Mendesak, Penanganan Rob di Pesisir Demak
Rabu, 19 September 2018 | 12:10 WIB

SM 19_09_2018 Mendesak, Penaganan Rob di Pesisir Demak

■ Hasil Riset Tim Peneliti Insinas

Tim Peneliti Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (Insinas) yang diketuai Dr Rr MI Retno Susilorini ST MT dari Unika Soegijapranata melakukan penelitian soal banjir dan rob di pesisir pantai Semarang dan Demak.

Dari hasil penelitian tersebut, penanganan rob di pesisir Demak, tepatnya di Pondok Raden Patah, RW08 Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung mendesak dilakukan untuk menyelamatkan wilayah tersebut.

Menurut Retno, ancaman abrasi di pesisir pantai Demak begitu hebat. ”Pada penelitian awal 2017, ada gelombang pasang besar yang mengakibatkan abrasi. Ada rumah yang hilang dan tinggal separo, bahkan ketika berada dirumah itu, langsung berdekatan dengan laut,” katanya saat memberikan keterangan pers di Gedung Mikael, Unika Soegijapranata, Selasa (18/9).

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat setempat yang sebagian besar buruh itu tetap nekat tinggal karena keterbatasan ekonomi. Sebelumnya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata juga pernah melakukan penelitian pada 2015. Rumah yang pernah menjadi objek penelitian kini sudah hilang tergerus abrasi.

”Ini menjadi keprihatinan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir abrasi begitu hebat. Kalau tidak ada penanganan berarti, maka Desa Sriwulan itu bisa hilang,” kata dosen Program Magister Lingkungan dan Perkotaan, Unika itu. Tidak hanya masyarakat terdampak, pemangku kepentingan lain juga harus turun tangan menanganinya.

Bantuan
Dikatakan, abrasi di Sriwulan itu bisa menggerus bibir pantai antara 2,5 hingga lima meter/tahunnya. Melalui fokus grup diskusi turut dihadiri Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang dan Bappeda Kabupaten Demak. Ia juga mengkritisi pendataan warga pesisir di Desa Sriwulan yang sebagian besar tergolong kurang mampu. Dalam kondisi seperti itu, Sriwulan mendapatkan banyak bantuan dana desa. Kenyataannya, hanya mendapatkan bantuan Rp 90 juta untuk membangun akses jalan 200 meter.

Adapun, hasil risetnya di Panggung Lor, Kecamatan Semarang Utara kini sudah tertata dengan baik.

”Warga setempat itu bisa urunan dan mengupayakan pompa penyedot air. Guna mengurangi abrasi, warga juga membangun tanggul. Hasil fokus grup diskusi ini akan disampaikan dalam bentuk rekomendasi terhadap pemerintah daerah setempat.

►Suara Merdeka 19 september 2018 hal. 21

Kategori: