Magister Psikologi Unika Bidik Tema “Kekerasan di Sekolah” Dalam Diskusinya
Kamis, 26 Juli 2018 | 14:06 WIB

Suatu forum diskusi yang diselenggarakan secara periodik oleh Magister Psikologi Unika Soegijapranata telah dihelat untuk pertama kalinya dengan tema “Kekerasan di Sekolah” pada hari Rabu sore (26/7), dan dihadiri oleh para pemerhati dan praktisi pendidikan serta akademisi bertempat di ruang diskusi Pascasarjana Unika Soegijapranata.

Dalam penjelasannya, Ketua Program Studi (Prodi) Magister Psikologi Dr. A. Rachmad Djati, W. MS memaparkan tentang gagasan untuk menghidupkan suasana akademis di lingkungan Magister Psikologi Unika melalui forum diskusi kecil yang dilakukan secara periodik.

“Ini adalah diskusi awal kita untuk menghidupkan suasana akademis, yang formulanya waktu itu kami menyebutnya seminar kecil atau diskusi kecil. Adapun topik bahasannya bisa disepakati bersama, misalnya dari  proposal mahasiswa supaya mahasiswa itu juga dapat masukan, atau bisa juga  suatu topik tertentu seperti partisipasi politik kaum muda yang sangat relevan pada saat ini, fenomena pecinta club motor serta topik  lainnya. Yang penting ada pertukaran ide dan dapat lebih menghidupkan suasana akademis kampus,” jelasnya.

Sekretaris progdi Magister Psikologi Unika Drs. DP. Budi Susetyo, M.Si juga menambahkan dalam arahannya bahwa forum diskusi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap isu-isu aktual yang diharapkan akan berlanjut dan dikelola oleh prodi atau komunitas mahasiswa yang bisa digunakan sebagai forum kajian-kajian, yang selanjutnya akan dibuat suatu bunga rampai yang isinya tulisan-tulisan dari para mahasiswa.

Hadir sebagai pemantik diskusi adalah tiga dosen psikologi Unika yaitu (1) Monika Windriya Satyajati, S.Psi., M.Psi, (2) Cicilia Tanti Utami, S.Psi., MA dan (3) Dr. A. Rachmad Djati, W. MS.

Monika Windriya dalam paparannya mengungkapkan bahwa seorang anak yang pernah mengalami pelecehan seksual dalam bentuk apapun pada umumnya merasa ketakutan untuk menceritakan pengalamannya. Oleh karena itu, setiap orangtua harus bisa peka dan mengenali dengan baik setiap gerak-gerik anak yang tidak tampak seperti biasanya.

Orang tua harus bisa memberi perhatian penuh kepada anaknya supaya anak bisa menjadi nyaman dan terlindungi serta memberi bekal pengetahuan kepada anak tentang mana yang boleh dan tidak boleh terkait perilaku seksual dari orang di luar dirinya terhadap dirinya baik di sekitarnya maupun di sekolah. Selain itu juga perlu upaya dari orang tua untuk menangkal pengaruh media sosial yang mudah diakses oleh anak terkait seksualitas meskipun media sosial bukan sebagai pemicu tetapi sebagai penguat perilaku seksual, sehingga dengan demikian peran anak, guru dan orang tua memegang peranan penting untuk memutus mata rantai perilaku seksual yang bisa berdampak ke banyak anak.

Sedang Cicilia Tanti lebih menyoroti tentang kekerasan fisik maupun verbal yang bisa terjadi pada anak di sekolah. Dan biasanya kejadian kekerasan tersebut tidak diketahui oleh pihak sekolah walaupun terjadinya kekerasan masih di sekitar area sekolah (kekerasan fisik sering di tempat-tempat sempit pada bagian sekolah dan pada saat jam istirahat).

Ketahanan korban kekerasan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalahnya dipengaruhi pula oleh kemampuan resiliensi yang dimiliki oleh korban untuk bangkit dan memunculkan kembali prestasinya. Korban kekerasan bisa resilient karena tiga hal yaitu (1) memiliki kekuatan internal – (I am), (2) memiliki ketrampilan sosial dan interpersonal – (I Can), (3) memiliki dukungan eksternal – (I Have). (fas)

Kategori: ,