Unika Dan De La Salle University Gelar Kolaborasi Workshop
Selasa, 1 Mei 2018 | 11:53 WIB

Sebagai bagian dari kerja sama antar dua universitas yang telah dijalin selama beberapa tahun terakhir, Fakultas Arsitektur dan Design (FAD) Unika Soegijapranata dan De La Salle University Dasmarinas Filiphina menggelar kolaborasi workshop.

Kolaborasi antara dua universitas yang banyak memiliki kesamaan itu akan dilaksanakan selama lima hari, Senin (30/4) sampai dengan Jumat (4/5) di Gedung Henricus Constance Kampus Unika Soegijapranata Semarang.

Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan Unika Soegijapranata Benediktus Danang Setianto LLM MIL menyatakan, kegiatan ini adalah realisasi dari MoU yang telah dilakukan oleh Unika Soegijapranata dengan De La Salle University Dasmarinas Philippines.

“Tahun lalu Unika Soegijapranata mengirimkan delegasi dari Fakultas Aristektur dan Desain (FAD) ke De La Salle University Dasmarinas Philippines. Beberapa mahasiswa kami didampingi beberapa staf pengajar untuk melakukan workshop di sana,” kata pria yang akrab disapa Benny itu di Unika Soegijapranata, kemarin.

Ia berharap, kerja sama yang dijalin tidak berhenti pada workshop bersama tetapi kolaborasi-kolaborasi lainnya. Bisa riset bersama atau melakukan karya ilmiah bersama.

“Kami saat ini sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan fakultas kedokteran De La Salle University Dasmarinas, karena mereka mempunyai tradisi yang cukup kuat di bidang itu,” tuturnya.

Kolaborasi workshop ini diikuti oleh 40 mahasiswa dari Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata dan 20 mahasiswa dari De La Salle University Dasmarinas (DLUD) Philippines, yang terdiri dari 10 mahasiswa arsitektur dan 10 mahasiswa desain komunikasi visual.

Menurut Sekretaris Program Studi Design Komunikasi Visual Peter Ardhianto MSn, kolaborasi workshop ini membahas tentang “everyday design” artinya design yang digunakan untuk setiap harinya, yaitu bagaimana desain itu menjadi efektif di mata masyarakat atau justru menjadi kebohongan di mata masyarakat.

Workshop ini mengajarkan lebih kepada ‘truth analyst advertising’ yaitu kebenaran desain yang biasanya berlaku setiap hari tetapi mana yang paling efektif, seperti misalnya apabila kita makan snack, sebenarnya yang kita beli advertisingnya atau snacknya.

Disamping itu dalam workshop ini juga akan dipelajari tentang fotografi, advertising, kemasan, handmade, branding dan vlogging, atau dengan kata lain mempelajari bagaimana design yang beretika.

Demikian juga dari sisi arsitektur, “everyday design” intinya adalah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari tetapi lebih pada pengolahan material bahan bangunan. Menurut Wakil Dekan III Fakultas Arsitektur dan Design Unika Soegijapranata Christian Moniaga ST MArs, bahan bangunan itu tidak harus yang diproduksi oleh pabrik tetapi apa yang biasa dijumpai sehari-hari juga bisa juga menjadi bahan bangunan.

“Beberapa dosen kami akan menberikan materi tentang bahan bangunan yang bersifat ekologis, pemakaian kembali limbah kertas diolah kembali menjadi batu bata misalnya. Kemudian ada juga panel-panel dinding yang terbuat dari bahan-bahan yang bersifat re-use,” katanya.

Pada hari ketiga dalam acara workshop ini, para peserta akan kita kenalkan juga dengan ASF (Architecture Sans Frontieres) atau suatu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang arsitektur yang beranjak dari alam. Mereka akan mengajari peserta workshop tentang bagaimana mengolah bambu untuk diolah menjadi bahan bangunan yang siap digunakan.

https://www.suaramerdeka.com

Kategori: