Gaungkan Green Architecture, Arsitektur Unika Undang Praktisi dari Bali
Selasa, 17 Juli 2018 | 17:18 WIB

Menarik jika kita pahami bahwa pusaran arus kehidupan kita termasuk lingkungan hidup kita ternyata berawal dari salah satu tempat yang menjadi bagian dalam desain rumah kita masing-masing yaitu dapur.

Suatu tinjauan konsep arsitektur yang dikemukakan oleh seorang praktisi arsitektur yang telah melakukan banyak riset tentang pasar tradisional serta arsitektur lokal yang tinggal di daerah Bengkala, Kintamani, Bali yaitu Gede Kresna.

Dalam paparannya tentang “Revolusi dari Dapur” pada acara presentasi di hadapan para dosen prodi Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata, pada hari Selasa (17/7) di ruang seminar FAD, Gede Kresna mengungkapkan bahwa di zaman modern ini kita perlu menggali kembali khasanah ilmu dan budaya yang sudah kita miliki sejak nenek moyang kita, supaya kita tidak tergantung pada produk industrial.

“Dapur bagi orang Bali adalah yang utama dan pertama. Jadi salah satunya yang harus dibangun awalnya selalu dapur terlebih dahulu, baru bagian-bagian lainnya dalam suatu rumah,” terang Gede Kresna.

“Hal tersebut karena dapur dianggap memiliki makna Sekala dan Niskala, yang berarti lahiriah dan batiniah.  Sekala atau lahiriah, karena segala aktifitas kita di luar rumah baik itu bekerja atau kegiatan yang lain setelah masuk rumah selalu biasanya ke dapur. Niskala atau batiniah, berarti bahwa dapur menjadi tempat yang sakral,” jelasnya.

“Maka memaknai dapur dalam konsep tradisional, ada beberapa hal yang bisa kita petik antara lain (1) dapur sebagai tempat belajar, karena di area dapur biasanya tersimpan alat-alat tukang dan menanam selain alat masak (2) dapur adalah etalase kehidupan agraris, sebab di dapur kita juga bisa menemui hasil-hasil kebun atau pertanian dan rempah-rempah untuk bahan masakan (3) dapur sebagai pusat denyut aktifitas keseharian (4) dapur sebagai tempat healing yang terbaik bagi Ibu-ibu yang akan melahirkan dengan aktifitas jongkok dan berdiri serta meniup api saat api kayu bakar pada kompor mulai redup,” urai Gede Kresna.

“Maka menjadi penting kita bisa mempelajari filosofi budaya yang ada disekitar kita supaya karya  arsitektur kita bisa ramah lingkungan dan sesuai dengan kepribadian kita. Hal lain, kita menjadi tidak tergantung dengan bahan – bahan bangunan yang industrial tetapi dapat menggunakan yang ada disekitar kita secara mandiri sehingga biaya menjadi lebih ringan dan relatif adaptif dengan lingkungan,” pungkasnya.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Gede Kresna,  Dra. B. Tyas Susanti, MA, PhD selaku Dekan FAD Unika menjelaskan tentang ketertarikannya pada konsep ‘rumah intaran’ yang dimiliki oleh Gede Kresna.

“Kami tertarik dengan materi yang disampaikan oleh Gede Kresna tentang ‘Revolusi dari Dapur’ karena Gede Kresna concernnya adalah pada bidang Green Architecture, sama konsepnya dengan Arsitektur Unika,”jelasnya.

“Hal lain, kita juga bisa belajar tentang rumah intaran yang dimiliki oleh Gede Kresna,”tandasnya. (fas)

Kategori: ,