Membangun Sarjana Berjiwa Pemimpin
Rabu, 15 Agustus 2018 | 8:28 WIB

Oleh : B Junianto Wibowo

Oleh : B Junianto Wibowo

Setiap orang tua mendambakan bahwa anaknya kelak menjadi seorang sarjana yang bekerja di suatu instansi pemerintah atau perusahaan swasta yang besar. Apalagi bisa menduduki jabatan penting, entah sebagai kepala bagian, direktur atau manajer dengan gaji tinggi, fasilitas memadai serta tunjangan lain yang atraktif.

Pihak universitas tempat calon sarjana menuntut ilmu juga mendambakan hal yang sama. Yaitu, alumninya dapat menjadi pimpinan terkenal dari suatu institusi besar yang cukup berpengaruh di masyarakat. Sehingga, akan mengangkat nama baik almamaternya.

Namun, yang terjadi adalah setelah lulus dan menjadi sarjana, tidak sedikit yang bekerja hanya menjadi bawahan atau staf biasa dari suatu institusi. Seperti menjadi petugas administrasi, pengawas gudang, tukang tagih, security atau sopir saja. Bahkan, ada yang menjadi pedagang berskala kecil. Yang lebih mengejutkan lagi, ada di antaranya bekerja sebagai tukang bangunan, makelar rendahan atau tukang cuci kendaraan. Memprihatinkan memang, tapi itulah kenyataan yang ditemui.

Dari fenomena di atas, muncul pertanyaan mengapa hal itu dapat terjadi? Dan bagaimana membangun sarjana yang memiliki jiwa pemimpin ? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian kepemimpinan dan pemimpin.

Menurut Stoner, Freeman dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Sedangkan, pemimpin merupakan orang yang memiliki kemampuan dalam menggerakkan sekelompok orang untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan orang lain untuk menjalankan suatu aktivitas sesuai kehendaknya sehingga tujuannya tercapai. Sebaliknya, apabila orang tersebut tidak dapat menggerakkan orang lain untuk menjalankan suatu aktivitas sesuai kehendaknya sehingga tujuannya tidak tercapai, maka orang itu tidak dapat disebut sebagai pemimpin. Atau dengan kata lain gagal menjadi seorang pemimpin.

Kegagalan itu dapat terjadi akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung seseorang untuk memiliki potensi menjadi pemimpin. Hal itu disebabkan, karena kemungkinan sekali seorang anak sejak kecil tidak dibiasakan untuk memiliki peran yang cukup penting dalam setiap kegiatan. Idenya selalu dibatasi, sehingga tidak menumbuhkan kreativitas sosial.

Di lain sisi, setiap permasalahan selalu ditangani dan diselesaikan oleh orang lain. Maka, jadilah orang tersebut orang yang bersikap pasif, selalu berlindung dan menungggu instruksi saja. Atau dapat juga, seorang anak sejak kecil dibiarkan berpendapat maupun bersikap secara berlebihan tanpa terkendali. Dan menjadikan orang tersebut bersikap berlebihan dan cenderung mengkhawatirkan orang lain. Kesemuanya itu, selanjutnya terbawa ketika orang itu berada di masyarakat. Yang pada akhirnya akan menjadi suatu hambatan dalam mengembangkan aktualisasi diri di masyarakat.

Melihat hal itu, maka sepatutnya semua pihak agar turut mengkondisikan lingkungan yang dapat membantu pembentukan jiwa pemimpin. Pertama, diawali dari lingkungan keluarga, di mana seseorang untuk pertama kali mendapat pendidikan dasar. Model pendidikan yang tepat diberlakukan di keluarga adalah model pendidikan demokrasi (www.sarjanaku.com) dan bukan model pendidikan liberal atau otoriter. Alasannya, karena dengan memberlakukan model pendidikan demokrasi, seorang anak akan berkembang daya kreativitasnya. Sebagai hasil dari kebebasan berpendapat, bersikap dan bertindak sepanjang hal itu tidak melanggar etika kesopanan dan merugikan orang lain.

Sementara, apabila memberlakukan model pendidikan liberal dapat membuat seorang anak akan berpendapat dan bersikap semaunya sendiri, yang mungkin melanggar etika serta merugikan orang lain. Sedangkan, dengan memberlakukan model pendidikan otoriter akan menyebabkan seorang anak menjadi penakut, patuh dan pasif serta sulit berkembang daya kreativitasnya.

