Pariwisata Itu Mudah
Jumat, 11 Mei 2018 | 10:29 WIB

Widyanto, SE., MM - Pariwisata Itu Mudah

Oleh : Widyanto, SE., MM

TENTU saja, saya tidak bermaksud merendahkan atau melecehkan pelaku pariwisata, Dinas Pariwisata, serta semua stake holderr yang concern dengan dunia pariwisata dengan judul di atas. Bukan. Pariwisata akan terlihat mudah kalau sudah terlihat aktivitas ekonominya alias laku produk pariwisatanya, terkenal alias ramai pengunjung.

Sebutlah pulau Bali. Di sana every day is holyday. Di Bali setiap saat sudah ada aktivitas ekonomi dari turis asing maupun wisatawan lokal. Umbul Ponggok Klaten menjadi ramai, karena ada kamera bawah air. Pengunjung bisa selfie sepuasnya dan mendapat hasil foto yang tentu saja instagramable. Di Semarang ada Kampung Warna-Warni yang lumayan ramai dan banyak di-upload di media sosial. Instagramable. Ketika objek pariwisata sudah pas dengan segmen pasarnya, maka terlihat mudah. Wisata di Gunung Merapi bekas letusan yang dikemas apik dan avonturir. Ada banyak tenaga kerja yang terserap di sana. Pemandunya sudah tahu benar sudut mana yang eye catching untuk selfie.

 

Penentuan Produk Pariwisata yang Kreatif

Saya berpendapat penentuan produk sangat penting untuk membuat pengunjung mau datang lebih dari satu kali, sehingga menjadi salah satu pilihan ketika ingin berwisata. Event Grebeg Sudiro di Kota Solo terlihat diminati pengunjung lokal dan mancanegara karena kemasan acara yang tepat. Pasar Gede Solo dihias lampion yang indah dan masih ramai, walau tahun baru Imlek dan perayaan Cap Go Meh sudah berakhir. Intinya penentuan produk wisata yang tepat. Dalam beberapa focus group discussion di beberapa pemerintah daerah (Pemda) yang saya ikuti, saya menangkap adanya kegiatan dan pengertian yang tumpang tindih dalam penentuan produk wisata terutama wisata kuliner atau oleh-oleh khas. Sebagai contoh, banyak daerah seperti mengklaim oleh-oleh kripik tempe, bakpia, singkong keju menjadi andalan mereka. Tulisan sederhana ini mencoba memberikan alternatif dalam mengelola objek wisata.

 

Konsep 3T (To See, To Do, To Buy)

Konsep ini menurut saya, tepat digunakan dalam mengelola daerah tujuan wisata. Konsep ini dikemukakan oleh salah satu peserta FGD yang membawahi bidang pariwisata daerah. Saya setuju dengan konsep beliau. Ketika wisatawan berkunjung ke pusat keramaian (baca : daerah tujuan wisata) maka mereka akan melihat-lihat (to see) semua objek wisata yang ditawarkan. Aktivitasnya antara lain foto-foto dan selfie dengan teman-teman. Bahkan beberapa café dan mall sekarang membolehkan pengunjung berselfi ria, karena itu adalah promosi gratis.

Kegiatan to see menjadi kegiatan utama dalam berpariwisata. Pasar tradisional adalah tempat yang tepat untuk kegiatan to see. Setelah to see adalah to do atau mengerjakan hal-hal yang menyenangkan seperti mengikuti event yang diadakan atau sekedar berjalan mengelilingi lokasi candi atau berlayar menggunakan perahu yang disediakan atau kalau di pasar tradisional berjalan-jalan sambil mengagumi arsistektur bangunan misalnya. Setelah puas kegiatan melihat memotret dan melakukan, maka pengunjung biasanya ingin ada oleh-oleh khas baik berupa produk kuliner atau yang lainnya. Di titik inilah biasanya banyak sekali kesamaan produk oleh-oleh khas wisata yang sama dengan daerah lain.

Desain sandal di Malioboro Jogja bisa saja hampir sama dengan di Candi Sukuh Karanganyar Solo. Sebenarnya kalau pengelola wisata dan stake holder pariwisata mampu dan jeli mencari sedikit diferensiasi atau unsur pembeda dengan oleh-oleh wisata daerah lain, maka akan lebih bagus dan lebih khas. Hal-hal inilah yang saya katakan bahwa pariwisata itu mudah kalau sudah dengan tepat menentukan produk-produk wisatanya.

Saya pikir tetap bisa, semacam meniru daerah lain, tapi tetap perlu diberi sesuatu yang khas untuk bisa dibedakan. Misal membuat desain pada kaos yang unik. Hal ini dilakukan seorang sahabat saya di lokasi wisata Candi Cetho Karanganyar Solo. Seniman sahabat saya ini membuat desain kaos tematik sesuai dengan beberapa relief candi dan dibuat terbatas saja. Desain kaos hanya dibuat dua potong untuk ukuran S, M, L dan XL. Setiap saat desain diubah dengan gaya lukisan yang indah dan bertema wisata Candi Cetho. Hasilnya kaosnya selalu laris diburu pengunjung.

 

Pariwisata yang Kekinian (Instagramable)

Tentu tidak hanya instagram saja, media sosial yang tepat untuk objek wisata. Masih banyak media sosial lain yang tetap berguna misal facebook, line, dan lainnya. Fungsi dari media sosial ini adalah untuk promosi gratis yang dilakukan oleh pengunjung wisata. Pariwisata yang akan laku tentu pariwisata yang kekinian. Apa saja syarat kekinian ini? Menurut saya produk pariwisata yang kekinian minimal ada tiga syarat. Pertama, original. Wisata yang asli apa adanya. Kalaupun dipoles adalah polesan fisik dan sarana. Umbul Ponggok Klaten adalah bentuk wisata air yang biasa. Menjadi kekinian karena ada kamera bawah air. Sekarang ada wahana Ninja Warrior yang menawarkan uji ketangkasan yang menyenangkan. Kedua, unik. Kata unik tidak harus nyaman dan mudah dijangkau. Beberapa pegiat media sosial yang meng-up load bendungan swadaya masyarakat yang dibuat untuk pengairan dan sudah menampung air yang cukup. Pegiat medsos ini kemudian memberi judul Danau Tiban saja langsung mendapat like yang cukup banyak. Sekarang bendungan ini menjadi produk wisata baru yang cukup ramai dikunjungi dan diapresiasi secara positif. Ketiga, having fun activity dan terjangkau di kantong. Orang pergi berwisata tentu ingin bergembira. Jangan sampai pengunjung kecewa apalagi marah. Apalagi mendapat pengalaman dipalak penjual di lokasi wisata. Kalau itu terjadi, mereka tetap selfie dengan berita negatif. Kalau demikian objek wisata itu menjadi buruk citranya. Konsep terjangkau di kantong tidak harus murah tetapi konsumen sekarang sudah cerdas untuk melihat cost benefit sebuah produk. Jadi buatlah produk oleh-oleh yang pas di kantong. Dengan melihat paparan sederhana di atas semoga akan makin banyak muncul objek wisata yang baru yang having fun untuk berwisata. Rahayu.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang

 

https://radarsemarang.com

Kategori: ,