PDIL Unika Kenalkan Tujuh Paradigma Penelitian Dalam Kuliah Tamunya
Minggu, 5 Agustus 2018 | 13:48 WIB

Kuliah tamu yang menghadirkan Prof. Dr. Iwan Triyuwono, M.Sc sebagai pembicara, telah diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata, pada Sabtu (4/8) dengan tema “Metodologi Riset dan Konstruksi Disertasi Ilmu Lingkungan Berbasis Pendekatan Kualitatif dan Multiparadigma.”

Dalam sambutannya Ketua Program PDIL Unika Soegijapranata Prof. Andreas Lako mengemukakan tentang pandangannya terkait program doktor Unika yang concern dalam bidang Ilmu Lingkungan, konsentrasi Kepemimpinan Lingkungan.

“Konskuensi program doktor kita adalah ilmu lingkungan, lingkungan berarti menyangkut alam semesta dengan segala isinya berarti manusia kan masuk dalam lingkungan itu. Kemudian lingkungan buatan manusia seperti gedung dan sarana fisik lainnya juga masuk di situ. Jadi konsekuensinya berarti ilmu lingkungan itu ilmu yang multi paradigma, ilmu yang perspektif nya itu harus sangat luas serta konsekuensi kita di program doktor ilmu lingkungan kan disitu, apalagi konsentrasi kita di kepemimpinan lingkungan. Kepemimpinan kan sangat luas jadi kepemimpinan itu menyangkut orang yang memimpin dan yang dipilih sangat luas karena obyek ilmu yang kita pelajari ilmu lingkungan juga sangat luas maka mau tidak mau dalam pendekatan pengajaran, dalam pendekatan riset, dalam pendekatan publikasi ke jurnal, program kita harus multiparadigma,”terang Prof. Andreas.

“Jadi kita harus bisa menerima berbagai paradigma, ada yang paradigma positivisme seperti yang kebanyakan para dosen Unika dalami tapi juga pendekatan-pendekatan lain misalnya pendekatan postmodernism, pendekatan religiusitas, pendekatan keilahian, pendekatan critism dan pendekatan pendekatan lain. Jadi mungkin tidak hanya terbatas ada tujuh pendekatan yang disampaikan oleh penulis dan bisa muncul pendekatan-pendekatan lain yang bisa dikembangkan oleh para mahasiswa kita, bisa jadi itu akan berkembang ke depannya  karena ilmu lingkungan dan kepemimpinan lingkungan sangat luas maka mau tidak mau kita harus memberikan kesempatan kepada para mahasiswa kita itu untuk mengembangkan tugas dari pengelola program itu. Kemudian dia mencoba mengarahkan, mendampingi dan mengikuti mereka sambil semua juga saling belajar, jadi tugas dari program kita tidak hanya harus menghasilkan teori-teori baru, model-model baru, pendekatan-pendapatan baru dan lain-lain, tetapi bisa jadi kemungkinan memunculkan pemikiran-pemikiran baru terkait paradigma mengenai bagaimana mengelola lingkungan alam semesta dan segala isinya termasuk manusia itu di dalam perspektif ilmu,” imbuh Prof. Andreas.

Tujuh Paradigma

Sedangkan Prof. Iwan Triyuwono yang merupakan dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang, dalam paparan materinya menjelaskan beberapa paradigma di dalam melakukan penelitian.

“Ada tujuh paradigma yang saya perkenalkan kepada mahasiswa, yang pada dasarnya paradigma-paradigma itu semacam anak-anak tangga bagi seorang peneliti untuk sampai kepada Tuhannya. Yang umum, penelitian itu adalah paradigma positivis dan biasanya kita menggunakan metode kuantitatif, sedangkan yang lain ini belum banyak dikenal. Anak tangga yang berikutnya ini adalah paradigma interpretivis, berikutnya paradigma kritis, lebih tinggi lagi paradigma postmodernis, kemudian paradigma religionis dan kemudian paradigma spiritualis, serta akhirnya yang ketujuh itu adalah paradigma Ilahi. Jadi secara garis besar, pada konsep diri manusia itu masing-masing paradigma akan beda-beda sampai kepada metodologinya juga beda-beda. Nanti mahasiswa bisa memilih dari tujuh itu kira-kira metodologi dengan paradigma apa yang akan dipakai di dalam penelitian disertasinya,”ungkap Prof. Iwan.

“Sebetulnya metode penelitian itu sangat bervariasi dan bahkan seorang mahasiswa terutama mahasiswa tingkat doktoral itu harus mengcreate sendiri metode yang akan digunakan sesuai dengan riset question yang mereka tetapkan. Jadi memang anak-anak tangga tadi itu tidak harus dilakukan semuanya pada saat dia studi S-3 tapi itu nanti bisa dilakukan setelah mereka selesai S-3 karena kalau mereka berprofesi sebagai peneliti mestinya mereka itu berpikir terbuka, untuk memilih atau menaiki metodologi-metodologi yang lebih tinggi hingga akhirnya mengantarkan dirinya kepada Tuhan dan juga ilmu yang dihasilkan itu adalah ilmu-ilmu yang pada dasarnya bisa membangkitkan kesadaran manusia yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu itu untuk sampai kepada Tuhan,”lanjutnya.

“Peneliti itu bisa menggunakan paradigma apa saja dalam mengembangkan ilmunya baik itu ilmu sosial maupun yang ilmu non sosial karena kita banyak berbicara pada aspek filosofisnya, jadi pada aspek metode itu tergantung Bagaimana aspek filosofis dari masing-masing paradigma ini dipahami oleh peneliti dan akhirnya nanti dia bisa mengcreate sendiri metode penelitian yang dia butuhkan,”tandas Prof. Iwan. (fas)

Kategori: ,