Hanya saja, dalam memberlakukan model pendidikan demokrasi, orang tua dituntut untuk berperan aktif. Yaitu sebagai pihak yang mendampingi, mengarahkan serta meluruskan anaknya agar supaya tidak keliru dalam berpikir maupun bertindak. Yang lebih penting lagi, orang tua harus memberi kesempatan anaknya untuk dapat mengambil keputusan dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi. Pepatah Jawa yang mengatakan kowe kudu manut karo wong tua(yang artinya kamu harus patuh sama orang tua) sebagai cerminan dari sikap orang tua yang tidak mengenal demokrasi harus dihilangkan, sepanjang pendapat orang tua itu tidak benar.

Berfondasikan pendidikan demokrasi, selanjutnya si anak secara mudah akan dapat mengembangkan diri di lingkungan masyarakat dan institusi pendidikan melalui berbagai kesempatan. Misalnya, ketika ada kegiatan sosial di tingkat RT, maka seorang anak dapat memberanikan diri menjadi ketua atau anggota panitia. Di institusi pendidikan, akan dapat berperan lebih banyak lagi. Yaitu, mulai dari sebagai ketua kelompok dalam menyusun tugas mata pelajaran/mata kuliah, ketua kelas, anggota pramuka, dan kegiatan lainnya.

Kedua, pada level perguruan tinggi, para dosen maupun pimpinan fakultas berkewajiban untuk mendidik, membimbing serta mengarahkan mahasiswanya secara optimal selama mengikuti proses belajar mengajar. Supaya dapat terlatih dan nantinya tidak canggung dalam menjalankan tugasnya di masyarakat. Oleh sebab itu, setiap mahasiswa diberi kesempatan tanpa terkecuali untuk tampil secara aktif dalam setiap kegiatan. Baik itu, yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan maupun ekstrakurikuler. Posisi mahasiswa tidak hanya sebagai anggota saja, tetapi dapat diberi peran sebagai ketua. Dan kegiatan wajib yang harus diikuti oleh semua mahasiswa adalah latihan kepemimpinan (leadership).

Bagi mahasiswa dari keluarga dengan model pendidikan demokrasi, berbagai kegiatan di perguruan tinggi dapat dijadikan suatu peluang untuk mengembangkan diri. Supaya di kemudian hari dapat lebih terampil bermasyarakat.

Namun, hal itu akan menjadi masalah tersendiri bagi mahasiswa dari keluarga yang dididik secara otoriter atau liberal. Sikap kaku dan tertekan yang terbentuk dari didikan orang tua yang otoriter akan menghalangi si mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pengembangan diri. Karena, rasa takut, bimbang dan ragu serta kurang percaya diri dalam bersosialisasi dengan sekitarnya.

Sementara, terlalu bebas akibat didikan orang tua yang liberal juga dapat menyebabkan si mahasiswa menjadi semaunya sendiri. Yang sikap dan tindakannya tanda disadari membuat kegiatannya kehilangan arah serta mengabaikan kepentingan orang lain.

Disinilah, perlunya suatu komitmen dari para dosen maupun pimpinan fakultas untuk secara serius dan sungguh-sungguh mau mengubah prilaku (behaviour) maupun pola pikir (mindset) mahasiswa. Yang berasal dari keluarga otoriter atau liberal untuk menjadi mahasiswa pemberani, terampil, kreatif, dan percaya diri serta beretika tinggi. Selanjutnya, bersama-sama dengan mahasiswa dari latar belakang keluarga berpendidikan demokrasi dapat dikembangkan menjadi mahasiswa yang handal dan mumpuni.

Dengan begitu, Perguruan Tinggi benar-benar dapat membangun sarjana. Yang tidak hanya menguasai ilmu saja, tetapi juga memiliki jiwa pemimpin. Sehingga, dengan potensi kepemimpinannya, akan dapat menjadi pimpinan di instansi pemerintah maupun swasta. Atau sebagai pengusaha yang mampu mengelola dan mengembangkan bisnisnya dengan sukses. (*)

*) Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

Kategori: ,