Budaya Sebagai Media Pemersatu Bangsa
Sabtu, 28 Juli 2018 | 13:24 WIB

Suatu diskusi yang bertemakan “Menggagas Konsep Strategi Kebudayaan untuk Indonesia” telah diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Kota Semarang di ruang Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unika Soegijapranata.

Diskusi yang menghadirkan dua narasumber yaitu Romo Aloysius Budi Purnomo Pr selaku Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) dan Dr. Octavianus Digdo Hartomo dari akademisi Unika Soegijapranata.

Dalam diskusi tersebut ada beberapa hal yang digagas terkait strategi budaya yang bisa menjadi media pemersatu bangsa. Seperti halnya yang disampaikan oleh Romo Budi dalam paparannya yang banyak mengulas tentang tataran konkrit dari suatu strategi budaya.

“Untuk menempuh jalur budaya diperlukan sosok figur yang bisa membawa kita pada suatu kerukunan,” jelasnya.

“ Dan suatu strategi budaya hendaknya juga harus melihat konteks budaya setempat karena tidak semua daerah bisa menerima, tergantung budaya yang tumbuh di masing-masing daerah tersebut,”terang Romo Budi.

“Namun demikian strategi budaya bisa menjadi alat untuk membangun kerukunan di Indonesia yang memiliki keragaman budaya, dan alat pemersatu yang akan menangkal radikalisme. Untuk itu, strategi budaya juga harus mengandung dua hal yaitu (1) strategi budaya harus ada pada tataran konkrit atau praktis dan tidak hanya pada tataran konsep, (2) Strategi budaya juga didasari pada kehendak baik dan tulus serta penuh kasih sebagai martabat seluruh ciptaan,” lanjutnya.

Kearifan Lokal

Sedang narasumber kedua, Dr. Octavianus Digdo Hartomo lebih banyak mempresentasikan pengalamannya dalam penelitian yang membahas rekonsiliasi kerusuhan di Ambon dan Poso.

“Ternyata agama menjadi alat yang paling mudah untuk dijadikan pemicu kerusuhan atas nama “kebenaran”” terang Dr. Oki.

“Sementara di dua daerah baik Ambon maupun Poso sebenarnya memiliki kearifan lokal yang bisa mempersatukan masyarakatnya yaitu Pala Gandong untuk daerah Ambon dan Situwu Maroso  untuk daerah Poso. Namun kearifan lokal ini hanya dimengerti oleh generasi tua dan tidak oleh generasi muda. Jadi ada generasi yang terputus, maka untuk mengantisipasinya perlu dilakukan strategi yang dimulai dari kalangan muda melalui pendidikan tinggi dengan pembuatan modul-modul perkuliahan maupun ekstrakurikuler,”ucapnya.

“Langkah konkrit lainnya adalah dengan melakukan gerakan yang mendorong kaum muda kampus untuk terlibat dalam masyarakat  dengan bekerja sama dengan pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  sehingga muncul yang disebut ‘Provokator Damai’. Disamping itu budaya yang sangat disukai oleh masyarakat dua daerah tersebut adalah menyanyi dan olah raga catur, maka berangkat dari budaya masyarakat tersebut bisa dijadikan titik kumpul masyarakat dari berbagai latar belakang sehingga dengan demikian ruang publik bisa menjadi sarana rekonsiliasi perdamaian,” tutupnya. (fas)

Kategori: ,