Dunia tanpa batas: Global menjadi lokal & lokal menjadi global
Selasa, 3 Juli 2018 | 9:48 WIB

Presiden JAFAE, Prof. Yuko Takeshita mempersembahkan sertifikat dan Dr. Ekawati mempersembahkan plakat terimakasih

 

“Melakukan riset di Jepang membuahkan hasil yang positif,” kata Dr. Ekawati Marhaenny Dukut ketika pada hari Sabtu (30/6) mengawali keynote lecture-nya di depan peserta konferensi JAFAE (Japanase Association for Asian Englishes) di Chukyo University,  Nagoya, Jepang.

Dr. Ekawati merupakan salah satu peneliti dari progdi Sastra Inggris Fakultas Bahasa & Seni (FBS) Unika Soegijapranata, yang saat pelaksanaan konferensi sudah seminggu di Nagoya untuk  melaksanakan  ujicoba aplikasi educative serius game yang ia ciptakan bersama dua peneliti lain  dari progdi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa & Seni, dan progdi Sistim Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata.

Dalam kesempatan itu Dr. Ekawati diminta untuk menjadi pembicara utama dan berkolaborasi dengan peserta konferensi yang tidak hanya berasal dari Jepang namun juga dari Jerman, Cina, Pilipina, India dan Malaysia.

Makalah yang disampaikannya berjudul “Transnationalizing Local and Global Culture in the English Language Classroom”. Dalam presentasinya, Dr. Ekawati menjelaskan bahwa TOEFL sudah di globalkan ke berbagai belahan dunia dan berisi materi-materi agar pengambil tes menjawab soal untuk memperlihatkan kemampuannya dalam English language skills (listening, structure, reading, vocabulary, writing & speaking) selain memperlihatkan seberapa baik pengetahuannya tentang suasana akademis yang dipengaruhi oleh budaya Amerika.

“Sebagai peneliti dari progdi Sastra Inggris di Indonesia materi TOEFL yang global ini bisa di lokalkan. Caranya adalah dengan  membuat TOEFL-like game yang mempersembahkan budaya lokal Jawa. Cara yang ia pakai adalah membuat beberapa karakter kartun dalam film animasi untuk Listening exercise-nya digambarkan memakai pakaian dengan corak Jawa. Sebagai contoh digambarkan bahwa karakter perempuan dalam animasinya memakai kain batik. Sedangkan yang laki-laki memperlihatkan maskulinitasnya dengan memakai kostum wayang Gatutkaca. Selain kostum, oleh karena karakter yang diceritakan dalam game adalah sayur, maka diceritakan juga bahwa sayur bayam di Jawa dapat dibuat kripik bayam ,dan sawi biasanya dipakai untuk melengkapi masakan bakso dan capjay. Dengan demikian, budaya makan sayur sawi yang lokal ini dapat dibuat global karena mengikuti kriteria yang saya sebut sebagai transnational cross bordering atau melewati dunia tanpa batas, yaitu dengan upaya mempopulerkan risoles bayam atau es krim sawi,” jelas Dr. Eka.

Sedangkan peserta JAFAE tampak mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mengikuti penjelasan Dr. Ekawati yang juga membahas kurikulum 2013 dalam pengajaran Bahasa Inggris sehingga inovasi yang diciptakannya dapat memperkaya kurikulum tersebut.

Sebagian peserta forum JAFAE merasa tergugah untuk ikut melakukan inovasi dengan mengadopsi cerita rakyat Jepang sebagai salah satu materi untuk mengajar Bahasa Inggris. Namun menurut mereka, inovasi game software seperti yang diciptakan Dr. Ekawati ada kendalanya jika mereka ikut mencoba membuat hal yang serupa.

“Kami tertarik dengan apa disampaikan Dr. Ekawati dengan menggunakan inovasi game software. Namun di sisi lain kami ada kendala jika menggunakannya karena di Jepang, pemakaian internet di Sekolah Menengah dan bahkan di Perguruan Tinggi dibatasi kesempatannya untuk mengunduh aplikasi dari luar. Apabila program bisa disesuaikan dengan program Moodle, maka hal itu dimungkinkan terjadi. Jika tidak ada fasilitas media tersebut di sekolah, maka media yang dapat dipakai adalah melalui buku cerita rakyat,” tutur salah satu peserta konferensi.

Kategori: ,