Pasca Bom Bunuh Diri, Shinta Wahid: Persaudaraan yang Dirajut Gus Dur Mulai Longgar
Rabu, 30 Mei 2018 | 10:35 WIB

Pasca Bom Bunuh Diri, Shinta Wahid: Persaudaraan yang Dirajut Gus Dur Mulai Longgar

Momentum Bulan Suci Ramadan 1439 Hijriyah rupanya tak hanya disambut suka cita oleh masyarakat Muslim di seantero Indonesia. Bahkan, sekumpulan umat lintas iman yang mendiami Kota Semarang juga menyambut datangnya bulan yang penuh rahmat dengan gegap gempita.

Shinta Wahid usai menghadiri sahur bersama umat lintas agama di Unika Soegijapranata. Foto: fariz fardianto

Sebagai buktinya, sejumlah umat dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu sampai Penghayat, tepat Jumat (25/5) pukul 03.00 WIB pagi, tumplek blek mengikuti rangkaian acara sahur bersama di Pastoral Johannes Maria, Unika Soegijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur.

Kegiatan sahur bareng itu tak lain untuk menyambut kedatangan Shinta Nuriyah yang notabene merupakan istri mendiang mantan Presiden KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur.

Kehadiran Shinta, begitulah ia akrab disapa disambut meriah oleh semua umat lintas iman. Ia duduk berdampingan dengan Kepala Reksa Pastoral Unika Aloys Budi Purnomo sembari mendapat kawalan ketat dari Banser NU.

“Saya akhir-akhir ini merasa resah melihat kondisi anak bangsa yang mulai suka menebar kebohongan di media massa, menebar kata-kata menyakitkan, ujaran kebencian diantara sesama anak bangsa,” kata Shinta.

Ia mengatakan apa yang ia ucapkan itu merujuk pada tragedi bom bunuh diri yang diledakan di sejumlah daerah. Terkini, bom bunuh diri meledak di tiga gereja Surabaya dan rentetannya sampai ke Riau.

“Bahkan keji lagi ada bom bunuh diri yang diledakan dimana-mana. Ini ada apa dengan Indonesia. Padahal kita bisa hidup rukun. Tapi kenapa bisa terjadi hal ini,” ujar Shinta lagi.

Shinta menyebut tragedi semacam itu tak ubahnya mencerminkan perilaku rakyat Indonesia yang sudah kehilangan gati nurani dan kepercayaannya pada agama masing-masing. Ia bilang perilaku itu muncul akibat tergerus dengan keadaan.

“Ini semacam ikatan persaudaraan yang dibangun oleh mendiang Gus Dur mulai longgar. Benang-benang perdamaian mulai tercerabut dari akarnya. Jika ini terjadi, maka Indonesia jadi terpecah belah,” ungkapnya, seraya mengingatkan ratusan umat lintas iman yang hadir.

Atas kejadian kemanusiaan yang dialami Bangsa Indonesia, ia pun mengajak semua generasi muda untuk menyatukan sikap dan membangun kembali perdamaian. Perdamaian akan muncuk bila rasa kearifan yang ada pada tiap individu dapat diperkuat.

“Kita tumbuhkan lagi kearifan lokal demi menghadapi teror bom seperti itu. Dan juga harus menahan berita-berita yang tidak baik. Yang menjurus pada kemunafikan harus dihilangkan demi menjaga kerukunan antar umat beragama dan memajukan generasi muda Bangsa Indonesia,” tukasnya.

http://metrojateng.com

Kategori: