LPPM Unika Selenggarakan FGD, Bahas Strategi Adaptasi Banjir dan Rob
Rabu, 19 September 2018 | 11:44 WIB

Sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan “Strategi Adaptasi Terhadap Banjir dan Rob di Pesisir Semarang dan Demak,” telah diselenggarakan oleh LPPM Unika Soegijapranata, melalui kegiatan penelitian yang didanai oleh INSINAS Riset Pratama individu 2018, pada hari Selasa (18/9) bertempat di ruang seminar LPPM, gedung Mikael.

Saat wawancara sebelum acara, Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., M.T. selaku ketua tim peneliti sekaligus dosen tetap Program Magister Ilmu Lingkungan Unika menjelaskan tentang kegiatan penelitian yang menjadi salah satu bagian dari penelitian “Strategi Adaptasi Masyarakat Pesisir Semarang untuk Mitigasi Pengurangan Resiko Bencana Banjir dan Rob akibat Perubahan Iklim.”

“Jadi kami mendapat kepercayaan dari Kementerian Ristek Dikti untuk melakukan penelitian di bawah Direktorat Pengembangan Teknologi Industri. Jadi Direktorat ini memberikan dana hibah penelitian ini namanya INSINAS (Insentif Riset Nasional) yang kami peroleh secara kompetitif dan bersaing. Disamping itu, di Unika Soegijapranata sendiri kami satu-satunya tim yang mendapatkan dana hibah dari INSINAS. Dalam tim ini kami juga  menggandeng atau berkolaborasi dengan perguruan tinggi lain yaitu dengan Universitas Mercu Buana dan ITERA (Institut Teknologi Sumatera) yaitu dengan Bu Desi dan Bu Mea,” terang Dr. Retno.

“Dalam penelitian ini, kami mengambil topik mengenai strategi adaptasi masyarakat pesisir di Semarang dan di Demak yang sangat rawan terhadap rob dan banjir. Keprihatinan kami ini bermula dari berbagai riset pendahuluan yang sudah kami lakukan sesuai bidang kami masing-masing dan kemudian kami menemukan masalah. Kami mendapatkan dana hibah dari tahun 2017 sampai dengan 2019 dan ini adalah tahun yang kedua untuk berlangsungnya penelitian,” lanjutnya.

“Secara keseluruhan kami sebetulnya ingin mencari penyelesaian yang tepat yaitu berupa strategi adaptasi karena riset ini adalah riset dasar jadi belum sampai ke tahap penerapan,  Tingkat Ketercapaian Teknologinya pun untuk riset dasar. Kami ingin model-model yang kami terapkan di lapangan, nantinya akan berkembang setelah kami selesai paket tiga tahun ini masuk ke riset terapan jadi langsung dijalankan lagi dengan skala yang lebih besar mungkin dengan daerah lain di Indonesia.”

Lebih jauh, Dr. Retno juga mengungkapkan perihal penelitiannya di lapangan, terkait kondisi fisik yang dijumpai di Semarang dan Demak sebagai dua daerah yang spesifik karena yang di Semarang itu perkotaan, yang di Demak itu desa tetapi desa yang di tepi pantai dan harusnya itu desa nelayan tapi ternyata sekarang sudah tidak ditinggali nelayan tapi ditempati para buruh yang menempati perumahan yang dulu juga ditempati para pegawai.

Salah satu desa di Demak yaitu desa Sriwulan yang letaknya di tepi laut, dulu adalah bekas perumahan pondok Raden Patah. Yang memprihatinkan sebetulnya adalah sudah banyak beberapa desa yang di Demak itu sudah mulai kena ancaman abrasi yang hebat termasuk desa Sriwulan.

“Kami mengadakan penelitiannya mulai awal 2017 dan pada akhir 2017 (1 Desember 2017) itu ada bencana besar yaitu di mana gelombang pasang ini mengakibatkan abrasi dan daerah yang  kami teliti ini di wilayah RT 7 RW 8, semua rumah di satu RT tersebut kena abrasi hingga kondisi rumah tinggal ruang tamunya saja atau emparannya saja dan sebagian besar penduduk itu tidak bisa melakukan hal lain kecuali tetap tinggal karena tidak ada dana,  mereka punya keterbatasan ekonomi jadi satu aspek sosial yang lain adalah kemiskinan yang kami temui di sana. Ini sebetulnya menjadi keprihatinan juga bahwa setiap saat itu bencana bisa berlaku dan terutama bagi penduduk di sana adalah bagaimana mereka melakukan strategi adaptasi untuk masalah bencana yang dialami, selain itu strategi adaptasi oleh masyarakat ini tidak hanya strategi adaptasi masyarakat terdampak tapi juga stakeholder yang lain misalnya pemerintah daerah.”

Tri Dharma Perguruan Tinggi

Sedangkan Kepala LPPM Unika Soegijapranata, Dr. Bertha Bekti Retnawati, SE.,M.Si memaparkan tentang peran dan kontribusi LPPM Unika Soegijapranata untuk masyarakat.

“Pada kesempatan ini saya akan mencoba sedikit menggambarkan bagaimana LPPM secara umum yang tentunya kita sepakat sekali bahwa dalam perguruan tinggi LPPM ini memegang dua kunci dari Tri Dharma yaitu penelitian dan pengabdian,” tutur Dr. Bertha.

“Seperti yang disampaikan oleh Bu Retno, kita mencoba untuk tidak berdiri sendiri, kita mencoba apa yang kita lakukan tidak hanya dalam satu hal saja misalnya dalam pengajaran atau penelitian saja atau pengabdian saja tapi kita mencoba mengintegrasikan dari ketiga hal tersebut. Tentunya bagi ibu bapak sudah sangat memaklumi dan menghayati betul bagaimana Tri Dharma ini menjadi kegiatan yang saling kait mengkait. Kami sebagai dosen kalau mengajar hanya dengan teori saja rasanya juga kering tetapi kalau meneliti terus kami juga kewajibannya mengajar oleh karenanya dari tiga Tri Dharma itu kami coba untuk dalam satu penugasan bagi para dosen dan tentunya kita sepakat betul bahwa Tri Dharma ini satu simbiosis yang saling berkaitan.”

“Tentunya kita berharap Unika ini berada di Semarang, berada di Jawa Tengah dan Indonesia, kita berharap bisa bermanfaat betul bagi siapapun, oleh karenanya kalau ke atas itu kita maunya ke kesejahteraan masyarakat yang punya banyak hal yang perlu kita lakukan dan kampus tidak boleh berdiam diri, sebagai misal hari ini kami mencoba untuk membumi sehingga penelitian Bu Retno ini sungguh menjadi satu masukan yang sangat besar bagi pemerintah provinsi, pemerintah kota dan tentunya jenis skala nasional apabila bisa  dibawa ke dalam tataran Global artinya bahwa kesehatan masyarakat ini menjadi pilar yang kita harus dukung dalam tiga hal yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi serta manusia yang berkualitas tentunya menjadi satu mimpi kita bersama terkait dengan peran Universitas dalam hal ini khususnya di LPPM,” tandasnya. (fas)

Kategori: ,