Berbagi Kisah Inspiratif dari Para Pioneer Muda
Senin, 28 Mei 2018 | 13:50 WIB

Unika Soegijapranata baru saja kembali mengadakan Optional Training yang diselenggarakan melalui para panitia ATGW (Arising The Gratefull Winner) bertempat di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas lantai 3 pada hari Jumat (25/5). Dalam Optional Training  tahun ini, bertemakan “A Pioneer Creates to Inspire, Unika menghadirkan beberapa narasumber antara lain penyayi Yura Yunita, Yasa Singgih yang menjabat sebagai pendiri Men’s Republic, dan dosen Psikologi Unika CVR Abimanyu, S,PSi., M.Psi,.

Diawali dengan membawakan lagu Intuisi hasil ciptaannya sendiri, Yura pun mantap untuk mulai membagikan cerita inspiratifnya. Sejatinya, darah dalam dunia musik telah mengalir kental dari keluarganya. Yura pun mengungkapkan bahwa ia memang terlahir dari keluarga seni yang dimulai dari kakeknya yang berprofesi sebagai pemain biola dan dapat memproduksi biolanya sendiri. Bahkan tradisi cukup unik juga berlaku di keluarga besar Yura dimana saat hari raya berkumpul bersama keluarga besar masing-masing anggota keluarga wajib menampilkan adegan seni baik itu menyanyi, bermain musik, hingga membaca puisi di depan semua keluarga besar dan sebagai hadiahnya pertunjukkan yang terbaik akan mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya) yang paling besar. Untuk itu, sejak kecil, Yura memang telah dilatih memiliki keberanian untuk unjuk kemampuan dan berekspresi di depan umum.

“Sebelum Intuisi, lagu pertama yang saya ciptakan adalah Berawal dari Tatap, dimana kisahnya bermula saat saya SMA, saya sedang mengagumi seorang lelaki dan rasa sayang tersebut saya ungkapkan lewat kisah di buku diary semasa SMA. Saya pun juga tidak menyangka waktu penciptaan album pertama, segala rangkaian puisi yang saya tulis sewaktu masa SMA akhirnya dapat menjadi sebuah lagu yang cukup disukai masyarakat,” tutur Yura.

Namun, dibalik karya-karya yang telah dibuat Yura ternyata juga terselip beberapa kisah yang cukup menggambarkan jatuh-bangun karier seorang Yura Yunita.

Semasa SMA, Yura telah menciptakan lagu untuk banyak band namun apa daya, Yura sendiri ditolak menjadi vokalis band dikarenakan tingginya yang hanya mencapai 155 cm kala itu. Bagi Yura, penolakan itu cukup terasa aneh dan diskriminatif karena baginya, seorang musisi dilihat dari karya yang telah dihasilkan bukan dari ciri-ciri tubuh seseorang. Selain itu, dalam membangun kariernya di belantara musik Indonesia secara independen, Yura juga cukup menemukan berbagai rintangan dan belajar banyak dari pengalaman yang ada. Ia pun menceritakan salah satunya mengenai hak-hak yang dapat diperoleh seorang musisi, salah satunya royalti dan tentunya dalam mempelajari hal ini, ia juga sering bertukar pikiran dengan beberapa musisi senior.

Pilih Bidang Ilmu yang Disukai

Cerita berbeda diungkapkan oleh Yasa Singgih, owner Men’s Republic. Dirinya mengakui bahwa hidupnya semasa kecil hampir sama dengan kebanyakan anak lainnya. Ia pun mengungkapkan semasa TK hingga SD, ia merasa dirinya mudah mendapatkan prestasi ranking satu di kelas bahkan ia mengakui bahwa orangtuanya jarang membayar SPP karena prestasi beasiswa yang ia peroleh semasa kecil.

“Namun suatu hari setelah pengambilan rapor SD saat itu saya menjadi juara satu di kelas, ayah saya berkata bahwa ia tidak pernah mewajibkan saya menjadi juara satu di kelas bahkan nilai 6 dan 7 sudah cukup bagi dia bahkan saya tidak naik kelaspun tidak akan membuat dirinya marah katanya.  Ayah saya pun menitipkan pesan bahwa yang penting dari lingkungan sekolah adalah bergaul, punya banyak teman, etika, dan jadi orang yang bisa dipercaya.  Akhirnya, setelah mendengar perkataan ayah saya, saya pun beranggapan bahwa sekolah tidak begitu penting. Setelah itu, semasa SMP hingga SMA saya pun memiliki prestasi yang biasa saja sampai sewaktu SMA setiap kali kenaikan kelas, saya sering dipanggil oleh guru BK saya. Ia pun mengungkapkan apabila saya naik kelas merupakan mukjizat dari Tuhan. Sewaktu SMP hingga SMA, prestasi saya tidak terlalu bagus karena saya hanya mempelajari apa yang saya suka. Namun, sewaktu kuliah saya langsung mengambil bidang yang saya suka, Public Relationship,”  ujar Yasa.

Sembari kuliah Yasa juga memulai bisnis dan dari bisnis inilah namanya mulai dikenal dan membawanya memperoleh berbagai penghargaan hingga akhirnya ia diganjar beasiswa dari kampusnya sehingga Yasa dapat meneruskan pendidikan magisternya sebelum ia lulus sarjana. (Cal)

Kategori: ,