Growing up in Disruption Era
Jumat, 13 Juli 2018 | 7:55 WIB

M Devitia Putri Nilamsari

Oleh: M Devitia Putri Nilamsari

Sadar atau tidak, disrupsi adalah sebuah fenomena era yang tidak bisa terelakkan oleh semua orang, khususnya bagi para pelaku bisnis. Era yang dianggap sebagai momok menakutkan dan menantang tersebut membawa banyak perubahan signifikan dan lebih mengarah pada dunia modernisasi dan digitalisasi. Kemunculan disrupsi pun digadang-gadang sebagai sebuah perkembangan teknologi yang tak terbatas dan cenderung akan semakin mutakhir dari waktu ke waktu.

Kekhawatiran juga muncul karena ada anggapan bahwa segala sesuatu akan tergantikan oleh teknologi dan mengikis peran sumber daya, khususnya manusia. Namun pada kenyataannya, bagi beberapa kalangan pelaku bisnis atau ekonomi, disrupsi bukanlah sebuah hal krusial. Mereka menganggap bahwa lahirnya era ini merupakan batu loncatan yang dapat mendatangkan sebuah keuntungan tersendiri. Dengan kata lain, selaku pelaku bisnis yang tangguh tidaklah pantas untuk kalah bersaing dengan segala perubahan yang terjadi di era disrupsi.

Perlu ditekankan bahwa disrupsi bukan suatu alasan untuk takut berkembang dan gentar dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi. Jangan jadikan perubahan yang terjadi tersebut sebagai kendala utama jatuhnya usaha yang dimiliki. Sebagai makhluk ekonomi terkhusus dalam peranan pelaku bisnis, kita harus mengubah mindset terkait era disrupsi yang menakutkan tersebut menjadi sebuah pikiran di mana kita harus survive dan menyelaraskan diri terhadap dinamika perubahan yang ada.

Apabila diperhatikan dengan seksama, banyak perusahaan besar yang dari dulu hingga detik ini masih mampu menunjukkan eksistensinya. Salah satunya adalah perusahaan manufaktur di Indonesia yaitu PT Sidomuncul Tbk. Perusahaan yang didirikan tahun 1940 oleh Rakhmat Sulistio ini, dapat dikatakan bahwa memiliki kemampuan bersaing dengan para pelaku bisnis manufaktur kategori minuman tradisional kesehatan khas Indonesia lainnya. PT Sidomuncul Tbk dapat menjadi bukti di mana perusahaan yang terbuka terhadap perubahan dan senantiasa mampu beradaptasi bahkan survive dalam era disrupsi. Pada kenyataanya pun, perusahaan tersebut juga mampu menjadi market leader dalam kategori bisnis jamu yang dikenal sebagai minuman tradisional Indonesia.

Atas dasar permasalahan dan realita yang terjadi, pada kenyataanya adalah banyak pelaku bisnis yang bersikap apatis terhadap munculnya era disrupsi. Sebagai contoh, terdapat beberapa perusahaan keuangan yang belum terbuka dengan era digitalisasi. Seperti yang dikutip oleh lembaga survei PwC, yang melakukan pengamatan terkait munculnya sebuah teknologi pada sektor jasa keuangan/financial services (FS) di mana hal tersebut memberi dampak langsung terhadap pemain di industri jasa keuangan konvensional. PwC mengungkap bahwa 83 persen institusi jasa keuangan konvensional (tradisional) meyakini bahwa sebagian dari lahan bisnis mereka akan diakuisisi oleh perusahaan jasa teknologi keuangan/financial technology (FinTech). Hal ini menyebabkan mereka tidak mampu mempertahankan eksistensi perusahaan mereka sendiri dan tidak bisa menjalankan bisnis secara leluasa lagi. Kemampuan bersaing serta eksplorasi mereka pun terbatas dan melemah karena berada di bawah kendali perusahaan lain. Dari situasi ini, dapat kita simpulkan bahwa peranan teknologi sangatlah penting bagi setiap pelaku bisnis.

Di samping itu, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dengan adanya transformasi dalam era disrupsi yang menantang ini. Banyak hal yang harus diamati serta digali demi terwujudnya keunggulan kompetitif yang baik bagi para pelaku bisnis. Mereka dituntut untuk bertransformasi selaras dengan gaya era disrupsi. Beberapa benefit pun dapat diperoleh seperti pengurangan biaya produksi dan operasional bagi perusahaan manufaktur. Biaya operasional perusahaan dapat ditekan sedemikian rupa dan akibatnya, dapat menambah jumlah produksi di setiap barang produksinya. Selain itu dengan adanya digitalisasi, komunikasi yang terjalin menjadi cepat. Contohnya seperti penggunaan e-mail dalam mengirim dan menerima dokumen, chat atau video conferencing dalam praktik kegiatan bisnis yang mana fasilitas-fasilitas tersebut mempermudah dan mempercepat komunikasi pada saat ini. Dengan demikian, digitalisasi membawa perusahaan pada arah kemajuan teknologi dan informasi.

Secara nyata dalam dunia bisnis sendiri, pro dan kontra terkait dampak era disrupsi akan terus bermunculan. Dengan segala kelemahan dan kekuatan yang ditimbulkan dari dinamika era disrupsi tersebut, sebenarnya kembali lagi kepada bagaimana kita merespon dengan bijak setiap perubahan yang terjadi. Untuk ke depannya, pelaku bisnis diarahkan untuk dapat memiliki pola pikir yang terbuka dan lebih adaptif serta komunikatif. Selain itu, mereka harus mampu menciptakan suatu kolaborasi yang inovatif. Intinya, jangan menjadikan perubahan yang terjadi dalam era disrupsi ini sebagai hambatan atau masalah yang besar. Namun, jadikan perubahan ini sebagai motivasi untuk memperluas usaha dan peluang untuk memperoleh nilai tambah bagi usaha yang dikembangkan. Terlebih lagi saat ini banyak bisnis yang dituntut untuk terus bertumbuh dan bersaing. Dengan begitu, para pelaku bisnis tidak hanya mampu bertahan saja di era disrupsi ini tetapi juga dapat berkembang dan menciptakan keunggulan kompetitif bagi usahanya tersebut. (*)

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

https://radarsemarang.com

Kategori: ,