Romo Reksa Pastoral Unika, Resmikan Taman Doa Maria Ratu Perdamaian
Senin, 4 Juni 2018 | 10:17 WIB

Mengakhiri Bulan Rosario 2018, UPT Reksa Pastoral Unika Soegijpranata mengadakan Misa Penutupan Bulan Rosario pada Kamis malam (31/5) bertempat di aula lantai dua komplek Pastoran Johanes Maria Unika.

Misa yang dipimpin oleh Pastor Kepala UPT Reksa Pastoral Unika, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr ini dibarengi dengan peresmian Taman Doa Maria Ratu Perdamaian. Dalam kesempatan tersebut secara khusus Romo Budi menjelaskan tentang asal mula  penamaan Taman Doa Maria Ratu Perdamaian.

“Nama Taman Doa Maria Ratu Perdamaian ini berawal dari salah seorang teman saya yang sedang mengikuti pelajaran agama Katolik. Ketika teman saya sedang berdoa rosario tersebut, ia merasa pipinya dijamah oleh Bunda Maria. Luar biasa yang diceritakan teman saya itu sehingga meneguhkan saya ketika saya sakit beberapa bulan yang lalu,” ungkap Romo Budi dalam kata pengantar di hadapan puluhan mahasiswa/i, beberapa dosen dan para suster dari ordo Carmelite sebelum misa dimulai.

“Ketika sakit, saya melantunkan doa-doa kepada Bunda Maria. Alhasil, proses medis yang akan diterapkan di tubuh saya, yang seharusnya terpasang selama 3 bulan sejak bulan April 2018 malah tiba tiba tidak jadi. Hal tersebut awalnya karena  saat itu saya merasa  ketakutan ketika tindakan medis akan diterapkan di tubuh saya, oleh karena itu dengan dukungan doa banyak orang dan  berdoa rosario, suatu ketika batu ginjal tersebut dengan rasa sakit selama 4 jam, bisa hilang dengan sendirinya. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil ST Scan,” terangnya.

“Batu ginjal yang hilang dalam 4 jam itu sangatlah berarti jika dibandingkan dengan masa pengobatan yang akan berjalan selama 3 bulan. Jika pengobatan selama 3 bulan otomatis saya tidak bisa apa apa. Namun demikian, selang beberapa hari kemudian saya sakit lagi dan terbaring di pastoran. Ketika sakit, saya rutin berdoa rosario sambil tidur dan saat itu pula saya merasa bahwa Bunda Maria mengirim pesan kepada saya dan berkata seperti ini “Romo itu tidur di rumah yang bagus , lalu dimana tempat untukku?. Selama ini belum ada tempat bagi ibumu (Bunda Maria-red). Itulah sejarah singkat penamaan Taman Doa Maria Ratu Perdamaian,” sambung Romo Budi.

Dari peristiwa pergumulan rohani tersebut, Romo Budi merasa mendapatkan damai sejahtera dari Bunda Maria seperti halnya kedamaian yang dirasakan Santa Elisabeth ketika dikunjungi Bunda Maria (Lukas 1:42-43). Selain itu, penamaan taman doa tersebut juga terinspirasi dari ajaran Gereja Katolik sendiri yang memberikan gelar Ratu Perdamaian kepada Bunda Maria.

Selanjutnya, Romo Budi pun berharap dengan adanya Taman Doa Maria Ratu Perdamaian yang berada dalam Pastoran Johanes Maria Unika ini secara khusus bisa berdampak positif bagi mahasiswa/i generasi penerus bangsa.

“Unika mewarisi semangat Mgr. Soegijapranata. Mgr. Soegijapranata selalu memperjuangkan kemerdekaan dan perdamaian berdasarkan iman katolik yang 100% Katolik 100% Indonesia atau 100% Katolik 100% Patriotik. Jadi Unika tidak hanya bagi mereka yang katolik tetapi juga untuk semua warga negara. Sehingga apapun agamanya 100% religius 100% nasionalis, dengan begitu perdamaian semakin bisa diwujudkan. Semoga spirit Soegijapranata dengan bantuan doa-doa Bunda Maria bisa menjjadi spirit yang membuahkan perdamaian untuk bangsa dan dunia melalui bakat dan talenta yang ada” tutup Romo Budi.

Peresmian Taman Doa Maria Ratu Perdamaian ini secara resmi ditandai dengan pemberkatan/ pemercikan air suci oleh Romo Budi yang dipercikan ke patung Bunda Maria yang menggendong Yesus. Patung tersebut dikerjakan selama 1 minggu oleh pemilik Sanggar Seni Gedongsongo, MA Sutikno. (Holy)

Kategori: ,