Keseimbangan Baru dengan Normalitas Baru
Sabtu, 15 September 2018 | 15:48 WIB

Puncak dalam suatu perjalanan studi di perguruan tinggi tentu sangat dinanti-nanti oleh para mahasiswa, terlebih saat para mahasiswa telah berhasil menyelesaikan studi dengan cemerlang. Tentu saja prosesnya tidak berhenti pada selesainya studi, tetapi penerapan ilmu yang sudah di dapat selama studi juga menjadi tantangan bagi para lulusan perguruan tinggi untuk bisa bertahan dan mengembangkan diri bahkan beradaptasi ke masa depan, terlebih di era ‘Normalitas Baru’.

Pada hari Sabtu (15/9) bertempat di Sporthall gedung Yohanes Paulus II Unika Soegijapranata, telah diselenggarakan wisuda periode II tahun 2018, dengan mewisuda sekitar 439 wisudawan dari sembilan fakultas di Unika Soegijapranata.

Dalam wawancara sebelum acara wisuda, Rektor Unika Soegijapranata Prof. Dr. F Ridwan Sanjaya, MS., IEC menyinggung tentang ketahanan dan ketangguhan dalam menghadapi ‘Normalitas Baru’.

“Dunia saat ini sedang menghadapi ‘Normalitas Baru’ (The New Normal). Istilah The New Normal itu dicetuskan pertama kali oleh Paul Dover di Philadelphia City Paper pada saat itu dunia bisnis sedang mencari titik normal baru setelah krisis ekonomi. Demikian juga kita menghadapi hal yang sama, semua sedang berubah, orang-orang merasakan tidak sama lagi seperti dulu. Jika dulunya bisa dilakukan secara manual, sekarang ini sudah otomatisasi sehingga banyak orang yang mungkin terganggu pekerjaannya.

Lulusan-lulusan yang menghadapi dunia yang baru ini apabila tidak siap menghadapi the new normal yang sedang mencari bentuk yang baru, atau tidak dibekali dengan sesuatu yang berharga pada saat lulus nanti, mereka hanya akan jadi penonton. Pekerjaan yang akan datang bukan hanya semata-mata soal kemampuan praktis tetapi juga bisa beradaptasi dengan cepat dan menyikapi dengan cepat pula,” tegas Prof. Ridwan.

“Memang kemampuan praktis itu penting tetapi tidak semata-mata soal teknis atau menguasai teknologi informasi saja. Bahkan ada pandangan yang menurut saya itu menyesatkan kalau yang akan datang itu lebih dibutuhkan kemampuan prakteknya saja. Padahal yang penting justru termasuk softskill-nya, sehingga ketika kita menguasai sesuatu maka menghadapu sesuatu yang baru dengan kemampuan analitik yang dikembangkan oleh perguruan tinggi, mereka bisa menyikapinya dengan positif dan menciptakan sesuatu yang baru pula, termasuk peluang-peluang baru untuk dirinya sendiri.”

Lebih lanjut Prof Ridwan menjelaskan bahwa hendaknya orang tidak terpaku hanya pada teknologi informasi. Namun teknologi informasi merupakan suatu jalan baru yang memang tidak bisa dihindari. Yang penting adalah bagaimana menyikapi hal yang baru tadi melalui kombinasi teknologi informasi dengan kemampuan analisa, serta kemampuan mereka dalam beradaptasi.

“GRIT” yang dicetuskan oleh Angela Lee Duckworth, Profesor dari University of Pennsylvania, jadi kunci keberhasilan itu yaitu kombinasi antara semangat dan ketekunan tapi dalam jangka yang panjang. Seperti lari, kita tidak bisa lagi lari jarak pendek sekarang ini, tapi harus maraton. Nafasnya harus kuat dan ketahanan untuk menghadapi perubahan menjadi penting sehingga mahasiswa nanti bisa survive setelah lulus. (Fas)

Baca juga: “New Normal” dalam Pendidikan Tinggi

Kategori: ,