Kasih untuk Tanah Air
Rabu, 5 September 2018 | 10:47 WIB

Berkat 2018 Kasih Untuk Tanah AirBerkat 2018 Kasih Untuk Tanah Air2

Oleh: Ignatius dadut Setiadi

Pada 17 Agustus 2018 ini Negara Kesatuan Republik Indonesia akan berusia 73 tahun. Jika disamakan dengan usia manusia maka masuk dalam kategori manusia usia lanjut (manula). Namun jika dibandingkan usia sebuah negara maka 73 tahun adalah usia yang sedang menapaki perkembangan di berbagai aspek. Indonesia dalam kawasan benua Asia termasuk kategori negara berkembang, sedangkan Jepang, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan adalah 5 negara di Asia yang disebut Negara Maju. Salah satu indikator perbedaan negara maju dan berkembang dapat kita lihat dari pendapatan per kapita, pertumbuhan penduduk, angka kematian bayi, angka kelahiran, dan usia harapan hidup. Tentunya kelima indikator tersebut sangatlah dipengaruhi oleh: yang pertama, indikator kuantitatif misalnya jumlah dan kepadatan penduduk, tingkat pertumbuhan penduduk. Kedua, indikator kualitatif dipengaruhi oleh etos kerja, tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan lain lain.

Kasih Untuk Indonesia
Indonesia adalah negara terbesar ke-4 dengan jumlah penduduk sekitar 250 jt di dunia setelah Cina dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 milyar, India sekitar 1.06 milyar, dan AS sekitar 294 juta orang. Indonesia menjadi negara urutan pertama yang penduduknya menganut agama Islam dengan jumlah sekitar 199 juta atau 85 % dari jumlah penduduknya dan selebihnya menganut agama Budha, Hindu, Katolik, Kristen, Konghucu, dan aliran kepercayaan. Indonesia mempunyai suku berjumlah lebih kurang 1128. Dengan melihat data tersebut, Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam budaya dan agama cukup banyak serta heterogenitas yang luar biasa.

Jika kita cermati sejarah bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 tentunya kita semua bisa mengamati dan menganalisa bahwa setelah kemerdekaan diproklamirkan ternyata masih banyak peperangan dan gesekan-gesekan dengan para penjajah dalam hal ini bangsa Belanda yang masih berkeinginan menjajah yang dikenal dengan Agresi Belanda I 12 Juli 1947 dan Agresi Belanda II 19 Desember 1948. Bahkan beberapa kali pemberontakan oleh rakyatnya sendiri di antaranya: Peristiwa Madiun 18 September 1948 dipimpin Moeso yang beraliran kiri mendirikan Sovyet Republik Indonesia, Pemberontakan Kartosuwiryo 19 Desember 1948 yang menginginkan berdirinya negara Islam di Jawa Barat, Pemberontakan G 30 S PKI 30 September 1965 yang menginginkan negara komunis dan masih banyak lagi pemberontakan yang dilakukan oleh segelintir rakyat Indonesia sendiri. Pemberontakan dan peperangan yang terjadi tersebut membuktikan bahwa bangsa dan rakyat Indonesia memperoleh kemerdekaan bukanlah pemberian dari negara lain tetapi diusahakan dengan perjuangan dan pengorbanan para pemimpin dan rakyatnya. Perjuangan dan pengorbanan para pejuang tersebut membuktikan bahwa negara ini bisa merdeka’ karena masih banyak rakyat yang memiliki "Kasih dan Cinta untuk Tanah air Indonesia".

Mgr. Al. Soegijapranata SJ, Uskup KAS dan pahlawan Indonesia yang pada bulan September 1948 ketika bangsa Indonesia menghadapi pemberontakan Madiun dibawah pimpinan Moeso dan Amir Syarifudin yang menginginkan berdirinya negara komunis, menulis dalam surat kabar yang benama "Hidup" yang terbit di Yogyakarta: "Kasih akan tanah air itulah yang mendorong kita untuk menyelenggarakan mufakat yang kuat di antara sesama warga negara dengan mengindahkan keadilan dan kecintaan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Sebagai warga negara yang tulus kita berani merasa baik, berpikir baik, berbicara baik, dan berbuat baik terhadap orang lain. Kasih akan tanah air itulah terutama yang melarang kita merugikan kepentingan umum, untuk menguntungkan suatu golongan atau lapisan. Barang siapa sudi mengorbankan keselamatan umum, untuk kepentingan orang per seorang atau golongan, sungguhlah cinta kasihnya kepada tanah air itu tiada effectief meskipun dapat juga terlalu effectief (terasa), penuh, dan menggempar. Sebaliknya barang siapa memperhatikan undang – undang dan keadilan sosial dengan ikhlas hati, is itu sungguh kasih akan tanah airnya….".

Sebagai seorang Uskup yang nasionalis dan sekaligus pahlawan nasional, beliau sangat berani menyuarakan kecintaan kepada tanah air dengan mengajak seluruh bangsa Indonesia yang telah mampu memerdekakan diri dari penjajahan untuk selalu menjadikan kemerdekaan sebagai awal kehidupan seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai aneka ragam suku dan agama untuk sating mengusahakan perdamaian dan mengisi kemerdekaan dengan bertanggung jawab.

Marilah kita renungkan bersama salah satu ayat perihal konteks kebebasan beragama dan menganut keyakinan sekaligus batasan kebebasan/kemerdekaan agar bertanggung jawab: "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk berbuat dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Surat rasul Paulus kepada jemaat Galatia ini merupakan pengejawantahan hukum kasih yang diberitakan oleh Yesus kepada kita agar dilakukan oleh umatnya yang mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Marilah kita mendoakan mereka yang mengatas-namakan kemerdekaan dan ingin berbuat sesuka hati agar bisa bertanggung jawab dan tidak sampai melecehkan pihak lain. Kita juga jangan terpancing untuk ikut-ikutan melecehkan mayoritas umat Islam hanya karena kemarahan kalangan minoritas di dalamnya, sebaliknya kita juga perlu mendoakan mereka yang mengaku beragama tetapi menjadi pemarah dan hakim, dan marilah kita memperkenalkan dengan kesaksian kita mengenai ‘kasih’ Tuhan yang telah diajarkan kepada kita yang membebaskan manusia termasuk bebas dari kernarahan.

Kemerdekaan adalah sebuah kebebasan dari penindasan atau pemberontakan yang harus dirayakan dengan pesta kemenangan. Namun, kemerdekaan juga harus selalu dibarengi dan terus kita pelihara dengan cinta atau kasih kepada tanah air yang kita wujudkan dalam pengabdian kita kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan talenta-talenta yang kita miliki. Ketika semakin banyak rakyat Indonesia mempunyai kasih kepada tanah air maka Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman akan terwujud.

Selamat Hari Ulang Tahun Negara Republik Indonesia ke-73. Indonesia Jaya, Indonesia Mulia, Indonesia Sejahtera

________________________________
Ignatius Dadut Setiadi
Anggota The Soegijapranata Institute (TSI) dan
Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata

â–ºBERKAT / No. 91 / Tahun ke-16 / Juli – Agustus 2018

Kategori: ,