Andai Mangunwijaya Masih berarsitektur
Senin, 7 Mei 2018 | 8:10 WIB
SM 6_05_2018 Andai Mangunwijaya masih berarsitektur
Oleh Robert Rianto Widjaja

Pada 6 Mei 1929 Mangunwijaya lahir di Ambarawa, dari pasangan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdaniyah. Berandai beliau masih hidup, usianya saat ini sudah 89 tahun.

Namun kenyataannya beliau sudah lebih dahulu pergi menghadap Sang Pencipta 19 tahun yang lalu (10 Februari 1999) dalam usia hampir 70 tahun.

Sejak beliau wafat, pembicaraan tentang sosok Mangunwijaya sangat karena beliau adalah seorang tokoh multitalenta yang menonjol pada jamannya, sebagai seorang rohaniwan, budayawan, sastrawan dan termasuk sebagai seorang arsitek.

Mangunwijaya sangat dekat dengan rakyat kecil, dekat pula dengan para koleganya dari berbagai agama dan lapisan masyarakat, mereka memanggilnya Romo Mangun.

Konsep pemikiran arsitektur Romo Mangun seperti sering dinyatakannya sendiri dalam berbagai tulisannya, adalah kebenaran dan keindahan dalam relasi seperti diungkap oleh Thomas Aquinas lebih dari setengah abad yang lalu: pulchrum splendor est veritatis (keindahan adalah pancaran kebenaran). Kebenaran dalam arsitektur dapat dilihat dalam dua hal, yaitu fisik (wadah, bentuk) dan non fisik (fungsi, makna).

Menelusuri kebenaran yang non fisik tentulah lebih sulit daripada menelusuri yang fisik. Tanpa mengurangi rasa hormat pada hal-hal yang non fisik ini, perlu tetap dimegerti bahwa arsitektur adalah obyek terlihat, kasat mata, dapat diamati dan diraba (tacktile), paling tidak kebenaran akan faktor fisik ini perlu dipertanggungjawabkan setiap kali karya arsitektur dibuat.

Jangan sampai sebuah karya berumur pendek hanya karena logika gayanya tidak selaras hukum alam, material salah penempatannya ataupun hal-hal lain yang menyimpang dari kebenaran yang semestinya.

Apabila sebuah karya arsitektur mengikuti hukum alam secara benar dan menemukan titik seimbang, tidak lebih dan juga tidak kurang (appropriate), maka paling tidak itulah indikator kebenarannya.

Bagaimana dengan keindahan? Keindahan akan mengikuti kemana kebenaran itu ada, karena pada kebenaran ada keteraturan, ada kewajaran. Seorang penari tidak akan menampilkan keindahan tariannya tanpa benar gerakannya, seorang penyanyi melantunkan suara emas karena benar teknik bersuara dan bernyanyinya.

Arsitektur pun demikian, menjadi indah karena ada kebenaran teknik dan non teknik yang ada di dalamnya. Wujud fisik dari kebenaran teknik yang memancarkan keindahan tersebut, sering disebut sebagai tektonika (tectonics).

Detail

Romo Mangun sangat konsisten dalam memegang prinsip kebenaran ini (tectonics). Hampir semua karya-karyanya, baik yang kecil maupun besar dinafasi oleh semangat ini. Susunan dinding batu bata, batu kali, konstruksi kayu dan detail dibuat dengan sangat cermat dan benar. Hal menarik yang selalu dilakukan Mangunwijaya dan sering dilupakan oleh arsitek modern adalah masalah konteks, terutama pengolahan bahan (material).

Ia cenderung sangat customized dalam mendesain rancangannya, hampir tidak tertarik pada material fabrikasi kecuali material tersebut sangat cocok dengan karakter yang diharapkannya. Bentuk racangannya pun tidak didikte oleh kemudahan konstruksi, namun selalu menciptakan tantangan dalam konstruksi.

Tapi itu semua dilakukannya dengan logika yang benar dan apppropriate. Bahkan ia menambahkan nilai tambah berupa detail pada setiap titik konstruksi yang berpotensi untuk diberi sentuhan seni. Tentunya penambahan detail ini bukanlah tanpa maksud. Detail adalah dinamika bagi konstruksi, melalui detail apresiasi terhadap konstruksi diperkaya.

Mies Van der Rohe, arsitek terkenal asal Jerman, mengatakan : “God is in the detailÖ”, sedemikian pentingnya detail bagi arsitektur (yang terlihat). Detail bagi Romo Mangun ibarat cat pada kanvas. Dikomposisikannya detail menjadi mozaik pada konstruksi dan elemen-elemen bangunan. Hampir seluruh bagian tak luput dari perhatiannya. Detail ibarat pintu masuk visual bagi pengamat untuk mulai menyelami karya-karyanya lebih dalam.

Melalui tekstur, ornamen, warna dan pengkayaan keindahan konstruksi ia bermain untuk mengangkat martabat karyanya pada apresiasi yang tidak hanya fisik belaka tetapi menembus batas menuju yang maknawi (trasendensi). Pada akhirnya, akumulasi cara pandangnya yang multidisiplin dan keberpihakannya pada kaum lemah, secara tidak langsung mempengaruhi pula representasi karya-karyanya.

Keinginannya berbagi karya kepada yang lain telah menjadikan karyanya milik bersama (kolektif), ketika praksis yang diinstruksikannya dilakukan oleh para tukang lokal dan masyarakat sekitar. Ia mengembangkan ketrampilan lokal (craftmanship) yang hasilnya ditampilkan apa adanya dalam karya-karyanya. (53)

Robert Rianto Widjaja | Staf Pengajar Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata, Wakil Ketua Bidang Sinfar IAI Jateng

Suara Merdeka 6 Mei 2018 hal. 14, https://www.suaramerdeka.com

Kategori: , ,