PEDULI DENGAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH
Selasa, 24 April 2018 | 14:30 WIB

Lindu Palilih, lahir pada tanggal 26 November 1980. Lindu, merupakan salah satu lulusan wisudawan terbaik tahun 2018, pada program S2 Magister Arsitektur Unika Soegijapranata Semarang. Sebelumnya, ia juga menempuh pendidikan di S1 pada kampus dan jurusan yang sama, karena menurutnya Unika Soegijapranata merupakan kampus yang modern dan lebih unggul terkait visi dan misinya. “Unika itu modern ya, denger-denger Unika juga masuk 10  PTS se-Jawa Tengah, jadi lebih unggul dong” kata Lindu, saat ditemui Kronik.

Begitu Lindu lulus S1 dari Unika, ia langsung mendapatkan pekerjaan yang telah dicita-citakannya, menjadi Arsitektur. Ia bekerja sebagai Aristek di kota Jakarta sampai sekarang. Lalu kenapa ia memilih S2, padahal ia sudah bekerja? Alasan dia untuk mengambil S2 Magister Arsitektur di Unika adalah agar  memperoleh ilmu yang lebih dalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan bangunan Arsitektur yang perlu di pelajari. Selain itu Lindu juga mendapatkan inspirasi dari ilmu Arsitek di bangku kuliah untuk mendukung masyarakat berpenghasilan rendah atau kurang mampu untuk memiliki rumah dan membuat perubahan rumah bersubsidi menjadi rumah yang sehat dan layak untuk dihuni.

Menuliskan tesis dengan judul “PERUBAHAN  RUMAH BERSUBSIDI TIPE 27 LAYAK HUNI  DI KABUPATEN KENDAL” merupakan alasan ia peduli terhadap masyarakat yang kurang mampu. “ yang saya teliti dari tesis tersebut itu tentang rumah subsidi untuk kalangan masyarakat yang kurang mampu” kata pria yang hobi membaca buku tersebut. Rumah subsidi yang di teliti Lindu merupakan rumah yang bertype 27 ini dikhususkan untuk kalangan masyarakat masyarakat berpenghasilan rendah, maka harapan Lindu rumah type 27 ini, meskipun rumah kecil tapi jika dirubah atau dikembangkan dengan perencanaan yang baik maka dapat menjadi rumah yang layak huni dan sehat bagi penghuninya.

Dengan adanya penelitian tersebut, tesis ini juga tak luput dari kendala yang harus dihadapi Lindu saat mengerjakannya, waktu, merupakan masalah terbesarnya karena ia sambil bekerja dan mengerjakan tesisnya. “ Ya jadi kadang harus bisa bagi waktu, antara kerja sambil ngerjakan tesis, selain itu revisian yang bikin stess, ya wajarlah yang dilakukan oleh setiap mahasiswa, jadi jangan heran ya” kata Lindu sambil tertawa. Meskipun punya beberapa kendala yang berat, Lindu yang mempunyai moto MAJU TERUS PANTANG MUNDUR DAN YAKIN ALLAH PASTI MEMBERIKAN JALAN YANG TERBAIK, saat ia mengalami down, ia teringat pada kata-kata tersebut lalu dengan kesungguhan dan ketekunannya tak lama ia kembali bangkit dan bersemangat untuk menghadapi tantangan yang ada.

Tak lupa dengan almameternya ia juga berharap Unika bisa lebih unggul dari universitas lain khususnya di Jawa Tengah dan Indononesia pada umumnya, dan Unika Soegijapranata harus lebih Modern baik fasilitas kampusnya, dosennya begitu juga dengan mahasiswanya, karena dunia kerja sedang membutuhkan itu. “Alhamdulillah senang terus… karena dosen dan teman-temannya OKE semua….hehehe” tutup Lindu yang mempunyai IPK 3,89. (Adr)

Kategori: ,