Pendidikan Bisnis Menjawab Tantangan Disrupsi
Rabu, 12 September 2018 | 15:31 WIB

RDRS 12_9_2018 Pendidikan Bisnis Menjawab Tantangan Disrupsi

Oleh: Octavianus Digdo Hartomo

PERKEMBANGAN dan kemajuan teknologi sangat meningkat pesat dan mewarnai dunia bisnis beberapa tahun terakhir. The Internet of Things telah merambah dan mewarnai semua aspek kehidupan bisnis dewasa ini. Saat ini, dunia tengah menyaksikan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar, yang selama beberapa dekade begitu mendominasi digantikan oleh perusahaan rintisan yang berusia di bawah lima tahun. Semua industri saat ini sedang berhitung menghadapi lawan-lawan baru yang tak terlihat, tetapi tiba-tiba menjadi besar. Bahkan, bisa langsung masuk ke rumah-rumah konsumen, dari pintu ke pintu, secara online, melalui telepon pintar.

Peralihan gaya hidup masyarakat juga berdampak pada perputaran roda-roda ekonomi yang kiblatnya semakin menuju ke arah digitalisasi ekonomi. Akibat disrupsi teknologi, pihak pabrikan juga akan mengalami dampak disrupsi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis industri lainnya. Banyak pekerjaan di bidang pabrikan yang bisa tergantikan oleh mesin. Selanjutnya, pada sektor finansial dan bisnis akan sangat bisa tergantikan oleh robot suatu saat nanti. Lalu bagaimanakah pendidikan tinggi khususnya pendidikan bisnis harus bersikap dalam menghadapi perubahan yang mendasar dan siginfikan terhadap kehidupan umat manusia ini.

Bagaimana Perguruan Tinggi harus bersikap
Kurikulum dan metode pendidikan harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif. Pada saat ini, sedang terjadi fenomena Industri 4.0 di berbagai sektor. Bukti fenomena ini adalah diterapkannya teknologi online dan digital pada berbagai sektor industri yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Secara umum kebijakan pendidikan tinggi dalam era revolusi Industri 4.0, harus mencakup empat fokus utama.

Pertama, paradigma Tri Darma Perguruan Tinggi harus diselaraskan dengan era Industri 4.0. Kedua, perlunya reorientasi kurikulum untuk mencakup pengetahuan baru seperti big data, teknologi/ coding dan juga humanities. Dibutuhkan juga kemampuan soft skill dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler berupa pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim. Kegiatan yang menekankan pada kemampuan kewirausahaan dan magang juga perlu diwajibkan bagi bagi para mahasiswa. Ketiga, perguruan tinggi juga harus menerapkan sistem pembelajaran hibrid atau blended learning online. Dan keempat, perlu juga untuk mendorong Perguruan Tinggi melakukan inovasi dan riset yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menyokong sektor ekonomi serta daya saing bangsa di tengah arus percaturan global.

Langkah Pendidikan Bisnis dalam Menghadapi Tantangan Disrupsi
Pertama, terkait pengelolaan kurikulum pendidikan bisnis. Tuntutan pasar dewasa ini cenderung pada lulusan yang bersifat generalis, bukan specialis. Sementara profil lulusan di dalam kurikulum harus dirumuskan dengan spesifik. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan bisnis sebagai acuan dan rujukan dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar jelas harus senantiasa diperbaharui, agar tidak ketinggalan dengan kebutuhan pasar.

Kedua, terkait pengembangan isi pembelajaran. Isi pembelajaran harus perlu terus diadaptasikan dengan perkembangan dan perubahan yang ada, Bahan kajian mungkin saja tetap tidak berubah, namun fokus penekanan dalam perkuliahan harus berubah. Penggunaan big data yang tengah terjadi di lapangan serta coding perlu diajarkan di kelas-kelas bisnis agar mampu mensinkronkan kemajuan teknologi dengan ilmu yang diperoleh oleh para mahasiswa.

Ketiga, peningkatan kerjasama antar pendidikan bisnis dengan dunia industri. Dunia kerja berubah sangat cepat dan tidak ada cara lain kecuali mencermati perkembangan pasar. Untuk itu, kerjasama kampus sekolah bisnis dengan dunia industri harus lebih diintensifkan. Riset-riset aplikatif dalam bisnis yang melibatkan mahasiswa untuk penelitian skripsinya, dan diperkuat dengan praktik kerja langsung atau magang di dunia industri akan memperkuat link antara kampus dan dunia industri.

Keempat, perlunya mengembangkan kemampuan berpikir kritis bagi para mahasiswa sekolah bisnis. Institusi pendidikan bisnis harus mampu membangun kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Tujuannya agar mahasiswa sekolah bisnis mampu merespons derasnya informasi di era teknologi serta memiliki ketrampilan untuk memilah dan juga mengkritisi keakuratan informasi.

Kelima, perubahan metode pembelajaran. Peran dosen pada sekolah bisnis mesti beralih dari sekedar mentransfer pengetahuan menjadi seorang fasilitator dalam diskusi, praktisi dalam bisnis yang kaya dengan pengalaman, serta mampu menjadi pengarah nilai/pengawal etika dalam berbisnis. Selama ini karakter etis dan sikap moral dalam berbisnis masih sangat diperlukan agar mahasiswa tidak terseret perilaku bisnis yang semata berorientasi pada maksimalisasi profit dan mengesampingkan aspek etis dalam bisnis. Dosen bisa berperan dengan baik di sini, apabila punya pengalaman yang kaya, mampu mengembangkan studi kasus yang berbasis data lapangan sebagai bahan diskusi, mampu mengkritisi praktik dalam dunia bisnis dari sisi etika. Pengakuan terhadap pengalaman kerja di lapangan, dan juga kemampuan atau ketrampilan yang diperoleh lewat kursus singkat yang bersertifikasi, memberi peluang pada pendidikan bisnis untuk menambahkan program sertifikasi yang relevan bagi para mahasiswanya selain pendidikan formal yang diberikan.

Pendidikan bisnis memang harus berubah dalam mengantisipasi era disrupsi, peran pendidikan bisnis sangatlah strategis dalam menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus memiliki sikap etis dalam berbisnis. Perubahan dalam kurikulum, isi dan metode pembelajaran, pengembangan kemampuan berfikir kritis dan etis serta peningkatan kerjasama pendidikan bisnis dengan dunia industri mutlak harus dilakukan oleh pendidikan bisnis agar lulusan yang dihasilkan relevan dan mampu mensinkronisasi praktik bisnis dengan revolusi industri 4.0 yang berjalan saat ini.

*) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

â–ºJawa Pos Radar Semarang, 12 September 2018 hal. 3, 7

Kategori: ,