Teknologi Tanpa Hati sama dengan Mati
Rabu, 25 April 2018 | 12:33 WIB

JWP 25_04_2018 Teknologi Tanpa Hati sama dengan Mati

Oleh: Ch Trihardjanti N *)

TEKNOLOGI berkembang begitu pesat, peralatan komunikasi, dari waktu ke waktu berubah lebih bagus, lebih canggih, tiada hari tanpa teknologi. Teknologi membuat jarak jauh serasa dekat, sesuatu yang sulit menjadi mudah, sesuatu yang ribet menjadi praktis, dan banyak keuntungan lainnya dari aplikasi teknologi.

Teknologi adalah hasil ciptaan manusia, namun dalam perjalanan waktu, teknologi sudah banyak menggeser peran manusia dalam organisasi. Banyak pekerjaan administrasi digantikan mesin (hasil teknologi) seperti kasir, staf keuangan, tenaga penjualan dan banyak pekerjaan yang semula dikerjakan oleh manusia digantikan oleh teknologi. Semua dilakukan secara sistem. Hanya perlu investasi lebih mahal sedikit namun aplikasinya mampu menggeser ratusan, bahkan ribuan tenaga kerja manusia.

Dalam jangka panjang semua hal akan dilakukan oleh hasil teknologi bukan oleh pencipta teknologi. Sangat ironis, hasil ciptaan manusia dan akhirnya menggeser peran manusia. Teknologi yang diterapkan tanpa adanya hati dalam jangka panjang akan membuat manusia mati karena ciptaannya sendiri. Pemutusan hubungan kerja di banyak organisasi menunjukkan berapa banyaknya manusia yang sudah mati karena teknologi, organisasi tutup karena kalah bersaing dengan aplikasi teknologi. Teknologi membuat semuanya mudah karena tanpa meninggalkan tempat, kehilangan sedikit waktu dan biaya, manusia dapat tetap berkomunikasi, namun kadang melupakan bahwa komunikasi juga butuh interaksi yang menggunakan hati.

Tren saat ini orang lebih suka menggunakan aplikasi teknologi di androidnya untuk menyapa dan bertanya dibandingkan langsung berinteraksi. Alasannya karena jarak dan waktu. Teknologi seharusnya membuat komunikasi menjadi lebih dekat, tidak saja dekat jaraknya namun harus tetap dekat di hati.

Teknologi seharusnya diterapkan dengan tetap menekankan empati, karena disadari atau tidak, teknologi dibuat karena sebuah empati, "keinginan untuk membantu orang lain”.

Teknologi tidak seharusnya membuat organisasi lupa diri, bahwa manusialah sumber dari segala sumber ide kreatifitas organisasi. Teknologi adalah alat dibuat untuk mendukung kegiatan manusia bukan mengatur seluruh aktifitas manusia. Teknologi adalah hasil kreatifitas otak manusia dan harusnya menjadi fasilitas bukan penguasa. Pola pikir bahwa teknologi mampu menyelesaikan semua masalah manusia nampaknya tidak tepat karena manusia adalah mahluk sosial, kebutuhan berinteraksi, disapa, menyapa adalah kebutuhan yang selalu diharapkan manusia karena hakekatnya manusia selalu ingin dihargai.

Kebutuhan penghargaan tidak dapat diperoleh tanpa ada interaksi karena penghargaan butuh pengakuan dan pengakuan butuh interaksi. Oleh karena itu, penerapan teknologi tanpa empati akan membuat manusia mati, mati karena teknologi, mati karena ciptaannya sendiri. Manusia harus dididik untuk menghasilkan karya teknologi yang tetap mempertimbangkan empati. Pendidikan memiliki peran penting bagaimana menciptakan manusia-manusia masa depan yang sangat bijak (wisdom) dalam menggunakan teknologi. Pendidikan harus mampu memberikan mindset bahwa manusialah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan memiliki potensi yang lebih unggul daripada teknologi.

Oleh karena itu, pendidikan seharusnya mampu menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, tekun, pantang menyerah, memiliki semangat dan komitmen yang tinggi dalam mencapai keberhasilan, dan memiliki semangat bahwa hasil karya haruslah memberikan manfaat dan tidak mematikan manusia lainnya. Teknologi haruslah menjadi sahabat manusia bukan musuh manusia.

Maka pendidikan seharusnya mendidik secara utuh. Utuh artinya pendidikan tidak boleh hanya mengedepankan peningkatan prestasi dalam pengetahuan dan keterampilan saja, namun juga harus menekankan pentingnya sikap atau pendidikan karakter.

Penghargaan, pengakuan hanya pada aspek pengetahuan dan keterampilan dapat mendorong siswa untuk berkompetisi dan kadangkala dicapai dengan cara yang tidak benar dan dengan anggapan bahwa "aku harus mampu mengalahkan lawanku apapun caranya, yang penting jadi juara”. Hebat dalam pengetahuan dan keterampilan namun tidak memiliki kepedulian dengan lainnya. Ketika menghasilkan teknologi juga akan berpikir bahwa yang penting saya hebat, tidak peduli bagaimana dampak negatifnya.

Pendidikan saat ini harus mampu menghasilkan generasi masa depan yang memiliki kecerdasan intelegensi (Intelengence Quotient) yang tinggi plus kecerdasan hati (Love Quotient); Kecerdasan hati akan membuat para generasi muda hebat dalam hasil karya namun tetap mempertimbangkan dampak bagi orang lain. Menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang banyak dan meminimalkan dampak negatif bagi orang lain. Pencipta teknologi, tapi tetap berempati. Semangat…. dan terus diperjuangkan. Maju Generasi Muda Indonesia.

————–

*) Ch Trihardjanti N, Dosen Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata

 

►Jawa Pos 25 April 2018 hal. 3

Kategori: ,