Kolaborasi Workshop FAD Unika dengan De La Salle University Dasmarinas Philippines
Senin, 30 April 2018 | 15:09 WIB

Sebuah kolaborasi workshop yang dilakukan bersama-sama antara Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata dengan De La Salle University Dasmarinas Philippines,  akan dilaksanakan selama lima hari, mulai hari ini Senin (30/4) sampai dengan Jumat (4/5)  bertempat di gedung Henricus Constance, kampus Unika Soegijapranata.

Dalam sesi pembukaan workshop, Benny Danang Setianto, SH., LLM., MIL selaku Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Pengembangan Unika Soegijapranata, mengungkapkan realisasi MoU yang telah dilakukan oleh Unika Soegijapranata dengan  De La Salle University Dasmarinas Philippines, mulai sejak tahun 2012. “ Tahun lalu Unika Soegijapranata mengirimkan delegasi dari Fakultas Aristektur dan Desain (FAD) ke De La Salle University Dasmarinas Philippines. Kita kirim beberapa mahasiswa dengan didampingi beberapa staf pengajar untuk melakukan workshop di sana. Dan ini adalah kunjungan balasan. Ke depannya tidak hanya berhenti pada kegiatan seperti ini saja, tapi siapa tahu bisa berkolaborasi lebih detail lagi berupa riset bersama. Ini hanya merupakan upaya-upaya untuk melakukan penjajagan-penjajagan sejauh mana kita bisa melakukan hubungan dengan mereka. Secara khusus memang kita lebih tua usianya, terutama fakultas FAD Unika bila dibandingkan dengan Dasmarinas Philippines, karena Dasmarinas baru sekitar 15 tahun lalu berdiri. Tetapi di sisi lain kampus De La Salle University Dasmarinas ini secara arsitektural menarik, menariknya karena mereka langsung mendesain dari nol, dan gaya desainnya memang sudah sejak awal dipersiapkan; lokasinya agak jauh dari manila, masih bisa ditempuh jalan darat karena masih di pulau yang sama, situasinya sendiri Dasmarinas agak terpencil dari ibukotanya (jika diibaratkan Unika, kurang lebih satu jam dari Jakarta apabila naik pesawat), lokasi Unika juga lebih hilly (daerah perbukitan) dan mereka juga begitu,” jelas Benny.

“Sehingga karena kesamaan-kesamaan ini, apabila arsitekturnya berkolaborasi itu bisa menarik. Disini pun mereka tidak hanya mengikuti workshop tetapi juga akan mengunjungi beberapa destinasi arsitektur di Semarang maupun Jawa Tengah, itu menjadi hal yang tidak terpisahkan dari sebuah workhop ketika dua universitas melakukan kolaborasinya.”

“Yang sedang kita pikirkan saat ini adalah kemungkinan untuk bisa melaksanakan MoU dengan Faculty of Medicine (Fakultas Kedokteran) De La Salle University Dasmarinas , karena Dasmarinas memang cukup kuat, artinya tidak hanya punya tetapi juga cukup kuat bidang ilmu kedokterannya sebab memang secara tradisional mereka berangkat dari unsur kesehatan yaitu perawat-perawat dari Philippines yang sudah terkenal kemampuannya. Dan mereka mempunyai rumah sakit juga, dari situ kita punya harapan juga untuk belajar dari mereka,” ujar Benny.

Bertema “Everyday Design”

“Dalam acara kolaborasi workshop yang kita adakan ini diikuti oleh para mahasiswa dari dua universitas yaitu dari Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika sebanyak 40 mahasiswa sedangkan dari  De La Salle University Dasmarinas (DLUD) Philippines ada sekitar 20 mahasiswa yang terdiri dari 10 mahasiswa arsitektur dan 10 mahasiswa desain komunikasi visual. Sedangkan pemateri workshop adalah juga dari masing-masing universitas.” Jelas Peter Ardhianto, S.Sn., Msn yang saat ini masih menjabat sebagai Sekretaris Prodi Desain Komunikasi Visual.

“Kolaborasi workshop ini akan membahas tentang “everyday design” artinya design yang digunakan untuk setiap harinya, yaitu bagaimana desain itu menjadi efektif di mata masyarakat atau justru menjadi kebohongan di mata masyarakat. Workshop ini mengajarkan lebih kepada ‘truth analyst advertising’ yaitu kebenaran dan kebohongan desain yang biasanya berlaku setiap hari tetapi mana yang paling efektif, seperti misalnya apabila kita makan snack, sebenarnya yang kita beli advertisingnya atau snacknya. Disamping itu dalam workshop ini juga akan dipelajari tentang fotografi, advertising, kemasan, handmade, branding dan vlogging, atau dengan kata lain mempelajari bagaimana design yang beretika,” ungkap Peter.

“Dari Arsitektur juga sama, intinya adalah ‘everyday design’ atau yang sering kita temui sehari-hari, tetapi kita lebih ke pengolahan material bahan bangunan. Bahan bangunan itu tidak harus yang diproduksi oleh pabrik, tetapi apa yang kita jumpai sehari-hari itu bisa juga menjadi bahan bangunan. Beberapa dari dosen kami akan menberikan materi tentang bahan bangunan yang bersifat ekologis, seperti : pemakaian kembali limbah kertas diolah kembali menjadi batu bata. Kemudian ada juga panel-panel dinding yang terbuat dari bahan-bahan yang bersifat ‘reuse’  atau digunakan kembali dari kertas dan dari tapioka. Di hari ketiga dalam acara workshop ini, para peserta akan kita kenalkan juga dengan ASF (Architecture Sans Frontieres) atau suatu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang arsitektur yang beranjak dari alam. Mereka akan mengajari peserta workshop tentang bagaimana mengolah bambu untuk diolah menjadi bahan bangunan yang siap digunakan,” terang Christian Moniaga, ST., M.Ars. selaku Wakil Dekan III FAD Unika Soegijapranata yang turut dalam kegiatan kolaborasi workshop ini. (fas)

Kategori: ,