Unika Soegijapranata Rayakan Dies Natalisnya yang ke-36
Senin, 6 Agustus 2018 | 19:58 WIB

Sebagai puncak acara dari rangkaian kegiatan Dies Natalis Unika Soegijapranata yang ke-36, pada hari Senin (6/8) bertempat di ruang teater gedung Thomas Aquinas, telah diselenggarakan upacara Dies Natalis yang dihadiri oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan (tendik) serta para pembina dan pengurus Yayasan Sandjojo, Kepala LL Dikti Wilayah VI Jawa Tengah serta para undangan lainnya.

Dalam acara tersebut, Rektor Unika Soegijapranata Prof. Dr. F Ridwan Sanjaya, MS., IEC memaparkan capaian prestasi Unika Soegijapranata dalam  periode satu tahun akademik 2017-2018.

“Program kerja empat tahun yang disebut sebagai UnikaConnect merupakan usaha universitas dalam menghubungkan talenta-talenta di dalamnya dengan berbagai kesempatan dan hal-hal baik di masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan satu tahun terakhir ini, berbagai program inovatif di Unika Soegijapranata sudah dilakukan untuk merealisasikan  UnikaConnect,” papar Prof. Ridwan.

“Berbagai program inovasi yang dilakukan agar dapat memberikan layanan yang semakin baik bagi dosen, mahasiswa, orangtua, dan alumni serta setiap orang maupun lembaga di luar Unika yang terhubung dengan Unika. Sebagai contoh (1) UPT PRM mengembangkan Asisten Virtual “VANIKA”; (2) UPT SSCC mengembangkan Aplikasi Halo Alumni berbasis Android; (3) UPT Kemahasiswaan mengembangkan fitur e-certificate yang tersimpan di dalam server dan dapat digunakan sewaktu-waktu, serta terhubung ke dalam rekam jejak mahasiswa secara real-time; sedangkan (4) UPT Penerbitan mengembangkan platform penulisan buku dan e-book yang terhubung ke penerbit nasional maupun internasional; (5) Biro Administrasi Umum meluncurkan aplikasi “UnikaKita” untuk menerima pengaduan terkait kondisi infrastruktur secara lebih cepat; (6) LPPP mengembangkan platform Hybrid Learning untuk perkuliahan jarak jauh yang terintegrasi dengan sistem informasi akademik yang telah ada; serta (7) LPSDM mengembangkan sistem kepegawaian yang lebih proaktif dan terhubung dengan sistem yang saat ini tersedia. Tercatat, lebih dari 28 digitalisasi yang telah dikembangkan untuk berbagai layanan bagi civitas akademika,”jelasnya.

Dalam penjelasannya, Prof. Ridwan selaku rektor Unika juga  memaparkan pengembangan-pengembangan yang telah dilakukan baik dalam aspek sumber daya manusia yang meliputi dosen dan tenaga kependidikan, serta kemahasiswaan maupun  aspek sarana dan prasarana, juga dalam penelitian dan pengabdian serta pengajaran sebagai pengejawantahan Tri dharma Perguruan Tinggi.

Habitus Digital

Sementara dalam acara Dies Natalis, Robertus Setyawan Aji Nugroho, M.Comm.IT,. Ph.D  sebagai salah satu dosen Unika yang baru saja menyelesaikan studi S-3 nya turut menyampaikan Orasi Ilmiah dengan judul “Habitus Digital: Menguasai Teknologi untuk Hidup Lebih Baik”.

Aji Nugroho, Ph.D dalam ulasannya menjelaskan tentang kebiasaan-kebiasaan apa yang harus dibangun untuk menjadi peneliti yang baik kemudian yang berkualitas, selanjutnya juga menguasai teknologi tersebut untuk hidup masyarakat yang lebih baik. Jadi fokus utamanya adalah sinergi antara pemerintah, masyarakat pelaku usaha dan akademisi.

“Saya mencoba menunjukkan apa sih contoh-contoh kerjasama antara pemerintah dengan pelaku usaha, juga antara pelaku usaha, pemerintah dengan akademisi dan sebagainya. Kemudian bagaimana akademisi harus merespon keprihatinan-keprihatinan masyarakat, jadi seperti yang  saya contohkan tadi dengan sosial media, bagaimana mencari topiknya, meneliti dan menganalisa topik pembicaraan, kemudian dari situ untuk bisa dipakai berbagai macam kebijakan dan sebagainya.”

“Sedangkan tantangan di Indonesia terkait penguasaan teknologi cukup besar karena pertama teknologinya datang sangat cepat dan Indonesia pasarnya luar biasa, yakni 50% penduduk itu sudah menggunakan internet, itu berarti sekitar 140 juta orang dan jumlah itu sangat besar. Jadi tantangannya tidak hanya sekedar bagaimana mengatur jumlah orang sebanyak itu, tapi juga start-up dan pelaku usaha yang muncul juga harus diatur dan itu ternyata tidak mudah. Maka kerjasama atau sinergi tadi sangat penting karena akademisi itu yang punya waktu, punya kemampuan untuk melakukan penelitian sehingga bisa mengenali proyeksi masalah atau memprediksi masalah-masalah yang ada di masa depan tidak hanya di masa kini sehingga nanti pemerintah menjadi lebih siap,” urainya.

“Jadi ketika misalnya nanti ada start-up baru entah perusahaannya apa; contohnya right sharing kemudian ada mungkin money sharing, juga peminjaman uang tunai, bagaimana mengatur itu semua? Maka kita perlu siap sebelum mereka ini tiba-tiba merebak dalam masyarakat lalu menimbulkan gejolak masalah, oleh sebab itu harus diberi regulasi yang tepat dulu. Dan Ini membutuhkan kerjasama yang panjang, karena itu saya mengusulkan konteks konsep kerjasamanya dengan pemerintah itu tidak hanya sekedar mengadakan seminar atau lainnya, tapi dikembangkan menjadi model ke fellowship, jadi jangka panjang begitu, kemudian pengembangan laboratorium bersama dan juga skema-skema hibah yang semakin banyak,” tutupnya. (fas)

Kategori: ,