiskusi diantara waktu senggang.

Hari-hari yang saya lalui di ACUCA Student Camp 2018 sangat menyenangkan. Saya berkenalan hampir dengan semua orang yang ada di sana. Semua orang tampak sangat ceria dan membagi kasih satu sama lain. Semua orang sangat ramah, dan aktif mengemukakan pendapat. Semuanya menceritakan bagaimana keadaan negaranya. Ada yang berasal dari Hongkong. India, Filipina, Jepang, Thailand, Vietnam, Timor Leste, Korea, Cuba, Taiwan, dan tentu saja Indonesia.

Kami selalu berdiskusi satu sama lain, seakan tak pernah kehabisan topik. Kami berdiskusi tentang apa saja, seperti makanan khas sampai keadaan sosial politik dari setiap Negara. Saya belajar banyak tentang keadaan sosial politik di berbagai Negara di Asia, dan saya juga menjelaskan tentang keadaan di Indonesia. Kami juga berbicara mengenai isu kesetaraan jender dan LGBT. Kami juga menceritakan pengalaman kami selama menjadi mahasiswa, aktivitas apa yang kami lakukan setiap harinya, apa yang kami pelajari selama di kampus, dan sebagainya.

Sita Nareswari keempat dari kanan, dalam kegiatan ACUCA Student Camp 2018 di Thailand

Diskusi-diskusi kecil ini bisa berlangsung di mana saja. Bisa di jalan ketika kami akan pulang ke kamar. Bisa di meja makan. Bisa di tepi danau ketika kami sedang memiliki waktu luang. Bisa di minimarket ketika kami akan membeli makanan kecil. Tetapi, diskusi panjang biasanya kami lakukan di meja makan. Ada banyak sekali cerita yang saya dengar ketika di meja makan dan tentunya banyak pelajaran yang dapat saya ambil.

Tema Student Camp tahun ini adalah dampak internet bagi para mahasiswa di Universitas Kristen dan Katolik yang ada di Asia. Selama di sana saya juga mendengarkan presentasi dari Dr. Jim Wilder yang merupakan neurophisicologist. Ia menjelaskan tentang bagaimana otak kita bekerja dengan bantuan internet, dan dampak internet bagi otak kita. Menurut saya ini adalah hal yang sangat menarik. Dr. Jim mengatakan bahwa ada beberapa dampak negatif dari internet yang akan menimpa diri kita. Yaitu ketika kita menggunakan telepon genggam kita secara berlebihan, dan kekurangan waktu untukĀ  berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita.

Karena ketika kita banyak melakukan interaksi tatap muka dengan orang lain, otak kita akan selalu belajar untuk menangkap pesan dari orang lain. Pesan tersebut tak hanya pesan verbal, tetapi secara non verbal. Kita bisa melihat bagaimana ekspreksi dan mimik wajah orang lain yang diberikan kepada kita ketika mereka berbicara. Ketika kita terus bekerja dan hanya berinteraksi dengan orang lain secara online, kemampuan untuk mengerti perasaan orang lain, dan ekspresi orang lain lama kelamaan akan memudar dari otak kita.

Student camp ini juga mengajarkan para peserta untuk berinteraksi satu sama lain secara aktif. Bahkan kami ditantang untuk tidak menggunakan telepon genggam sama sekali selama satu jam dan harus memperluas pertemanan sebanyak-banyaknya dengan cara mengajak orang lain berinteraksi. Sebagai seorang yang berasal dari ilmu sosial, saya rasa kegiatan ini merupakan sebuah social experiment, dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Para peserta jadi makin akrab untuk berinteraksi satu sama lain.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari ACUCA Student Camp 2018 ini. Pelajaran pertama adalah untuk menjadi dampak bagi sesama. Selama di sana, saya merasa para peserta dan dosen saling memberikan dampak bagi satu sama lain. Semua benar-benar memainkan perannya, dan saya merasakan kasih selama ACUCA Student Camp 2018. Saya merasa memiliki teman di sana. Semua orang saling membantu.

Pelajaran ke dua adalah, saya merasa tertantang untuk belajar lebih lagi dan membaca lebih lagi. Semakin banyak saya belajar, saya akan semakin tahu kalau banyak sekali hal yang belum saya pelajari di dunia ini. Semakin banyak saya belajar saya semakin tahu kalau saya tidak tahu apa-apa.

Saya merasa, teman-teman peserta yang mengikuti ACUCA Student Camp 2018 sangat kompetitif dalam hal positif. Saya jadi selalu tertantang untuk terus berlari. (Sit.Nar)

Kategori: ,