Lahirnya Negara Bangsa
Senin, 13 Agustus 2018 | 8:33 WIB

image

Oleh Rudyanto Soesilo

"17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan negara-bangsa modern seperti tercermin pada Naskah Proklamasi."

BULAN Agustus merupakan bulan keramat bagi negara kita, NKRI. Lahirnya negara dan bangsa Indonesia merupakan episode dari pergerakan global yang menguak kesadaran umat manusia sejak abad XVI yaitu kesadaran akan manusia sebagai insan yang bebas, termasuk bebas mendirikan negara dan bangsa. Lantas, sebenarnya apakah negara bangsa itu?

Manusia sebagai homo sapiens, makhluk yang berkesadaran, mengawali peradabannya dengan mendomestikasi hewan dan tanaman. Terciptalah masyarakat agraris yang sangat bergantung pada alam.

Diwakili para geniusnya, manusia merenungkan keberadaan dirinya, tentang ”ontologi” (tentang ”Ada”). Muncullah pemahaman akan ”sang Adi-kuasa” yang adalah sang ”alam”. Peradaban manusia memasuki era Kosmos-sentris – seluruh enerjinya dipusatkan, dengan melakukan ritual terhadap alam sebagai tanda kepatuhan manusia kepada Kosmos sebagai sang Adi-kuasa. Lahirlah Animisme (anima=roh), fenomena alam hujan, badai, petir, topan, gunung, pohon besar, batu besar menjadi wakil alam, untuk dipuja secara Anthropomorfis (pribadiNya merupakan superlatif sifatsifat manusia), agar ”sang Alam” menyediakan keteraturan musim. Manusia senantiasa menggugat penemuannya (de Omnibus dubitandum), termasuk Konsep Ontologis tentang sang Adi-kuasa. Berikutnya lahirlah pemikiran tentang Sang Adi-kuasa yang bukan lagi sang Alam, melainkan ”Sang Teos”. Dikerimbunan hutan hujan tropis 3000 – 4000 tahun yang lalu, nuansa alam dengan berjuta spesies, lahirlah Politeisme, ”sang Adikuasa” tidak tunggal melainkan jamak, berwujud sang Dewa-dewi.

Menuju Era Modern

Di belahan lain bumi ini di hamparan pasir Timur-tengah dengan satu matahari, lahirlah Monoteisme, ”sang Adi-kuasa” bersifat tunggal. Peradaban manusia memasuki era Teos-sentrisme. Di Eropa barat, setelah Teokratisme dan Monarki berkuasa selama 1000 tahun (abad V -XV), yang disebut abad Pertengahan atau juga ”Abad Kegelapan”. Di era ini pergolakan pemikiran mutakhir yang bersifat anthropos-sentris saintifis dipadamkan dengan kekerasan. Nasib ilmuwan Galileo-Galilei tak akan terlupakan bagi sejarah ilmu pengetahuan.

Ketika Rene Descartes menobatkan manusia sebagai ”res Cogitans” (aku yang berpikir) dan alam sebagai ”res extensa” (perluasan, sisanya) semboyannya adalah ”Cogito ergo sum” (”Aku berpikir, karena itu aku ada”), maka umat manusia terjebak ke dalam kesendiriannya (condemned to be free) sehingga tak lagi dapat meminta tolong kepada sang Adikuasa, melainkan harus jungkirbalik menolong dirinya sendiri, lahirlah ilmu dan teknologi. Ontologi Athropos-sentris ini melahirkan epistemologi (cara mencari kebenaran) Positivis (Auguste Comte) yang hanya dalam kurun waktu 400 tahunan (abad XVI-XX). Lahirlah revolusi konsep ontologi manusia yang mandiri – menentukan nasibnya sendiri. Lahirlah humanisme.

Manusia yang bebas ala Existensialisme Sartre ini, mengelola kebersamaan hidupnya dengan membuat aturanaturan agar tidak terjadi kekerasankekerasan di antara sesamanya (Homo homini lupus), membentuk sebuah masyarakat yang diidamkan (imagined community), menuju kesejahteraan yang menjadi cita-cita bersama. Maka dibentuklah Negara Bangsa (nation state), yang menjadi kumpulan pribadi-pribadi dengan berbagai latar belakang suku, ras, agama, golongan dll yang menyatu bersama di dalam wadah yang menjadi melting-pot – tempat semuanya mencair dan kemudian mengempal.

Paham negara-bangsa ini disebut nasionalisme. Sistemnya disebut demokrasi yang berasaskan egalitarianisme (kesetaraan di antara sesamanya) dan mencari pemimpin yang mampu meraih cita-cita bersama tadi lewat pemilihan umum. 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan negara-bangsa modern seperti tercermin pada Naskah Proklamasi: ” Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia …”. Kata ”kami” merupakan representasi dari warga, pribadi-pribadi yang mempunyai tujuan kesejahteraan bersama seperti termaktub pada Pembukaan UUD 45. Kemerdekaan yang merupakan awal meng-”ada”-nya sebuah negara-bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ditegakkan dengan perjalanan panjang, berdarah-darah dan dengan seluruh pengorbanan demi tanah air tumpah darah kita bersama.

Karenanya kita semua, tak terkecuali, harus menjaganya, karena kekuatan Indonesia adalah pada melting-pot, terbentuknya wadah kebersamaan dari semua unsurunsurnya, ke Bhinnekaannya sebagai negara-bangsa, dalam upaya mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.

Dr Rudyanto Soesilo,dosen Filsafat dan Etika Fakultas Pascasarjana Unika Soegijapranata

Suara Merdeka 13 Agustus 2018, hal. 4, https://www.suaramerdeka.com

Kategori: , ,