Aroma, Bagian Bangunan yang Kerap Terlupakan
Senin, 28 Mei 2018 | 8:53 WIB
image
Oleh Christian Moniaga

SUDAH sangat sering kita jumpai di berbagai media kajian tentang desain arsitektur dan desain interior yang membahas tentang bentuk bangunan, warna, ruang, dan tekstur sedangkan aroma sangat jarang ditemukan.

Sayangnya perkembangan desain kontemporer bangunan kurang memperhatikan aspek aroma yang pada dasarnya bisa menjadi indikator tentang jumlah polutan yang ada di sekitar bangunan. Sebuah desain yang komprehensif semestinya juga memperhatikan aroma sebagai pertimbangan desain.

Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, dalam hidupnya mengandalkan kelima indera yang dimilikinya. Kelima indera tersebut sangat erat kaitannya dengan desain bangunan. Sebuah desain bangunan yang layak digunakan sebagai sebuah wadah kehidupan semestinya harus mendukung kelima indera manusia tersebut.

Hal ini dimaksudkan supaya bangunan tersebut dapat menyandang predikat sebagai sebuah pernaungan yang baik bagi kehidupan. Dalam perkembangan desain rancang bangun atau desain arsitektural, perhatian terhadap eksistensi kelima indera manusia ini nampaknya tidak seimbang.

Berpijak dari ilmu arsitektur yang lebih menekankan kekuatan visual, maka penilaian terhadap karya arsitektur tidak jauh dari sebuah pandangan. Lantas bagaimanakah dengan keempat indera yang lain? Apakah sebuah karya desain arsitektur tidak perlu memperhatikan aspek-aspek penilaian dari indera peraba, pendengaran, pengecap, serta penciuman?

Juhani Pallasmaa dalam bukunya The Eyes of The Skin mengungkapkan bagaimana peranan dan pentingnya kelima indera yang dimiliki manusia dalam membangun sebuah paradigma tentang karya arsitektur. Sensor jamak yang dimiliki manusia seyogyanya dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menciptakan desain rancang bangun yang lebih mendukung keberlanjutan peradaban manusia.

Dalam bahasan tentang rancangan arsitektur sering kali kita mendengar istilah-istilah yang mengkaitkan antara kaidah-kaidah arsitektural yang tujuannya untuk mengoptimalkan sistem kerja panca indera manusia dengan fisik bangunan itu sendiri.

Pencahayaan misalnya, kaidah ini bertujuan untuk mengoptimalkan indera penglihatan manusia supaya dapat membantu aktivitas manusia dengan baik.

Selanjutnya terdapat juga kajian tentang kebisingan. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan sistem tata suara di dalam bangunan supaya indera pendengaran manusia dapat bekerja secara optimal.

James Lovelock seorang ilmuan yang mengungkapkan hipotesa Gaia mengatakan bahwa semua komponen yang ada di bumi akan saling menyatu untuk membentuk sebuah interaksi yang akan menjaga stabilitas dan keseimbangan keadaan bumi.

Hipotesa Gaia memandang bahwa bumi adalah sebuah organisme tunggal yang memiliki kehidupan. Dalam hipotesa GAIA, terdapat 3 elemen penting yang perlu diperhatikan untuk mencapai sebuah desain arsitektur yang baik bagi kehidupan. Ketiga elemen tersebut antara lain kesehatan jasmani, jiwa dan alam.

Perpaduan antara ketiga elemen tersebut bertujuan supaya setiap desain bangunan yang dibuat mampu menghadirkan nilai prioritas kehidupan dalam arsitektur yakni Hunian yang mampu dijadikan sebagai ruang harmoni dan penyembuhan bagi fisik dan jiwa penggunanya.

Sejalan dengan pola pikir hipotesa GAIA, salah satu cara untuk mendukung terciptanya harmoni kehidupan di dalam bangunan adalah dengan menguatkan kembali unsur aroma di dalam bangunan. Aroma atau scent dalam Bahasa inggris merupakan salah satu kajian yang semestinya juga diperhatikan di dalam ilmu arsitektur.

Aroma sangat berkorelasi dengan indra penciuman yang merupakan indra tertajam yang dimiliki oleh manusia. Pengolahan desain bangunan yang mampu memperhatikan unsur aroma baik di dalam maupun di luar ruangan akan mendukung keharmonisan hubungan antara bangunan dengan penggunannya.

Tubuh manusia sangat cepat dalam merespon keadaan sekitar melalui indra penciuman. Reaksi alami yang sering dijumpai ketika mencium aroma tidak sedap yang datang dari berbagai sumber adalah dengan mengkerutkan dahi atau menutup hidung dengan tangan.

