Tertarik Meneliti Kondisi Napza di Indonesia
Jumat, 14 September 2018 | 15:14 WIB

Udyaksa Pratista Nugrahani atau yang akrab disapa Tista menjadi wisudawan terbaik Program Studi Magister Profesi Psikologi Unika Soegijapranata dengan IPK 3.70. Keprihatinannya terhadap tindakan pengulangan kembali pasien penyalahguna Napza (Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) mendorongnya untuk mengangkat topik tersebut sebagai bahan tesisnya yang berjudul “Hubungan Antara Resiliensi dan Regulasi Emosi dengan Relapse Pasien Penyalahgunaan Napza di Tempat Rehabilitasi Yayasan Rumah Damai Semarang”.

Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa relapse adalah suatu tindakan pasien penyalahgunaan napza yang kembali pada kebiasaan lama menggunakan napza secara berulang setelah berhenti menggunakannya, atau biasa disebut kambuh.

“Saya melihat banyak orang yang terjerat kasus penyalahgunaan napza, bukan cuma orang dewasa tetapi juga remaja dan parahnya bahkan sampai anak-anak. Bahkan dari data yang saya dapatkan, di Indonesia ini penyalahguna napza merupakan terbesar di tingkat Asia dan tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan.”

“Proses pemulihan pasien penyalahguna napza ini tidaklah mudah. Karena jika pasien tidak tertangani dengan baik, maka efek yang ditimbulkan adalah dosis pemakaian yang semakin tinggi atau overdosis yang berujung pada kematian, kerusakan syaraf, dan tentunya kerugian moral dan material bagi keluarga pasien. Dari data BNN, bahkan 60-70% pasien mengalami relapse setelah menjalani rehabilitasi. Oleh karena itu, saya tertarik untuk meneliti topik tersebut. Agar nantinya dapat dijadikan sebagai referensi penyusunan intervensi untuk mengatasi relapse tersebut,” terang Tista.

Tista yang mengambil spesialisasi di bidang psikologi klinis dewasa, dalam penelitian tesisnya, mencoba mengaitkan kasus relapse tersebut dengan resiliensi (kemampuan untuk bertahan dan menyesuaikan diri serta mampu bangkit dari situasi sulit dalam hidup) dan regulasi emosi (kemampuan mengelola emosi untuk menghasilkan respon yang adaptif sesuai tujuan yang diinginkan).

Wanita kelahiran Purworejo, 14 Agustus 1987 ini mengaku dalam menyusun tesisnya pun tak terelak dari sejumlah kendala yang ia hadapi. “Kadang semangat bisa up and down kalau misal nggak nemu-nemu jurnal atau buku referensi yang dibutuhkan, atau jadwal bertemu dosen yang diundur. Cara mengatasinya, saya buat kalender sendiri. Setiap minggu saya tandai paling enggak harus ada progres pengerjaan atau ketemu dosen untuk bimbingan. Biar nggak hilang kontak sama tesisnya. Lalu buat target,” terang Tista menjelaskan tips-tipsnya yang biasa ia lakukan untuk menanggulangi rasa malas ketika mengerjakan tesis.

Selama studi S2 di Unika, Tista bercerita mengenai pengalaman yang paling berkesan baginya. “Pengalaman berkesan waktu menjalani PKPP (Praktik Kerja Profesi Psikologi). Waktu itu kami praktik di RSJ, RSU, dan panti. Di situ saya benar-benar mendapatkan hikmah dan pelajaran berharga yang bisa saya petik dari pengalaman hidup para pasien di sana. Menjadi lebih mensyukuri hidup saya, melihat ke diri saya bahwa masalah yang saya hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Dengan bertemu orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, saya sadar betapa perlunya membentengi diri dengan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai situasi hidup yang keras ini. Bisa berbagi cerita dengan mereka, membantu mereka, bisa meringankan beban mereka secara psikologis merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya karena dapat bermanfaat untuk orang lain,”ucapnya.

“Akhirnya di sini saya bisa menemukan passion saya. Seharusnya saya di sini lebih awal, karena saya sudah merasakan jika kita bekerja atau melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan passion kita, maka kita tidak akan puas dan bahagia menjalaninya,” lanjut Tista, “Saya juga senang selama di S2 ini saya bisa mempelajari hal-hal baru terkait assessment dan intervensi yang tentunya belum saya dapatkan di S1. Tidak hanya teori tetapi kita bisa mengaplikasikannya ke lapangan sebagai bekal nantinya,” terang Tista.

Tista memilih Unika Soegijapranata sebagai tempatnya mengenyam studi S2 Magister Profesi Psikologi karena ia merasa sudah nyaman tinggal di Semarang dan tentunya karena akreditasi Unika dan Fakultas Psikologi yang bagus dan terkenal di Jawa Tengah. (B.Agth)

Kategori: ,