Sinergi Penta Helix dalam Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi Riptek Perguruan Tinggi
Kamis, 31 Mei 2018 | 14:22 WIB

Sinergi Penta Helix dalam Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi Riptek Perguruan Tinggi

Oleh: Chatarina Yekti Prawihatmi *)

PERGURUAN Tinggi memiliki Tri Dharma yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dalam mewujudkan diri sebagai agen perubahan. Melalui dharma pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, para akademisi memiliki kesempatan untuk mengajak dan membantu masyarakat bertransformasi menuju kepada kehidupan yang lebih produktif dan lebih berkualitas. Sayangnya terkadang ketiga dharma perguruan tinggi tersebut dilakukan seolah-olah terpisah satu sama lain, tidak saling berkaitan. Akibatnya, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan tidak saling melengkapi dan tidak saling mendukung sehingga kurang dirasakan oleh masyarakat. Banyak kalangan menilai bahwa hasil riset dan pengembangan teknologi (Riptek) yang dilakukan oleh perguruan tinggi hanya tersimpan tanpa bermanfaat bagi masyarakat. Akibatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya berhenti pada publikasi ilmiah, prototype, hak paten dan sejenisnya. Seharusnya hasil riptek karya mahasiswa maupun dosen dihilirisasi dan dikomersialkan sehingga dapat lebih menyejahterakan masyarakat.

Jalan agar hasil riptek perguruan tinggi dapat dihilirisasi adalah dengan memfungsikan sinergi penta helix dengan maksimal melalui pengabdian masyarakat. Penta helix merupakan perluasan dari triple helix yang merupakan sinergi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat atau lembaga-lembaga nirlaba dalam merealisasi inovasi (Lindmark , Sturesson and Roos, 2009). Penta helix yang dimaksud di sini adalah sinergi kekuatan antara perguruan tinggi, pemerintah dan perusahaan (industri) dan masyarakat. Perguruan tinggi bertugas melakukan riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian dihilirisasi melalui pengabdian masyarakat. Perusahaan atau bisnis bertugas melakukan kapitalisasi atau komersialisasi atas hasil riptek perguruan tinggi agar memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Masyarakat menjadi pelaku dalam upaya perubahan ke arah yang lebih baik. Pemerintah memiliki tugas untuk menciptakan stimulus dan lingkungan yang kondusif untuk terwujudnya kolaborasi antara industri, perguruan tinggi dan masyarakat dalam hilirisasi hasil riptek tersebut. Melalui sinergi penta helix, perguruan tinggi mendapatkan partner untuk melakukan hilirisasi riset-risetnya. Perusahaan mendapatkan manfaat ekonomi dari mengomersialkan hasil-hasil riset perguruan tinggi dan menyediakannya bagi masyarakat. Masyarakat mendapat motivasi dan dukungan penuh untuk mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih produktif dan lebih berkualitas. Pemerintah mendapat partner baik dari perguruan tinggi maupun industri dalam mensejahterakan masyarakat.

Pada kenyataannya banyak sekali masalah mendasar yang belum dapat diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat dan membutuhkan dukungan dari perguruan tinggi dengan program-program pengabdian yang memaksimalkan sinergi penta helix. Pemerintah melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM, Dikti) telah menyediakan skim-skim pendanaan pengabdian masyarakat untuk mendorong hilirisasi hasil riptek perguruan tinggi ke masyarakat dan industri. Skim-skim pendanaan yang disediakan seperti Program Kemitraan Masyarakat, Program Pengembangan Kewirausahaan, Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah, Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus dan Program Penerapan Iptek Kepada Masyarakat adalah wadah bagi berfungsinya sinergi penta helix karena skim-skim pengabdian masyarakat tersebut melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri maupun masyarakat. Skim-skim pengabdian masyarakat tersebut diharapkan dapat mendorong sinergi penta helix dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat dan industri secara komprehensif, bermakna, tuntas dan berkelanjutan.

Hilirisasi riptek perguruan tinggi dengan mengoptimalkan sinergi penta helix melalui pengabdian masyarakat bias dilakukan mulai dari kelompok masyarakat terkecil seperti karangtaruna, dasawisma, pokdarwis, desa maupun industri dari skala mikro sampai menengah. Sinergi penta helix yang berjalan optimal akan sangat membantu masyarakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat secara umum seperti kemiskinan, kesetaraan gender dan inklusisosial, bencana alam, keamanan, kesehatan, pendidikan, energy, lingkungan, kependudukan, sosial politik dan masalah sosial lainnya; dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat ekonomi produktif seperti masalah produksi, manajemen, pemasaran dan teknologi. Beberapa kisah sukses sinergi penta helix yang bisa menjadi inspirasi misalnya pengembangan energi terbarukan di Surakarta; pengembangan teh menjadi green tea powder di Jawa Barat, pengembangan desa wisata Kandri dan masih banyak lagi. Sinergi penta helix terbukti mendorong terciptanya value added untuk hasil-hasil pertanian, wisata, manufaktur dan lainnya. Hilirisasi riptek yang berwujud inovasi-inovasi dan teknologi tepat guna atau rekayasa sosial harus sesegera mungkin diimplementasikan supaya bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi melalui pengabdian masyarakat dengan mengoptimalkan fungsi penta helix akan semakin mudah dan cepat karena menyatunya kekuatan dari perguruan tinggi, perusahaan (industri), pemerintah dan masyarakat sendiri yang melengkapi satu sama lain. Akhirnya, hilirisasi riptek melalui pengabdian masyarakat oleh perguruan tinggi dengan mengoptimalkan sinergi penta helix menjadikan riptek perguruan tinggi lebih bermakna dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat. Saatnya sekarang hasil riptek perguruan tinggi direalisasi untuk kesejahteraan masyarakat, jangan sampai perguruan tinggi dijuluki terus menerus sebagai menara gading. (*)

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

https://radarsemarang.com

Kategori: ,