Menaklukkan Revolusi Industri 4.0
Senin, 6 Agustus 2018 | 15:20 WIB

Oleh : Alexandra Adriani Widjaja

Oleh : Alexandra Adriani Widjaja

DUNIA mulai mengalami perubahan. Kata disrupsi mulai menggema dimana-mana. Kita memahaminya sebagai kondisi dimana telah terjadi perubahan drastis. “Kondisi dimana sesuatu tercabut dari akarnya.” Seperti yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teknologi dipandang sebagai salah satu pendorong terjadinya disrupsi, dan pada saat yang sama teknologi itu sendiri terus mengalami loncatan demi loncatan dalam perkembangannya. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berusaha berlari mengikuti efek disrupsi, kini juga dihadapkan dengan revolusi industri 4.0. Presiden Joko Widodo telah meresmikan roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0. Hal ini menunjukkan negara kita pun sedang bersiap-siap menghadapi revolusi industri ini.

Revolusi industri pertama dimulai saat ditemukannya mesin uap. Sejak saat itu, secara perlahan tenaga manusia mulai digantikan oleh mesin. Setelah sempat mengalami perlambatan dalam hal penemuan teknologi, revolusi industri kedua dimulai dengan pesatnya industrialisasi di akhir abad ke-19.  Perkembangan pesat dalam bidang teknologi memacu pemanfaatan teknologi dalam berbagai aspek, mulai dari otomatisasi mesin-mesin produksi hingga ke peralatan rumah tangga. Hal inilah yang menandai dimulainya revolusi industri ketiga. Pada saat internet ditemukan di awal tahun 90-an, tidak ada seorangpun yang dapat membayangkan efeknya akan mendorong terjadinya revolusi industri keempat. Jerman mulai memanfaatkan internet untuk mengembangkan Internet of Things dan mengglobalkan revolusi industri 4.0.

Internet of Things atau sering disebut IoT merujuk pada serangkaian kemampuan saat sebuah benda berwujud terhubung ke internet melalui sensor. Istilah Internet of Things diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999. Penerapan IoT memungkinkan benda dapat mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya, lalu kemudian mengirimkan data tersebut melalui internet dan bahkan merespon kondisi tersebut. Contoh penerapan Internet of Things (IoT) antara lain adalah sensor kelembaban tanah pada alat penyiram otomatis. Jikalau dulu alat penyiram otomatis bekerja berdasarkan waktu yang ditetapkan, maka dengan adanya sensor kelembaban, alat penyiram tersebut aktif saat kelembaban tanah dinyatakan kurang oleh basis data yang terhubung pada sensor tersebut. Perusahaan ekspedisi memanfaatkan sensor untuk melacak kendaraan-kendaraan transportasi dan bahkan barang yang sedang dikirim. Dunia kesehatan juga tidak ketinggalan, memanfaatkan sensor untuk memonitor kondisi pasien secara terus menerus secara nirkabel.

Internet of Things hanyalah salah satu contoh bagaimana internet dimanfaatkan dalam berbagai industri. Namun sebenarnya internet itu sendiri telah mendorong pergeseran dunia bisnis konvensional menjadi bisnis digital. Bisnis digital dipahami sebagai bisnis yang berfokus pada web, aplikasi mobile dan media sosial. Model bisnis digital berarti perusahaan lebih memilih untuk menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan teknologi digital. Menurut laporan Accenture Technology Vision 2013, perusahaan yang memilih model bisnis digital memiliki keuntungan kompetitif yang lebih baik, memperoleh peluang bisnis yang lebih baik, serta memiliki peluang lebih tinggi untuk bertahan dalam kompetisi. Model bisnis ini sangat memperhatikan bagaimana cara mereka meningkatkan kepuasan konsumen melalui proses digital. Perusahaan ataupun organisasi yang memiliki banyak sumber daya telah lebih dulu beralih ke pengembangan teknologi, big data analysis, perubahan proses bisnis dan sebagainya untuk mentransformasi diri mereka menjadi sebuah bisnis digital.

Transformasi ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Revolusi industri 4.0 tidak bisa dipandang sebelah mata. Disrupsi telah mengubah cara orang berbelanja dan dengan sendirinya mengubah bagaimana cara orang berbisnis. Kecanggihan teknologi selalu memerlukan sumber daya yang besar, dan itu masih terbukti benar sampai saat ini. Teknologi baru selalu bernilai ekonomis lebih tinggi daripada yang lawas. Jika teknologi memang membutuhkan sumber daya ekonomi yang besar, lalu bagaimana industri rakyat di Indonesia harus bertahan ? Negara yang masih berjuang untuk memberdayakan seluruh lapisan masyarakatnya, yang masih berkutat dengan masalah ketersediaan lapangan kerja, apakah juga harus terlibas dengan teknologi ?

Sumber daya manusia terasa selalu inferior bila dibandingkan dengan mesin. Bila revolusi industri 4.0 dipandang sebagai era dimana mesin menggantikan manusia, tentu tampaknya hal tersebut hanya mendatangkan kecemasan bagi industri di Indonesia, khusunya industri kecil dan menengah. Tetapi bila kita mau melihat sisi lain dari teknologi, maka justru ada kesempatan dan peluang di depan mata. Pesatnya perkembangan teknologi hingga memunculkan adanya Internet of Things (IoT) membuka peluang bagi manusia untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka melalui pemanfaatan sensor. Mari kita lupakan sejenak tentang perseteruan manusia versus mesin.  Kita lihat terlebih dahulu, apa saja yang dapat diberikan Internet of Things bagi manusia.

Hal yang mencolok dari pemanfaatan Internet of Things adalah data. Manusia kini tidak lagi kesulitan untuk memperoleh data. Sensor yang dapat memancarkan dan menerima data secara terus menerus telah memberikan data dalam jumlah yang sangat besar. Petani tidak lagi kesulitan untuk mengetahui kondisi tanah pertanian mereka. Para dokter tidak lagi kesulitan untuk memantau kondisi fisik pasien. Data kini menjadi keunggulan kompetitif. Keunggulan pertama yang diperoleh tentu saja adalah peningkatan kualitas produk. Saat proses produksi bisa diawasi dengan lebih rinci, maka akan memperkecil peluang terjadinya kesalahan produksi. Memonitor kualitas tanah, kondisi kelembaban tanah, dan sebagainya akan memastikan hasil panen yang berkualitas lebih baik.

Keunggulan kedua adalah peningkatan efektifitas dan efisiensi. Data mengenai kondisi mesin atau peralatan, menghindarkan perusahaan dari biaya perbaikan yang berlebihan. Perusahaan dapat mengantisipasi kondisi mesin dan peralatan yang dipakai. Peningkatan efektifitas dan efisiensi ini akan berimbas pada turunnya biaya operasional, dan tentu saja mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi.

Keunggulan berikutnya adalah data konsumen atau target pasar. Business Inteligence menjadi hal yang umum saat perusahaan memiliki akses terhadap data konsumen. Bila dulu perangkat lunak cenderung hanya dapat menganalisa angka, kini perangkat lunak dapat melalukan analisa semantik, atau analisa terhadap kata. Perusahaan kini memiliki data, bukan hanya angka penjualan, tetapi juga sentimen pasar terhadap produk mereka. Dengan semakin banyaknya data mengenai pasar yang dihadapi, maka perusahaan sebenarnya mempunyai kesempatan untuk memperluas pangsa pasarnya ataupun mengembangkan dan menawarkan produk baru.

Platform untuk mengimplementasikan Internet of Things memang memerlukan sumber daya finansial. Akan tetapi bila membahas soal harga, tentu kita tidak bisa semata-mata melihat harga tersebut sebagai biaya tanpa mempertimbangkan dampak positifnya terhadap bisnis itu sendiri. Apakah Internet of Things itu mahal? Maka jawabannya adalah relatif. Relatif terhadap manfaat apa yang didatangkan oleh teknologi tersebut, baik finansial maupun non finansial. Namun bila harga tersebut mendatangkan manfaat yang lebih besar, dan yang terpenting, memberi kesempatan bagi usaha kecil dan menengah untuk bertahahan di era revolusi industri 4.0 ini, maka sudah selayaknya usaha kecil dan menengah di Indonesia memberanikan diri untuk menyambut baik teknologi baru ini. Berkaca dari industri kecil dan menengah di negara lain yang dengan antusias memanfaatkan Internet of Things dalam bentuk yang sederhana dengan harga terjangkau, maka tidak ada alasan bagi industri kecil dan menengah di Indonesia untuk merasa gentar menghadapi revolusi industri 4.0. (*)

*) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata.

https://radarsemarang.com

Kategori: ,