Membunuh Perusahaan Zombie
Kamis, 19 Juli 2018 | 7:50 WIB

image

Oleh : Ang Prisila Kartin

SAAT ini, dunia, termasuk Indonesia, sudah memasuki era disrupsi ekonomi. Dalam kondisi seperti sekarang inilah, dibutuhkan bukan hanya kecerdikan dan kejelian dalam melihat setiap peluang berkaitan dengan kemajuan teknologi dan tren pasar, melainkan juga inovasi berkesinambungan guna mempertahankan eksistensi dalam dunia usaha.

Apa yang terbersit di benak kita ketika mendengar kata zombie? Zombie adalah istilah yang sering digunakan untuk mayat hidup dalam film horor ataupun film fantasi. Zombie digambarkan sebagai makhluk yang sudah tidak hidup, namun juga belum mati. Zombie ini mengejar dan memangsa manusia sebagai santapan utamanya. Kisah kehidupan pasca-wabah zombie mencekam yang disebut dengan zombie apocalypse sangat populer, banyak film yang membahasnya.

Tidak hanya ada dalam film-film horor dan fantasi, ternyata zombie juga ada dalam dunia usaha. Para ekonom telah menaruh perhatian khusus mengenai perusahaan zombie selama beberapa dekade. Perusahaan Zombie adalah istilah untuk sebuah perusahaan yang membutuhkan dana talangan agar dapat beroperasi, atau perusahaan yang berutang yang hanya mampu membayar bunga atas utangnya, tetapi tidak mampu melunasi pokok utang. Dengan demikian perusahaan ini, umumnya bergantung pada bank (kreditur) untuk kelangsungan hidup mereka.

Konsep perusahaan zombie awalnya mulai digunakan secara luas selama debat ekonomi atas stagnasi jangka panjang ekonomi Jepang dari tahun 1990-an. Industri Jepang mulai dikalahkan Korea dan China. Banyak perusahaan membutuhkan dana talangan untuk mampu bertahan hidup, banyak di antara mereka menjadi zombie karena bisnis yang sudah terdisrupsi, namun tidak disertai dengan inovasi secara ekspansif. Beberapa merek besar yang mulai kehilangan nyawa antara lain Toshiba, Sharp, dan Sanyo.

Tak hanya di Jepang, fenomena zombie rupanya juga terjadi di China dan Korea. Sebagian besar perusahaan dan industri semen, besi, dan batu bara telah kehilangan pasar. Permintaan menurun, namun aktivitas dipaksakan untuk berjalan seperti biasa. Inilah wabah zombie ekonomi China. Sektor industri semakin terpuruk, kemampuan perusahaan swasta dan perusahaan negara untuk membayar utang luar negeri semakin minim, produksi besar namun tidak seiring dengan permintaan pasar yang kian menurun.

Mengutip data dari Bank of Korea dan Financial Supervisory Service, Financial Times 25 Mei 2017, ada lebih dari 3.278 perusahaan zombie di Korea Selatan. Sebanyak 232 di antaranya adalah perusahaan publik. Angka ini naik 17 persen ketimbang tahun 2012. Padahal, perusahaan-perusahaan zombie itu diperkirakan mempekerjakan sekitar 100.000 karyawan, setara dengan 4,5 persen PDB negara itu.

Selain di Asia, fenomena perusahaan zombie juga terjadi di Eropa. Menurut the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), pertumbuhan perusahaan zombie adalah salah satu penyebab utama jatuhnya produktivitas di Eropa selama dua puluh tahun terakhir. Kebutuhan besar atas modal yang diperlukan untuk bertahan hidup, telah menghabiskan dana yang seharusnya dapat digunakan untuk kewirausahaan baru atau kepada perusahaan yang lebih dinamis. Perusahaan zombie Italia sebanyak 4 persen dari total, mereka mempekerjakan 5 persen tenaga kerja secara keseluruhan tetapi menguras hampir 20 persen dari modal.

Para ekonom menyoroti keberadaan perusahaan zombie sebagai penyebab di balik stagnasi ekonomi. Perusahaan zombie menghambat pertumbuhan perusahaan dan menurunkan produktivitas. Perusahaan-perusahaan zombie ini sangat terikat dengan utang, mereka dapat beroperasi semata-mata hanya karena dukungan terus menerus dari pemerintah dan bank. Pemerintah tidak ingin melihat perusahaan zombie ini bangkrut karena khawatir dengan dampak yang ditimbulkan : pengangguran merajalela dan hilangnya pendapatan pajak yang signifikan. Bank-bank bersedia meminjamkan dana karena mereka tidak ingin pendapatan mereka jatuh ketika dipaksa untuk membuat peraturan mengenai utang tak tertagih yang lebih ketat.

Baik pemerintah dan bank mencoba membantu perusahaan-perusahaan ini dengan harapan pasar akan segera pulih. Hambatan terbesar untuk membunuh perusahaan zombie adalah tekanan pengangguran. Memaksa perusahaan zombie ke dalam kebangkrutan akan membuat jutaan orang menganggur. Pemerintah khawatir pemecatan masal dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial.

Namun tetap diperlukan situasi di mana bisnis yang buruk gagal, perusahaan zombie harus dibunuh, jika tidak, ekonomi akan berhenti dengan model bisnis yang semakin lemah dan pertumbuhan ekonomi akan menurun. Membunuh perusahaan zombie bisa menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sistem produksi.

Ketidakmampuan untuk membunuh perusahaan zombie memiliki dua efek utama. Pertama, keberadaan zombie menggerogoti tingkat produktivitas rata-rata bisnis. Kedua, modal dan tenaga kerja dialokasikan secara salah kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Hal tersebut menghentikan pergerakan arus modal dan pekerja untuk dapat beralih ke bisnis yang lebih efisien, dan lebih sulit bagi perusahaan baru untuk bersaing. Jika keberadaan perusahaan zombie terus didukung, maka perusahaan zombie akan memangsa perusahaan yang sehat

Bagian modal yang lebih tinggi yang diinvestasikan dalam perusahaan zombie dikaitkan dengan investasi yang lebih rendah dan pertumbuhan lapangan kerja di bisnis lain yang lebih sehat. Kesalahan alokasi modal dan longgarnya kriteria kebangkrutan perusahaan menyebabkan stagnansi ekonomi.

Dibandingkan dengan upaya penyelamatan perusahaan zombie terus menerus, perlu perencanaan yang baik mengenai kebangkrutan perusahaan, biarkan perusahaan zombie benar-benar mati sehingga modal dan tenaga kerja dapat dialokasikan kembali kepada perusahaan lain yang lebih hidup, hal ini akan berdampak pada terbangunnya sistem ekonomi yang lebih efisien dan kompetitif. (*/ida)

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang.

https://radarsemarang.com

Kategori: ,