Lantas bagaimana menjawab pertanyaan tentang desain yang memperhatikan aroma sebagai salah satu elemen bangunan yang perlu dikaji? Untuk menghindari bau tidak sedap di dalam bangunan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang memiliki aroma alami langkah pertama adalah dengan menghilangkan racun di dalam bangunan.

Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain menghilangkan semua sumber bau yang tidak sedap; ganti dengan barang-barang yang terbuat dari material alam seperti furnitur, penutup lantai, dan gunakan cat yang tidak berbau serta terbuat dari bahan-bahan alami.

Bahan serta material alami akan memberikan aroma yang baik bagi pengguna ruang. Langkah lain yang bisa diterapkan adalah dengan menjaga kebersihan seluruh ruangan dan lemari. Gunakan material pembersih ruang yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti sabun rempah dan sebagainya.

Langkah selanjutnya untuk mendukung kebaikan aroma dalam ruang adalah dengan memberikan penghawaan alami yang cukup. Ruangan-ruangan yang sering digunakan beraktivitas harus mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Ruang tidur, kamar mandi, dapur, toilet adalah ruang-ruang yang rawan dengan bau tidak sedap.

Mempengaruhi Otak

Pendekatan lain yang bisa dilakukan untuk menghadirkan aroma yang baik di sekitar bangunan adalah dengan mengaplikasikan aroma terapi. Pertama kali diciptakan oleh bangsa Cina dan India. Aroma terapi yang baik berasal dari ekstrak bunga, daun, akar, biji-bijian alami dan bukan sintetis.

Walaupun secara ilmu pengetahuan belum terbuktikan, peran aroma terapi di dalam bangunan dapat membuat keharmonisan ruang semakin tercipta, mempengaruhi otak manusia dan membuat rileks, nyaman, serta mengontrol emosi bagi siapa saja yang menghirupnya.

Selain aroma terapi, pengharum ruangan alami berupa bunga dan tanaman juga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menghadirkan aroma ruangan yang mendukung kenyamanan pengguna ruang. Sejak jaman peradaban Yunani dan Romawi kuno ramuan bahan-bahan alami menjadi cara untuk menghadirkan aroma yang baik di sekitar bangunan.

Dengan meletakan dan menumbuhkan tanaman, bunga di sekitar bukaan jendela, pintu, dan taman yang dekat dengan ruang guna, meletakkan kayu aromatik seperti kayu pohon cemara, dan cendana merupakan cara-cara yang bisa dilakukan untuk mendukung terciptanya aroma yang sedap bagi harmonisasi jiwa, fisik, dan alam lingkungan sekitar.

Lavender dalam pot klasik Sebagai usaha untuk menghadirkan aroma yang baik dalam ruangan sekaligus memberikan sentuhan elemen desain yang mempercantik interior ruangan. Dewasa ini sebagai upaya untuk menghadirkan aroma yang baik di dalam ruang, manusia sangat sering bertumpu pada bahan-bahan kimiawi.

Tanpa disadari, penggunaan bahan kimiawi ini merupakan sebuah langkah pengkhianatan terhadap alam. Kembali lagi apabila kita melihat hipotesa Gaia, sejatinya antara bangunan dengan alam dan penggunanya memiliki hubungan yang harmonis. Tidak ada unsur kimiawi yang menjadi kajian di dalam hipotesa tersebut.

Bahan-bahan alami yang beraroma baik dan fungsinya dalam mengatur psikologis manusia Setiap material alam yang mendukung terciptanya aroma yang baik di sekitar bangunan memiliki karakteristik, kegunaan, serta fungsinya masing-masing.

Alam sebagai organisme tunggal yang memiliki kehidupan sudah memiliki tujuan untuk dapat mendukung terciptanya keselarasan hidup bagi makhluk yang bernaung di dalamnya. Lantas bagaimanakah sikap kita sebagai makhluk yang paling mulia menanggapi tawaran alam ini? Jawabannya kembali ke pribadi kita masing-masing. (53)

— Christian Moniaga, ST., M. Ars., IAI I Praktisi & Dosen Program Studi Arsitektur I Fakultas Arsitektur dan Desain I Universitas Katolik Soegijapranata Semarang I christianmoniaga@unika.ac.id

 

Suara Merdeka 27 Mei 2018, hal. 14, https://www.suaramerdeka.com

 

SM 27_05_2018 Aroma, Bagian Bangunan yang Kerap Terlupakan

Kategori: , ,