Utang : Musuh atau Sahabat?
Jumat, 18 Mei 2018 | 11:25 WIB

image

Oleh: DR Widuri Kurniasari SE M.Si

UTANG…. Sebuah kata yang tidak asing di telinga kita. Utang bisa jadi sahabat, sekaligus musuh kita. Tergantung dari mana kita memaknainya. Sebelum bicara banyak tentang utang, kita kenalan dulu dengan yang namanya utang.

Utang sebenarnya adalah sesuatu yang dipinjam dari pihak lain, bisa berupa uang ataupun benda lainnya. Utang dapat dibedakan menjadi dua yaitu utang baik dan utang buruk.

Utang Baik dan Utang Buruk

Utang baik adalah utang yang digunakan untuk investasi jangka panjang yang akan memberikan nilai tambah dan manfaat. Yang dapat dikategorikan sebagai utang baik, misalnya adalah utang yang digunakan untuk kepemilikan aset tetap seperti rumah atau tanah atau properti lainnya. Mengapa ini dikatakan utang baik, karena nilai dari aset ini akan terus meningkat dan kenaikan nilai asetnya cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan bunga dari utang. Apakah hanya utang rumah yang baik? Tentu saja tidak, utang untuk biaya pendidikan dapat dikategorikan utang baik. Alasannya adalah, utang ini dapat dikategorikan sebagai investasi, alasan yang kedua utang pendidikan ini dalam masa depan diharapkan dapat menaikkan pendapatan yang tentu saja diharapkan dapat menutup uang. Selain itu, utang untuk keperluan usaha, dapat dikategorikan sebagai utang baik. Mengapa? Utang yang digunakan untuk usaha, misalnya untuk pengadaan aset. Aset yang dibeli dengan utang ini, diharapkan mampu mendorong peningkatan penjualan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan. Dan peningkatan pendapatan ini dapat digunakan untuk mengembalikan utang.

Jika ada utang baik, maka ada juga yang namanya utang buruk. Utang buruk artinya adalah jika utang kita pakai untuk keperluan konsumsi yang tidak memberikan nilai tambah. Misalnya digunakan untuk pembelian barang elektronik atau kendaraan bermotor yang tidak digunakan untuk kegiatan usaha.

Bersahabatlah dengan Utang
Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita terjebak dalam utang yang sifatnya buruk. Ada beberapa cara untuk mengurangi utang buruk. Yang pertama adalah identifikasikan dulu semua pemasukan dan pengeluaran. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui posisi keuangan kita. Setelah itu, diindentifikasi berapa banyak utang yang tersisa dan kemudian dicek utang mana yang mempunyai bunga pinjaman paling tinggi. Segera lunasi utang dengan bunga yang tinggi terlebih dahulu. Jangan menunda pembayaran karena akan terkena bunga yang lebih besar. Langkah kedua, evaluasi segala bentuk pengeluaran, eliminasi pengeluaran yang tidak mendesak, misalnya hobi. Pastikan bahwa jumlah pemasukan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran. Jika ternyata, jumlah pengeluaran masih relatif lebih besar dibandingkan pemasukan, maka alternatif lain yang dapat dilakukan adalah mencari penghasilan tambahan. Penghasilan tambahan ini dapat diperoleh dari aktivitas yang memberikan nilai tambah atau manfaat. Dan yang terpenting, tidak mudah tergoda dengan tawaran pembelian yang menjanjikan pembayaran dengan utang. Artinya jangan menambah utang baru lagi yang nantinya akan malah membelit kehidupan kita. Mulai taat terhadap rencana pengeluaran yang sudah direncanakan dan tertib keuangan.

Punya Utang Bayar
Melatih diri untuk lebih dapat mengelola keuangan keluarga supaya tidak besar pasak daripada tiang, dimulai dengan disiplin pada diri sendiri. Berutang tentu boleh-boleh saja, tetapi lihat kembali tujuan akhir dari utang. Jika utang memang mampu menghasilkan manfaat maka sah-sah saja kita berutang. Namun jika tidak, lebih baik berhenti. Utang bisa jadi sahabat dan bisa jadi musuh kehidupan kita, tergantung bagaimana kita memanfaatkan utang itu. Namun yang terpenting jika kita masih punya utang jangan lupa untuk melunasinya ya. Ingat….. Utang adalah kewajiban yang harus kita bayar….. Salam.

*) Dosen Program Studi Manajemen
     Fakultas Ekonomi dan Bisnis
     Unika Soegijapranata Semarang

 

https://radarsemarang.com

Kategori: ,